Pedagang Pakaian Bekas Terancam Gulung Tikar

Bandung Raya

Minggu, 22 September 2019 | 13:18 WIB

190922130901-pedag.jpg

net

Ilustrasi.

OMSET penjualan pedagang pakaian bekas mengalami penurunan lebih dari 50 persen. Akibatnya, nasib para  pedagang tersebut berada di ujung tanduk, terancam gulung tikar.

Seperti dikeluhkan  Ulul Albab (33) seorang pedagang pakaian bekas yang menjual barang dagangannya secara berkeliling dari Kabupaten Bandung Barat,  Cimahi hingga Kabupaten Bandung.  Biasanya setiap kali berjualan di pasar kaget bisa laku lebih dari  20 potong.

"Enggak tahu sekarang kenapa jadi turun di bawah 10 potong. Katanya sih, dampak dari informasi pakaian bekas mengandung bakteri  jadi orang mulai malas membeli,"  keluh Ulul Albab,  Minggu (22/9/2019).

Menurutnya, penjualan pakaian bekas juga dirasakan oleh pedagang lainnya. Ulul khawatir jika kondisi seperti ini semakin memburuk hingga dirinya tak bisa lagi berjualan.

"Selama saya berjualan pakaian bekas, belum pernah sampai ada yang pembeli yang mengeluh badannya jadi gatal-gatal. Paling hanya minta diganti ukuran atau ada cacat sedikit, ya namanya pakaian bekas pasti enggak akan semulus pakaian baru," kata penjual celana panjang bekas ini.

Celana panjang jeans,  lanjut Ulul, dijual berkisar antara Rp 15.000 sampai Rp 25.000 per potong. Banyak celana bekas yang dijualnya merupakan merk ternama dengan harga barunya di atas Rp 500.000 per potong.

"Semua celana saya beli di Pasar Gedebage. Meski bekas, tapi masih layak pakai," tandasnya.

Pedagang pakaian bekas di Kabupaten Bandung Barat hampir ada di setiap kecamatan, antara lain di Lembang, Ngamprah,  Padalarang,  Cipatat Batujajar.

Penurunan omset penjualan pakaian bekas dibenarkan Ketua Gabungan Pengusaha dan Jasa (Gapensa) Jawa Barat Ana Sumarna. Kondisi ini menimpa semua pedagang pakaian bekas di berbagai daerah.

"Penurunan omset terjadi  pascapenyitaan dan isu bahwa pakaian bekas mengandung bakteri atau virus. Rata-rata  pedagang di daerah mengambil barang juga di sini. Sehingga wajar jika mereka juga terkena imbuhnya," kata Ana saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Penyitaan dilakukan terhadap 551 bal pakaian bekas  yang dilakukan Tim dari Disperindag/ Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat bersama Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat.

Dia meminta kepada  pihak Disperindag Jabar dan API Jabar agar  bisa membuktikan secara laboratorium terkait adanya virus pada  pakaian bekas. Ana menambahkan bahwa pihak pemerintah dan API harus meluruskan hal tersebut karena akan terus merugikan pedagang yang sudah berjualan sejak tahun 1994 di Kawasan Cibadak kemudian berpindah di Kebon Kalapa dan terakhir di Gede Bage saat ini.

"Di Pasar Gedebage saja ada sekitar 3.000 pedagang pakaian bekas yang nasibnya memprihatikan. Pendapatan mereka menurun drastis ,sementara beban hidup tidak ikut menurun," ungkapnya.

Ia meminta kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat melalui Disperindag segera memulihkan kembali kepercayaan masyarakat untuk berbelanja pakaian bekas  di Gedebage Kota Bandung.

"Kalau dibiarkan berdampak pada kehidupan sosial masyarakat, bukan hanya bagi pedagang di Gedebage,  tapi juga pedagang pakaian bekas di seluruh Jawa Barat. Umumnya mereka juga mengambil barang di sini," imbuhnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR