Waktu Iqomah Sangat Mepet, Salat Sunnah Rawatib atau Tahiyyatul Masjid?

Ragam

Senin, 16 September 2019 | 02:08 WIB

190915181455-waktu.jpg

Net


KEBANYAKAN kaum muslimin datang ke masjid saat atau setelah adzan berkumandang. Terkadang kita bingung, hendak melaksanakan salat tahiyyatul masjid atau salat sunah rawatib (qabliyyah). Sementara waktu iqomah sudah sangat mepet.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa maksud dari disyariatkannya salat tahiyyatul masjid adalah untuk menghormati masjid sebagai tempat ibadah kaum muslimin dengan mendirikan ibadah salat, apa pun jenis salatnya. Sehingga maksud tersebut sudah tercapai dengan mendirikan salat apa pun, baik itu salat wajib, salat sunnah, atau salat qadha’.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Wahai fadhilatusy syaikh, apakah dua raka’at shalat dhuha sudah mencakup salat tahiyyatul masjid?”

Kemudian beliau menjawab, “Misalnya, seseorang masuk masjid di waktu dhuha, kemudian dia salat dengan niat salat sunnah dhuha. Maka hal ini sudah mencukupi dari melaksanakan salat tahiyyatul masjid. Demikian pula dengan salat sunnah rawatib, juga sudah mencukupi dari salat tahiyyatul masjid.

Jika seseorang, misalnya, masuk masjid dan salat rawatib qabliyah subuh atau dzuhur, maka hal ini sudah mencukupi dari salat tahiyyatul masjid. Akan tetapi, tidak sebaliknya. Salat tahiyyatul masjid tidaklah bisa mencukupi (menggantikan) salat sunnah rawatib. Maksudnya, jika seseorang masuk masjid setelah adzan dzuhur, dan meniatkan salat dua raka’at tahiyyatul masjid, maka salat tersebut tidak bisa menggantikan salat sunnah rawatib.” (Liqa’aat Al-Baab Al-Maftuuh, 15: 108).

Bagaimana jika seseorang ingin menggabungkan niat, misalnya shalat qabliyyah subuh (salat sunnah fajar) dengan salat tahiyyatul masjid?

Syaik ‘Abdul Karim Al-Khudair hafidzahullah ditanya, “Seseorang masuk masjid setelah adzan subuh. Apakah yang lebih afdhal salat dua raka’at tahiyyatul masjid kemudian dilanjutkan dua raka’at salat sunnah fajar, ataukah yang lebih afdhal salat dua raka’at dengan dua niat sekaligus, yaitu niat tahiyyatul masjid da niat salat sunnah fajar?”

Beliau hafidzahullah menjawab, “Cukup salat (sunnah fajar) dua raka’at saja. Ketika fajar sudah terbit (sudah masuk waktu subuh), maka tidak ada salat (sunnah) kecuali salat sunnah fajar. Maka dia salat dengan niat salat rawatib subuh, dan sudah tercakup di dalamnya tahiyyatul masjid. Hal ini karena tahiyyatul masjid itu masuk dalam salat apa pun.” (Syarh Laamiyyah li Ibni Taimiyyah, 3: 7).

Dari penjelasan di atas, kita tidak perlu menggabungkan dua niat sekaligus. Hal ini karena salat tahiyyatul masjid itu sudah tercakup dalam salat sunnah rawatib.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR