14 Seniman Delegasi Jabar Akhirnya Bisa Pergi ke Sidang Tahunan UNESCO

Seni & Budaya

Kamis, 12 September 2019 | 19:55 WIB

190912195635-14-se.jpg


SEBANYAK 14 orang delegasi Jawa Barat akhirnya bisa pergi ke ajang Sidang Tahunan United Nations Educational, Sciencetific, and Cultural Organization (UNESCO) penetapan Intangible Worlds Heritage, di Markas UNESCO, Paris, Perancis, 19 September mendatang.

Sebelumnya ke-14 delegasi ini sempat merasa pesimis bisa tampil diajang tersebut karena belum mendapat dukungan pembiayaan dari pemerintah (Pemprov Jabar). Kehadiran 14 delegasi pencak silat tersebut selain memenuhi undangan Duta Besar Tetap Indonesia untuk UNESCO penampilkan delegasi di markas besar UNESCO di Paris Prancis 19 September dalam upaya agar Pencak Silat tidak diklaim Malaysia.

“Boleh dikata, misi kami kemarin adalah mission impossible. Karena hingga batas waktu yang ditetapkan pada Jumat 6 September lalu kami belum mendapatkan kepastian untuk mendapatkan dukungan pembiayaan dari pemerintah (Jawa Barat) yang dalam hal ini diamanatkan ke Disparbud Jabar. Namun Alhamdulillah pada Minggu (8/9/2019), kami bisa membeli tiket dan Senin (9/9/2019) bisa mengurus visa,” ujar Rd. Roedy Wiranatakusumah, selaku pimpinan rombongan dari Jawa Barat, dalam misi budaya bertajuk “Heritage for The World”, ditemui ditemui disela persiapan terakhir di Museum Kota Bandung Jalan Aceh Bandung, Kamis (12/9/2019).

Dikatakan Roedy, keberangkatan delegasi seniman budayawan Jawa Barat ke Sidang Tahunan UNESCO pada penetapan Intangible Worlds Heritage merupakan tindaklanjut dari presentasikan Ridwan Kamil di depan anggota UNESCO di Paris Prancis pada 9 Mei 2017 lalu, untuk menetapkan pencak silat sebagai warisan budaya tak benda asal Indonesia (Intangible Worlds Heritage).

“Karena sejak awal dari Jawa Barat yang mengusung agar Pencak Silat diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia berasal dari Indonesia, dan kami mengira pihak pemerintah sudah menganggarkan, namun nyatanya tidak masuk dalam mata anggaran, tapi dengan upaya bersama dan bantuan dari BJB, akhirnya kami dengan tim kecil bisa berangkat,” ujar Roedy.

Selain tindaklanjut dari kegiatan di markas besar UNESCO pada tahun 2017, menurut Roedy, misi delegasi Jawa Barat juga dalam memenuhi undangan dari Duta Besar Tetap Indonesia untuk UNESCO, Surya Rosa Putra. Sekaligus persyaratan harus tampil pada sidang tahunan UNESCO yang dihadiri 139 negara anggota pada sidang penetapan Intangible Worlds Heritage.

Ditambahkan Roedy, keberangkatan juga sebagai upaya agar pencak silat tidak diklaim Malaysia. “Karena Malaysia juga melakukan hal yang sama, mengajukan pencak silat sebagai budaya mereka, bahkan saking seriusnya mereka (Malaysia) pernah menawarkan agar pencak silat dijadikan warisan budaya milik bersama Indonesia dan Malaysia,” ujar Roedy.

Selain dari Jawa Barat, menurut Roedy, dalam acara bertajuk “Heritage for The World”, delegasi Indonesia akan melibatkan seniman dan budayawan dari Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. “Sesuai misi awal, Jawa Barat akan menampilkan Silat Cimande serta tarian genre Jaipongan Maung Lugay, sedangkan how to play angklung urung tampil karena alasan pendanaan,” terang Roedy.

Ke depan bilamana UNESCO menetapkan Pencak Silat sebagai Intangible Worlds Heritage asal Indonesia, pemerintah sebagai pemangku kebijakan maupun masyarakat sebagai pemilik, menurut Roedy, harus konsisten dalam menjaga dan memelihata. Bahkan bukan hanya Pencak Silat, tapi budaya lainnya sebagaimana yang diamanatkan Undang-undang No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR