Sambut Hari Batik Nasional, Sultan Sepuh Ungkap Rasa Keprihatinan

Seni & Budaya

Rabu, 2 Oktober 2019 | 08:33 WIB

191002083544-sambu.jpg

MENYAMBUT hari batik nasional, Keraton Kasepuhan Cirebon, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadingrat justru merasa prihatin. Tahun ini merupakan tahun ke-10 batik Indonesia sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity atau Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Benda oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009.

Melalui siaran persnya yang diterima Rabu (2/10/2019), Sultan Sepuh XIV mengungkapkan rasa prihatinnya, karena generasi penerus pembatik di Cirebon semakin berkurang, sehingga terpaksa mendatangkan para pembatik dari Pekalongan, Jawa Tengah.

"Perlu ada kaderisasi regenerasi pembatik," ungkap Sultan yang juga Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nusantara ini, Rabu.

Rasa prihatin lainnya, kata Sultan, dengan banyaknya textile motif batik yang membanjiri toko-toko dengan harga yang sangat murah sehingga batik tulis mulai tersaingi. Selain itu terang Sultan, Cirebon sebagai pusat batik harus mempertahankan dan melestarikan batik-batik klasik dan khas Cirebon.

"Keraton-keraton senusantara sebagai pusat wastra tradisional menjadi bagian penting peradaban kain di Indonesia yang perlu dilindungi," tambahnya.

Pada kesempatan itu, Sultan Sepuh pun menyebutkan, untuk menjaga kelestarian batik klasik Cirebon, pihak Keraton Kasepuhan terus melakukan pembinaan terhadap masyarakat sekitar keraton, khususnya masyarakat Magersari.

"Kami terus melakukan pembinaan pada masyarakat di sekitar keraton Kasepuhan dan sudah berjalan tiga tahun lalu. Alhamdulillah sudah menghasilkan batik-batik yang cukup bagus dan bisa mengikuti pameran di Cirebon maupun Jakarta," terangnya.

Sedangkan motif klasik Cirebon antara lain : kangkungan, singa barong, wadasan, patran keris, patran payung, patran kangkung, sunyaragen, sawat penganten, dalungan, teratai dan banyak lagi.

Sultan pun menyebutkan sejumlah kendala yang dihadapi para pengrajin batik klasik di Cirebon yakni banyak beredar diumum dan digunakan sembarangan orang, padahal itu ada tata kramanya. Selain itu, banyak dibuat batik cap dan textile sehingga tidak bisa membedakan batik tulis dan bukan, dan harganya sangat murah, menjatuhkan batik tulis.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR