Jabar Targetkan 200 Nelayan Bersertifikat

Bandung Raya

Kamis, 12 September 2019 | 17:48 WIB

190912174952-jabar.jpg

Anthika Asmara


PEMERINTAH provinsi Jawa Barat fasilitasi nelayan untuk memiliki sertifikat Basic Safety Training Fisheries (BST-F), sartefikat tersebut bisa digunakan untuk bekerja di perusahaan asing dalam bidang perikanan.

Dinas Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat menargetkan, ada sekitar 200 orang yang bisa memiliki sartefikat di tahun 2019 ini, sebagai bentuk realisasi program nelayan juara.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat Jafar Ismail menyampaikan, sertifikasi tersebut dikeluarkan oleh kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"Kita targetkan sebanyak-banyaknya, tapi tahun ini kurang lebih 200 orang," ujar Jafar usai acara Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (12/9/2019).

Bilamana nelayan tersebut sudah memiliki sertifikat, maka dapat dijadikan sebagai persyaratan bilamana hendak bekerja di perusahaan asing. Di mana sertifikat tersebut berlaku di seluruh dunia, bahkan di Indonesia sendiri.

Untuk mendapatkannya, dia katakan, para nelayan tersebut harus mengikuti pelatihan selama sebulan pada Unit Pelayanan Teknis (UPT) KKP yang berada di Tegal, Jawa Tengah. Saat ini ada 156 nelayan asal Jabar yang sedang digodok untuk mengantongi sertifikat.

"Kita ada 156 orang yang dilatih ke sana, karean itu memerlukan waktu satu bulan," ucapnya.

Jafar tak menampik, target 200 nelayan bersertifikat cenderung sedikit disandingkan jumlah nelayan keseluruhan di Jabar. Hal itu karena untuk mendapatkan sertifikat memerlukan biaya yang cukup besar.

"Karena kita harus mengirim ke Tegal dengan biaya yang cukup mahal. Satu orang itu hampir Rp30-40 juta," katanya.

Adapun dengan mengatongi sertifikat, maka menandakan nelayan tersebut memiliki keterampilan ketika berada di laut untuk terhindar dari kecelakaan. Termasuk memahami SOP tatkala menangkap ikan.

Disinggung apakah Pemprov Jabar memiliki langkah untuk mengeluarkan sertifikat untuk nelayan, menurut dia, sejauh ini Jabar belum memiliki sarana dan pelatih. Dengan begitu, langkah paling mudah yaitu mengirimkan nelayan mengikuti pelatihan ke Tegal.

"Karena belum ada sarana dan pelatihnya karena itu harus terus disertifikasi juga mereka yang mengeluarkan sertifikasi itu tidak bisa sembarangan. Kita yang paling mudah itu mengirimkan ke sana," tuturnya.

Kendati demikian, pihaknya akan bekerjasama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Mundu Kabupaten Cirebon. Di mana jurusan sekolah tersebut yaitu Perikanan dan Kelautan.

"Yang ada itu di Mundu sudah mengeluarkan BST-F lulusanya sudah otomatis. Tapi di (Jabar) Selatan belum ada," ucap dia.

Hanya saja, lanjut Jafar, ada dua daerah yang mengajukan berdirinya SMK Perikanan dan Kelautan. Namun, dia katakan, perlu adanya persiapan yang matang untuk merealisasikan hal tersebut.

"Kemarin yang mengajukan Cianjur dan Cidaun ini ingin juga mempunyai. Tapi harus prasarana dan guru gurunya dipersiapkan dulu," tutur dia.

Adapun jumlah nelayan di Jabar sebanyak 123.041 orang. Itu terdiri dari nelayan penuh 81.720 orang, nelayan sambilan utama 38.577 orang dan nelayan sambilan tambahan 7.744.

Di mana jumlah tersebut tersebar di Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, Kota Cirebon, Cirebon, Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, Ciamis, Kuningan, Majalengka, Kota Banjar, Kota Tasik, Kota Sukabumi, Sumedang, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Purwakarta, Kota Bekasi, Kota Depok, Kabupaten Bogor, Kota Bogor.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR