Cadangan Listrik Indonesia Cukup Tidak Perlu Impor Listrik

Nasional

Rabu, 14 Agustus 2019 | 21:51 WIB

190814215426-cadan.jpg

Tok Suwarto

Wamen ESDM Arcanda Tahar saat memberikan kuliah umum di depan mahasiswa baru UNS di Auditorium GPH Haryo Mataram kampus UNS Kentingan


AKIL Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM), Arcanda Tahar, menyatakan cadangan energi listrik di Indonesia cukup besar dan tidak pernah impor energi baru yang terbarukan tersebut. Terjadinya listrik padam di wilayah Jabodetabek dan Jabar beberapa waktu lalu, bukan akibat kurangnya energi listrik tetapi penyebabnya adalah kerusakan jaringan.

"Penyebab listrik padam itu bisa bermacam-macam, bisa dari pembangkit, bisa karena cadangan kurang dan karena kerusakan jaringan. Padamnya listrik beberapa waktu lalu, bukan karena kerusakan pembangkit dan bukan kekurangan energi tetapi karena kerusakan jaringan," ujar Arcanda Tahar, menanggapi pertanyaan mahasiswa baru UNS saat mengikuti kuliah umum di Auditorium GPH Haryo Mataram, kampus UNS Kentingan, Rabu (14/8/2019). Dalam kuliah umum yang diikuti 8.639 mahasiswa baru tahun akademik 2019-2020, Wamen ESDM memaparkan tentang "Ketahanan Energi Indonesia".

Setelah menjelaskan masalah pemadam listrik tersebut, Arcanda bertanya kepada ribuan mahasiswa yang sebagian duduk lesehan, siapa yang percaya Indonesia impor listrik. Hanya beberapa orang mahasiswa yang mengacungkan jari, sehingga Wamen ESDM itu mengulang pertanyaannya kenapa ada listrik padam.

"Indonesia itu kaya sumber energi baru dan terbarukan untuk menghasilkan energi listrik dari tenaga matahari, tenaga angin, geothermal dan sebagainya. Jadi, Indonesia mampu menyediakan listrik sendiri. Kenapa padam bukan karena kekurangan energi tetapi karena ada jaringan yang rusak," tandasnya.

Wamen ESDM itu mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan listrik secara nasional Indonesia masih kelebihan 30 persen dari cadangan listrik. Berdasarkan itu berarti cadangan listrik cukup, karena listrik yang dihasilkan dari pembangkit kita masih kelebihan 20-30 persen.

"Pada lima tahun lalu rumah yang berlistrik di seluruh baru 80 persen, tapi sekarang ausah 96 persen lebih. Berdasarkan energi listrik yang bisa produksi tanpa komponen impor tersebut, ke depan kebutuhan energi akan beralih ke listrik. Energi untuk mobil akan beralih ke listrik, untuk kompor ke kompor listrik, untuk angkutan massal kereta pakai listrik, bus juga bus listrik," jelasnya.

Menanggapi pertanyaan para mahasiswa baru UNS, termasuk pertanyaan tentang akuisisi pengelolaan eksploitasi pertambangan yang dikuasai mayoritas asing, Arcandra memberikan apresiasi tinggi, karena daya kritis mahasiswa baru UNS. Dia menyatakan, meskipun masih berstatus mahasiswa baru, mereka berani menyampaikan pertanyaan sangat kritis.

“Saya sangat mengapresiasi pertanyaan-pertanyaan mahasiswa baru sangat dalam. Itu perlu jawaban yang membuat saya harus berpikir tentang beberapa hal yang ditanyakan,” ujarnya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR