Haruskah Salat Tahiyyatul Masjid saat Hendak Thawaf di Masjidil Haram?

Ragam

Senin, 16 September 2019 | 04:13 WIB

190915190025-harus.jpg

Net

Ilustrasi.

KITA dianjurkan melaksanakan salat tahiyyatul masjid saat memasuki masjid. Lalu bagaimana kalau memasuki Masjidil Haram di Mekah?

Perlu diketahui bahwa terdapat dua keadaan ketika seseorang memasuki masjidil haram. Pertama, memasuki masjidil haram untuk melaksanakan ibadah thawaf.

Dalam kondisi ini, dia tidak disyariatkan salat tahiyyatul masjid terlebih dahulu, baik thawaf tersebut dalam rangka ibadah haji atau ibadah umrah, atau dalam rangka thawaf sunnah. Hal ini karena ibadah thawaf tersebut adalah bentuk penghormatan terhadap masjidil haram, sebagaimana hikmah di balik disyariatkannya salat tahiyyatul masjid.

Yang disyariatkan bagi orang yang hendak thawaf adalah dia melaksanakan thawaf, kemudian melaksanakan salat sunnah thawaf di belakang maqam Ibrahim. Janganlah dia duduk, kecuali telah melaksanakan salat sunnah thawaf. Dengan rangkaian ibadah tersebut, maksud dari salat tahiyyatul masjid sudah tercapai dengan thawaf dan salat sunnah thawaf, sehingga tidak disyariatkan lagi untuk salat tahiyyatul masjid secara khusus.

Inilah yang disyariatkan bagi orang-orang yang hendak thawaf. Adapun yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan melaksanakan salat tahiyyatul masjid terlebih dahulu, baru thawaf, maka tindakan ini menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki masjidil haram, beliau mulai dengan thawaf, sebagaimana dalam riwayat Jabir radhiyallahu ‘anhu dan selainnya.

Adapun jika seseorang mau duduk terlebih dahulu, baru thawaf, baik karena ingin istirahat terlebih dahulu; atau karena masih menunggu rombongan umrah yang lain; atau karena sebab-sebab yang lain; maka yang disyariatkan adalah dia melaksanakan salat tahiyyatul masjid terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan makna umum dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka salatlah dua raka’at sebelum duduk.” (HR. Bukhari no. 444 dan Muslim no. 714).

Ke dua, memasuki masjidil haram untuk melaksanakan ibadah selain thawaf, misalnya untuk menunggu waktu salat wajib, membaca Alquran, dzikir, mengahdiri majelis ilmu (pengajian), atau selainnya.

Dalam kondisi ini, yang disyariatkan adalah melaksanakan salat tahiyyatul masjid terlebih dahulu, berdasarkan makna umum dari hadits di atas.

Sebagian orang menyangka bahawa shalat tahiyyatul masjid itu gugur ketika memasuki masjidil haram, karena tahiyyah untuk masjidil haram adalah thawaf, bukan salat tahiyyatul masjid. Ini adalah pemahaman yang keliru. Yang mungkin saja karena salah paham terhadap hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Perkara pertama yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sampai (di Makkah) adalah berwudhu, kemudian thawaf.” (HR. Bukhari no. 1614, 1641, dan Muslim no. 1235).

Maksud yang tepat dari hadits di atas adalah dianjurkan untuk memulai dengan thawaf, baik thawaf wajib atau thawaf sunnah, bagi yang memasuki Masjidil Haram. Dia tidak perlu shalat tahiyyatul masjid, kecuali jika memang tidak ada niat (keinginan) untuk thawaf karena ‘udzur (alasan) tertentu.

Bukanlah maksud dari hadits ini bahwa salat tahiyyatul masjid itu tidak disyariatkan secara mutlak ketika seseorang memasuki masjidil haram, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin.

Selain itu, jika bentuk tahiyyah untuk masjidil haram adalah hanya dengan thawaf (tidak dengan shalat tahiyyatul masjid), maka ini adalah syariat yang memberatkan, yang tidak mungkin syariat Islam yang mudah ini menetapkannya. Lebih-lebih lagi jika seseorang berkali-kali memasuki masjidil haram dalam satu hari untuk salat wajib atau yang lainnya. Bahkan, lebih-lebih lagi ketika di musim tertentu ketika jamaah di masjidil haram itu sangat ramai, seperti saat musim haji, atau di bulan Ramadhan, atau di waktu-waktu lainnya ketika jamaah sangat penuh berdesakan.

Wallahu a’lam.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR