Milenial Mulai Menyukai Batik

Seni & Budaya

Selasa, 1 Oktober 2019 | 16:21 WIB

191001162724-milen.jpg

Kiki Kurnia

INI merupakan tahun ke-10 batik diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (integible World Heritage) oleh Unesco, 2 Oktober 2009. Penetapan batik sebagai warisan budaya tak benda asal Indonesia ini kemudian ditetapkan sebagai hari batik nasional.

"Tanggal 2 Oktober dijadikan Hari Batik Nasional oleh pemerintah. Setiap tanggal 2 Oktober masyarakat di Indonesia disarankan menggunakan kain batik," ungkap Ketua Yayasan Batik Indonesia (YBI), Komarudin Kudya pada wartawan di showrom Batik Komar Jalan Cigadung Raya Kota Bandung, Selasa (1/10/2019).

Menurut Komarudin, perwakilan Unesco sempat datang ke Indonesia, pada pameran batik di Museum Tesktil, beberapa waktu lalu. Perwakilan Unesco tersebut mengungkapkan, jika perkembangan batik Indonesia sangat signifikan setiap tahun, sehingga kecil kemungkinan pengakuan Unesco ini bisa dicabut.

"Kita setiap lima tahun sekali melaporkan perkembangan batik di Indonesia ke Unesco, jika batik tetap digunakan masyarakat Indonesia sampai kapan pun," katanya.

Komarudin menyebutkan, persyaratan yang diminta Unesco untuk warisan budaya tak benda ini hanya bisa dipenuhi oleh Indonesia, mulai dari sejarah, perkembangan batik, pendidikan batik di kalangan pendidikan, penggunaan batik secara full hanya ada di Indonesia. "Ini yang menjadi dasar rasa optimis kami bahwa batik tidak mungkin dicabut Unesco," ujarnya.

Komarudin pun menyebutkan, saat ini kalangan generasi muda, khususnya kaum milenial sudah menggemari batik. "Ini yang menggembirakan bagi kami, terutama para pengrajin batik," tambahnya.

Menurut Komarudin, kalangan milenial ini sangat menggemari motil batik yang simple dan paduan warna yang berani dan cerah. Tentunya tambah Komarudin, perkembangan ini sangat menguntungkan bagi para pengrajin batik di Indonesia.

"Hampir sebagian besar pengrajin batik mulai mengikuti tren masa kini (milenial). Untuk Batik Komar saja, produksi batik saat ini 70 persennya untuk kalangan generasi muda," tandasnya.

Komarudin menyebutkan, peringatan hari batik nasional ini pasti dirayakan oleh setiap daerah, terutama daerah yang sejak dulu terkenal dengan budaya membaik, seperti Solo, Yogyakarta, Cirebon dan Indramayu. Bahkan Presiden Joko Widodo akan merayakan batik di Solo dengan cara membatik di atas kain terpanjang.

"Untuk tingkat Jabar, peringatan hari batik nasional akan diselenggarakan di Museum Kota Bandung, Jln. Aceh Bandung dengan tema Batik Pesan Bergambar untuk Kehidupan, pada 8 hingga 11 Oktober mendatang. Banyak agenda yang akan ditampilkan selain pameran ada pula gumincang batik, " tambahnya.

Walaupun demikian Komarudin mengakui, secara umum penjualan batik tengah lesu. Terlebih dengan Banyaknya aksi demonstrasi disetiap kota dan daerah di Indonesia.

" Produksi dan penjualan batik terkena imbas aksi demonstrasi yang marak di Indonesia, sehingga produsen tidak bisa mengirim batik. Pameran pameran batik pun sepi pengunjung," tandasnya.


Pada kesempatan itu Komarudin pun menyebutkan di kota Bandung telah muncul komunitas batik, yakni batik Cigadung dan batik Sapu Nyere Cicendo yang merupakan hasil binaan batik Komar. Dikatakannya, tradisi membatik sudah pernah dilakukan masyarakat Bandung, tepatnya di bantaran Sungai Cikapundung, beberapa ratus tahun lalu.

Menurut cerita, para pembatik itu sengaja didatangkan oleh Bupati Bandung pada saat berkuasa untuk mengajarkan masyarakat Bandung belajar membatik dan mengembangkan batik khas Bandung.

"Namun pada saat Bandung berbenah dan menata kota, para pembatik yang pernah diminta Bupati Bandung pada waktu itu kembali lagi ke daerah asalnya di Garut dan Tasikmalaya. Saya juga tidak tahu, kapan tradisi membatik di Bandung mulai berjalan, karena tidak ada catatannya. Ini yang disesalkan, akibat leluhur kita kebiasaan tidak pernah mencatat, " terangnya.

Walaupun bukan daerah yang memiliki tradisi membatik, ungkap Komar, Bandung memiliki motif batik yang melegenda, yakni motif patrakomala dan cangkurileung. Ada pula motif Monju, pasupati, Bandung lautan api. Namun dengan munculnya komunitas batik Cigadung dan batik nyere, motif batik di Bandung mulai berkembang walaupun baru pada sebatas motif bunga bungaan.

"Sentra Batik Cigadung (Masyarakat Cigadung) banyak mengembangkan motif bunga, sperti bunga crisan, mawar, dahlia, dan Sebagainya. Kalau gak salah ada 10 motif bunga yang baru," ujarnya.

Pada peringatan hari batik nasional tahun ini, kata Komarudin, pihaknya tengah mendaftarkan dan menyelesaikan usulan pendaftaran indikasi geografis (IG) batik untuk batik nitik Yogyakarta dan batik Complongan Indramayu ke kementerian hukum dan HAM yang dibiayai oleh Kementerian perindrustian. Alhamdulillah untuk batik Nitik Yogyakarta sudah beres, sementara batik Complongan Indramayu, ditargetkan beres sebelum akhir tahun.

"Untuk tingkat Jabar, kami pun tengah menyusun IG kain tenun Majalaya dan Garut, mudah mudahan bisa selesai secepatnya," katanya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR