Manulife Indonesia Ingin Putus Mata Rantai Generasi Sandwich di Bandung

Bandung Raya

Kamis, 12 September 2019 | 16:51 WIB

190912165049-manul.jpg

H. D. Aditya

SALES Director Bandung PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Oey Tjun Seng (tengah) didampingi Head of Product Manulife Indonesia Richard Azarya Sondakh (kiri) dan Head of Brand Product Campaign & Creative Manulife Indonesia Henry Widagdo pada peluncuran MiFuture Income Protector di Bandung di kantor Manulife Indonesia - Bandung, Jalan Asia-Afrika, Kamis (12/9/2019).

PERUSAHAAN asuransi swasta di dalam negeri tidak terpengaruh keberadaan program pemerintah jaminan kesehatan nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS). Pasalnya, pemilik polis asuransi di Indonesia baru mencapai 1,7 persen dari jumlah penduduk sekitar 265 juta jiwa.

Setidaknya hal tersebut diungkapkan Sales Director Bandung PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Oey Tjun Seng pada peluncuran MiFuture Income Protector (Mifip) di Bandung di kantor Manulife Indonesia - Bandung, Jalan Asia-Afrika, Kamis (12/9/2019).

Hadir dalam Kegiatan ini Head of Product Manulife Indonesia Richard Azarya Sondakh dan Head of Brand Product Campaign & Creative Manulife Indonesia Henry Widagdo.

"Memang kami memiliki produk yang sama, tapi tidak sampai rebutan pasar. Kami pun tak merasa tersaingi dengan BPJS," kata Tjun Seng.

Bahkan, ia menilai keberadaan program JKN tersebut membantu industri asuransi dalam negeri untuk mempromosikan asuransi di Indonesia. Pasalnya, pengetahuan masyarakat mengenai asuransi di Indonesia masih sangat rendah.

Kondisi seperti itu pun diakui Henry Widagdo. Menurutnya, potensi pasar asuransi di Indonesia masih sangat besar. "Pemilik polis asuransi di Indonesia masih sangat rendah. Ini merupakan pasar yang sangat potensial," ujarnya.

Berdasarkan data AAJI, lanjutnya, penetrasi asuransi jiwa pada 2018 tercatat sebesar 1,3 persen, menurun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1,4 persen.

Sehubungan hal itu, ia mengatakan, Manulife Indonesia pun terus berupaya mengedukasi publik. Salah satunya melalui media sosial (medsos). "Pengguna medsos ini sangat banyak. Terutama masyarakat kalangan menengah," ujarnya.

Sementara berdasarkan kajian Boston Consulting Group, Henry menambahkan, pertumbuhan masyarakat kelas menengah Indonesia akan meningkat 64 persen dari 2012 hingga 2020, yakni dari 41,6 juta jiwa menjadi 68,2 juta jiwa.

Di sisi lain, merujuk pada data Manulife Investor Sentiment Index (MISI) pada 2017, lanjutnya, sebagian besar masyarakat Indonesia optimistis terhadap hari tua mereka. "Mereka memiliki ekspektasi memiliki 57 persen lebih baik dari gaya hidup saat ini. Di sisi lain, hanya 19 persen investor yang khawatir akan kehabisan uang pada masa pensiun nanti," ujarnya.

Meski demikian, mayoritas investor hanya dapat menyiapkan dana pensiun kurang dari Rp 100 juta. Uang sejumlah itu akan habis dalam 2-3 tahun jika rata-rata pengeluaran Rp 4 juta per bulan.

“Pertumbuhan kelas menengah menjadi kesempatan bagi perusahaan asuransi untuk meningkatkan penetrasi. Terlebih, dilihat dari penelitian itu, Optimisme (menghadapi masa tua, red) tidak didukung persiapan finansial yang matang,” ujarnya.

Saat ini, lanjut dia, masih banyak generasi sandwich, di mana kalangan kelas menengah masih dihadapkan persoalan menanggung kebutuhan orangtua mereka dan keluarganya sendiri yakni istri dan anak-anak. Apalagi, berdasarkan data OJK, hanya 13,5 juta pekerja atau sekitar 27 persen dari 50 juta pekerja formal di Indonesia yang memiliki program pensiun.

"Karena itulah kami menawarkan solusi melalui produk Mifip. Manulife Indonesia ingin memutus mata rantai generasi sandwich. Karena nasabah bisa menyiapkan hari tua dengan lebih baik, tanpa membebani anak mereka," jelas dia.

Melalui Mifip, Richard Azarya Sondakh mengatakan, Manulife ingin memudahkan hidup nasabah agar tidak menanggung beban yang sama pada masa pensiun. "Generasi sandwich ini masih bisa diperbaiki. Diharapkan nantinya tidak lagi membebani anak," jelas dia.

Dikatakan, Mifip ini memberikan manfaat hingga enam kali jumlah premi yang dibayarkan sehingga nasabah siap menghadapi hari tua. Pembayaran premi pun bisa disesuaikan dengan keinginan nasabah.

"Bisa sekali bayar atau berlangsung selama lima tahun. Selama lima tahun pun bisa bulanan, triwulan, kwartal, per semester atau tahunan. Tergantung keinginan nasabah," jelasnya.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR