Di Hadapan Siswa SMK, Satgas Citarum Harum Fokus Penanganan Sampah dan Limbah Pabrik Tekstil

Bandung Raya

Jumat, 13 September 2019 | 19:44 WIB

190913194503-di-ha.jpg

Engkos Kosasih


PARA siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 LPPM RI Majalaya Jalan Cidawolong, Desa Biru Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung antusias mengikuti sosialisasi penanganan kerusakan daerah aliran Sungai Citarum, Jumat (13/9/2019).

Sosialisasi itu digagas Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum Sektor 4/Majalaya bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung. Selain dilaksanakan di SMK LPPM RI, kegiatan serupa dilaksanakan di SMK KP Majalaya, SMKN 1 Majalaya, di desa-desa yang tersebar di Kecamatan Majalaya.

Pencerahan dan edukasi tentang permasalahan lingkungan kepada para siswa SMK itu disampai Komandan Sektor 4 Satgas Citarum Harum Kolonel Inf Kustomo Tiyoso, Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Bandung Noor Rochman. Satgas Citarum Harum lebih fokus pada penanggulangan dan penanganan sampah, limbah pabrik tekstil, sedimentasi dan permasalahan lahan kritis.

Kustomo mengharapkan, sosialisasi penanganan kerusakan daerah aliran Sungai Citarum ini dapat memberikan pencerahan kepada para siswa SMK LPPM RI Majalaya tersebut. "Sebagai warga negara Indonesia, hendaknya menunjukkan sikap rasa memiliki. Salah satu contoh yakni dengan sikap sempurna saat menyanyikan lagu Indonesia Raya mencerminkan pribadi yang disiplin," kata Kustomo.

Kustomo mendorong para siswa untuk memiliki jiwa disiplin. "Tidak memiliki pribadi disiplin bagaimana akan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia? Selanjutnya dari hal yang kecil pun tidak akan terfikir, seperti halnya mencintai lingkungan. Contohnya dengan menanam pohon, memeliharanya, bahkan merawatnya. Karena dengan menanam pohon berarti juga mencintai lingkungan yang asri," ungkapnya.

Ia mengatakan, permasalahan lingkungan yang rusak sehingga mengakibatkan Sungai Citarum tercemar dan airnya tidak dapat dimanfaatkan sebagai sumber penghidupan itu dimulai dari tidak disiplin.

"Berdasarkan cerita, jaman dulu Citarum bisa digunakan mencuci, mandi dan kebutuhan lainnya. Namun saat ini, Sungai Citarum menjadi topik pembicaraan di kawasan Asia, karena kondisi Sungai Citarum kotor dan tercemar sampah dan limbah. Sementara kondisi Sungai Citarum sangat vital dan strategis sebagai sumber kehidupan 35 juta jiwa di Jabar," kata Kustomo.

Kustomo menyatakan, jika para siswa dan masyarakat umum mengotori Sungai Citarum dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, termasuk menghambat operasional turbin pembangkitan listrik di tiga PLTA, yakni di Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur yang menghasilkan 1.900 MW.

Menurutnya, jika Sungai Citarum tercemar, tidak bisa lagi digunakan untuk konsumsi air minum setelah melewati proses pengolahan. Dikatakan, warga saat ini sudah tidak mau lagi minum air Citarum karena kotor. Bukan hanya kotor, tapi bau. Ikan pun sempat mati karena tercemar limbah.

"Namun saat ini, ekosistem sungai Citarum sudah perlahan-lahan baik karena kami sempat melaksanakan mancing mania di Sungai Citarum," katanya.

Kustomo menuturkan, kondisi Sungai Citarum pada 2017 lalu, aliran Sungai Citarum dipenuhi sampah. Bahkan bisa jalan kaki di atas tumpukan sampah di Sungai Citarum tersebut, seperti yang terjadi di aliran sungai di Bojongsoang. "Karena itu, Sungai Citarum dijuluki sungai terkotor di dunia," katanya.

Ia pun menjelaskan tentang terjadinya sedimentasi yang mencapai 8.465 ton/tahun, di antaranya berasal dari hutan, kebun dan tanah longsor. Sedimentasi dari hulu 1.819 ton per tahun dan ribuan ton di tengah dan hilir.

Sementara itu, Petugas Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Bandung Noor Rochman mengatakan, permasalahan Sungai Citarum di antaranya limbah domestik, limbah industri, selain sedimentasi. 

Pada saat sosialisasi, Noor Rochman berusaha untuk berinteraksi dengan para siswa. Ia pun berkomunikasi tentang persoalan sampah, menjadi tanggung jawab bersama dalam pengelolaan dan penanganannya.

"Masalah lingkungan menjadi tanggung jawab bersama," katanya.

Noor Rochman mengatakan, 3,6 juta penduduk Kabupaten Bandung menghasilkan sampah 0,35-0,4 kg per hari. Sampah yang dihasilkan 43.200 ton per bulan atau 1.440 ton per hari di Kabupaten Bandung.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR