Ini Keunikan Pasar Wisata Legokawi

Pariwisata

Minggu, 22 September 2019 | 15:03 WIB

190922150143-ini-k.jpg

Laksmi Sri Sundari


BERADA di tengah rimbunnya kebun bambu yang berada tak jauh dari ruas jalan Kolonel Masturi, Pasar Wisata Legokawi yang masuk wilayah Kampung Torobosan, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimah ini menjadi destinasi wisata yang menawarkan sebuah suasana pasar tradisional.

Keunikan pasar ini adalah wisata kuliner yang dikemas secara tradisional lengkap dengan menu aneka makanan dan minuman tradisional seperti ubi rebus, singkong rebus, bajigur dan bandrek. Serta penyajiannya juga kebanyakan menggunakan bahan alam. Bahkan para pedagang juga mengenakan kebaya dan kain bagi perempuan, dan pangsi bagi pedagang laki-laki.

Suasana asri dan alaminya benar-benar membuat pengunjung nyaman. Belum lagi udara sekitarnya yang terasa sangat sejuk. Namun lokasinya yang berada di bawah pemukiman penduduk dan kontur tanah yang tidak merata  membuat pengunjung yang datang harus ekstra hati-hati.

Satu hal yang unik dari pasar yang baru di launching, Minggu (22/9/2019) ini dalam penyelenggaraan Pasar Wisata Legokawi, yakni dalam bertransaksi tidak menggunakan uang rupiah, tetapi koin bambu yang menyerupai uang Koin.

Tersedia koin pecahan 2 sen setara dengan uang Rp 2.000, 3 sen sama dengan Rp 3. 000, 4 sen setara Rp  4.000, 5 sen setara Rp 5.000, dan 10 sen setara dengan uang Rp 10.000.

Sehingga pengunjung yang akan membeli makanan dan minuman harus menukarkan uang terlebih dahulu. Oleh karena itu, di dekat pintu masuk disediakan tempat khusus untuk menukarkan uang tunai dengan koin bambu.

Sumarno, Ketua 12 Kampung Torobasan mengatakan, keberadaan kebun bambu ini sudah ada sejak lama. Banyak warga yang memanfaatkannya untuk jalan kaki.

"Sehingga kami timbul ide untuk membuka pasar wisata disini. Setiap sabtu dan minggu ada ratusan orang yang melintas ke sini untuk hiking. Selain untuk membuka tempat wisata baru,  juga untuk meningkatkan perkonomian masyarakat," terangnya.

Pasar ini memang istimewa. Dibuat di tengah hutan bambu, ramah lingkungan, dan wadah-wadah yang digunakan juga ramah lingkungan. Ada yang di pincuk degan daun pepaya dan daun pisang, batok kelapa, ada juga minuman yang disajikan dalam bambu, dan sebagainya

"Akan kita adakan setiap hari minggu dari jam 07.00 sampai jam 12.00, dan akan terus kita kembangkan secara tradisional. Konsepnya back to nature. Rencananya kita akan bikin air buatan, seperti air terjun agar suasana makin asri," ujar Sumarno.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR