Komnas Perempuan Rekomendasikan untuk Hentikan Penyelidikan Terhadap V

Crime Story

Jumat, 20 September 2019 | 19:37 WIB

190920193945-komna.jpg

Agus Somantri


KOMISI Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengirimkan surat rekomendasi ke Polres Garut untuk menghentikan penyelidikan kepada tersangka V dalam kasus video pornografi 'Vina Garut'.  

Pengacara V, Budi Rahadian SH, mengatakan, surat bernomor 028/KNAKTP/Pemantauan/Surat Rekomendasi/IX/2019 bertanggal 11 September 2019 itu berisi rekomendasi penanganan perempuan berhadapan dengan hukum.

"Dalam surat itu, Komnas Perempuan menyebut jika V merupakan korban. Meski berperan dalam video tersebut," ujarnya, Jumat (20/9/2019).

Budi pun menilai, jika merujuk pada rekomendasi yang diberikan Komnas Perempuan tersebut, maka kasus yang saat ini tengah menjerat kliennya tak layak untuk dilanjutkan. Karena hasil penelusuran yang dilakukan Komnas Perempuan menunjukan jika kliennya itu hanya sebagai korban.

"Dalam rekomendasi itu disebut untuk menghentikan penyidikan nomor LP/A/52/VIII/2019/JBR/RES GRT karena tidak terpenuhinya unsur dengan sengaja atau atas persetujuan," ucapnya.

Selain itu, lanjut Budi, kliennya juga dipaksa untuk melakukan adegan secara ramai-ramai dengan tiga pria oleh mantan suaminya, A alias Rayya. Menurut Budi, adanya unsur tersebut membuat klienya tidak dapat dipidana karena berada dibawah ancaman.

Budi menyebutkan, selain merekomendasikan untuk menghentikan penyelidikan, Komnas Perempuan juga merekomendasikan agar V untuk dipulihkan mentalnya dan dibawa ke rumah aman.

"Tapi semuanya kembali lagi ke penyidik. Pertimbangannya nanti ada di penyidik. Sifat surat dari Komnas hanya rekomendasi," katanya.

Budi menuturkan, hingga saat ini belum ada tanggapan dari Polres Garut tekait rekomendasi dari Komnas Perempuan tersebut. Ia pun mengaku sudah berloordinasi dengan P2TP2A Garut mengenai masalah tersebut.

"Kami sudah koordinasi dengan P2TP2A Garut. Tapi kan tetap harus ada pertimbangan dari penyidik karena status klien kami masih tersangka," ucapnya.

Budi juga berharap, agar polisi segera menangkap tersangka lainnya yang terlibat dalam kasus video 'Vina Garut' tersebut untuk dapat menjalani proses hukum seperti tersangka lainnya yang saat ini berkasnya sudah mulai dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut.

Menurut Budi, selama ini kliennya merupakan orang pertama yang menjalani proses hukum oleh pihak kepolisian terkait video asusila yang dibuat oleh tersangka lain yakni mantan suaminya.

"Dalam video tersebut terdapat beberapa orang, sementara polisi baru mengamankan tiga orang, satu diantaranya mantan suami V yang saat ini sudah meninggal dunia," katanya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Maradona Amrin Mappaseng, menyebutkan adanya rekomendasi dari Komnas Perempuan untuk menghentikan penyelidikan terhadap V dalam kasus video 'Vina Garut' tak akan merubah status tersangka yang telah ditetapkan pihaknya.

Menurut Maradona, pihaknya tetap melanjutkan perkara yang menjerat tersangka V. Saat ini, penyidik tengah menunggu tanggapan dari Kejari Garut terkait berkas perkara yang telah dilimpahkan.

"Sampai sekarang perkaranya masih jalan. Yang jelas status tersangkanya tak bisa dicabut," ucapnya.  

Maradona menyebutkan, dalam undang-undang, penghentian penyidikan bisa dilakukan jika tidak ada tindak pidana. Namun dalam kasus V ini, terangnya, penyidik menemukan unsur pidana sehingga yang bersangkutan ditetapkan menjadi tersangka.

Selain itu,lanjut Maradona, SP3 (surat penghentian penyidikan dan penuntutan) bisa dilakukan jika tidak ditemukan cukup bukti. Namun dalam kasus ini, terangnya, semua bukti sudah cukup untuk menjerat pelaku.

"Terkait SP3 yang dilakukan penyidik kepada tersangka A alias Rayya karena yang bersangkutan telah meninggal dunia," ujarnya.

Maradona menambahkan, terkait dua pelaku lainnya yang sampai saat ini masih buron, pihaknya masih terus melakukan pencarian. Ia menyebut jika pelaku sudah mengetahui bahwa dirinya sedang diincar polisi, sehingga sampai saat ini terus bersembunyi dari kejaran polisi.

"Kita terus kejar. Identitasnya sudah kita kantongi," katanya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR