Mempercepat Salat Karena Belum Bersedekah

Ragam

Kamis, 15 Agustus 2019 | 01:07 WIB

190814232359-mempe.jpg

dokumen Galamedianews.com


PADA satu kesempatan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ditanya seseorang sahabatnya tentang sedekah yang paling utama.

Kata beliau, "Engkau menyedekahkan harta itu pada saat engkau dalam keadaan sehat dan di kala engkau benar-benar menginginkan harta tersebut saat itu." (HR Abu Dawud).

Dalam Alquran, Allah SWT juga berfirman, "Engkau tak akan mendapatkan kebaikan apa pun hingga kalian menyedekahkan sebagian harta yang paling kalian cintai. Ketahuilah, apa pun yang kalian infakkan, Allah pasti mengetahuinya." (Ali 'Imran: 92).

Setiap manusia memiliki kecenderungan mencintai harta benda. Karena cinta inilah, mereka lalu berusaha mempertahankannya selama mungkin, bahkan kalau perlu, berusaha menambahnya terus-menerus.

Namun, mencintai harta tidak selamanya dapat membuat orang bahagia. Tak jarang, harta justru membuatnya tidak tenang dan resah. Karena itulah, sedekah yang Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam anjurkan sebetulnya, selain untuk mendapatkan pahala di sisi Allah SWT, juga untuk membuat manusia itu tenang dan tenteram.

Kondisi sehat dan cinta terhadap harta, bisa menjadi penghambat seseorang untuk mengeluarkan sedekahnya. Padahal, menurut Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam justru pada saat-saat itulah, sedekah memiliki nilai yang utama di sisi Allah SWT.

Pertama, kondisi sehat pada hakikatnya adalah nikmat dan karunia yang Allah SWT berikan kepada manusia. Karena itu, manusia mesti mensyukurinya dalam bentuk amaliah bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Seorang yang mensyukuri karunia sehat, akan menyadari kondisi sehat itu sebetulnya adalah kesempatan untuk berbuat baik.

Kedua, karunia sehat juga sekaligus menjadi ujian berat manusia. Sebab, terkadang dalam keadaan ini, manusia sering lalai berbuat kebaikan. Sedekah pada saat-saat ini terasa begitu berat. Penyebabnya, keinginan untuk menikmatinya kerap muncul di kala sehat. Selain itu, ada keinginan kuat agar harta itu jangan dulu diberikan kepada orang lain. Dalam arti lain, menunda hingga waktu tertentu.

Padahal, salah satu akhlak mulia Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam masalah sedekah adalah mempercepat dalam memberikan sedekah itu. Pernah suatu ketika, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mempercepat salatnya hingga membuat para sahabatnya bertanya-tanya. Setelah ditanya, beliau menjawab, "Ketika salat, aku teringat ada harta bendaku yang belum aku sedekahkan" (HR Bukhari).

Harta bukan untuk ditumpuk, kemudian dinikmati sendiri. Ada kewajiban yang mesti dilakukan terhadap harta itu, agar harta yang diberikan Allah tidak sia-sia. Yakni, bisa menjadi bekal hidup, baik dunia maupun di akhirat.

Keseimbangan dalam mengelola harta itulah yang ditekankan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Harta memang miliknya, tapi di dalamnya juga ada milik orang lain yang mesti diberikan. Inilah yang terkadang berat dilakukan, karena menganggap harta benda yang dimiliki adalah hasil kerja keras yang harus dinikmati sendiri.

Padahal, dalam harta seseorang sejatinya ada campur tangan dari Allah SWT. Karena itu, harta mesti dikelola sesuai dengan petunjuk Allah juga.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR