Di Garut, Wagub Jabar Diundang ke Tempat Sampah

Daerah

Minggu, 22 September 2019 | 19:36 WIB

190922193802-di-ga.jpg

Agus Somantri

Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum saat mengunjungi Bank Sampah Hade Jaya di Kampung Sawah Bera, Desa Cinta Asih, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Minggu (22/9/2019)

WAKIL Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, mengaku selama setahun menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat, dirinya baru pertama kali diundang ke tempat sampah.

"Baru kali ini saya diundang ke tempat sampah setelah setahun lebih jadi wakil gubernur," ujarnya saat mengujungi Bank Sampah Hade Jaya di Kampung Sawah Bera, Desa Cinta Asih, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Minggu (22/9/2019).

Uu mengatakan, tempat pengolahan sampah seperti halnya Bank Sampah Hade Jaya di Kecamatan Samarang ini adalah tempat yang mulia. Karena di tempat ini berkumpul orang-orang yang peduli lingkungan, meski tempatnya memang kotor.

Pemerintah pun, terang Uu, tentunya banyak berterimakasih kepada para aktivis lingkungan yang mau mengurusi sampah=sampah karena telah cukup membantu masyarakat.

Apalagi menurutnya, saat ini sampah sudah menjadi bahan bahasan pemerintah di semua tingkatan karena telah menjadi masalah besar bagi pemerintah dalam pengelolaannya.

"Kalau 10 tahun lalu belum banyak jadi bahasan pemerintah.Tpi ekarang semua tingkatan pemerintah membicarakan masalah ini," ucapnya.

Diakui Uu, ia sendiri merasa terhormat bisa berada di tempat pengelolaan sampah milik Bank Sampah Hade Jaya. Apalagi pengelolaan sampah ini melibutkan ibu rumah tangga hingga santri.

Uu menuturkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat sendiri saat ini tengah terus berupaya mendorong agar banl-bank sampah terus tumbuh di masyarakat, agar sampah bisa dimanfaatkan dan memberi nilai ekonomis bagi masyarakat.

"Salah satu program Pemprov Jabar di bidang lingkungan adalah membentuk bank-bank sampah di masyarakat," katanya.

Direktur Bank Sampah Hade Jaya, Hendi Munawar, menyebutkan dalam satu bulan sampah yang dikelolanya bisa menghasilkan 6 ton impek, yaitu gilingan sampah plastik yang siap dijual ke pengepul.

Sementara, lanjut Hendi, masyarakat yang telah tercatat menjadi nasabah di kampungnya sebanyak 150 orang lebih yang terdiri dari ibu rumah tangga hingga santri.

"Enam bulan sekali tabungan dibuka, tidak semua dicairkan dalam bentuk uang, tapi ada sembako juga," katanya.

Sementara, lanjut Hendi, masyarakat yang telah tercatat menjadi nasabah di kampungnya sebanyak 150 orang lebih yang terdiri dari kalangan ibu rumah tangga hingga santri.

"Enam bulan sekali tabungan dibuka, tidak semua dicairkan dalam bentuk uang, tapi ada sembako juga," ucapnya.

Menurut Hendi, dalam jangka waktu enam bulan sekali rata-rata tiap nasabah bisa mendapat tabungan paling besar mencapai Rp 500 ribu. Karena sampah yang dikumpulkan didapat hanya dari sampah rumah tangga masing-masing.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR