Jadikan Internet Sebagai Sarana Dakwah Ekonomi Syariah pada Anak Muda Milenial

Citizen Journalism

Selasa, 13 Agustus 2019 | 10:20 WIB

190813102326-jadik.jpg

HITekno.com

Ilustrasi.


SELAMA ini kita sudah tidak asing dengan sebutan generasi milenial. Siapa mereka? Yuswohady dalam bukunya #GenM=Generasi Moeslim menjelaskan Millennial generation atau generasi Y merupakan mereka yang lahir di awal tahun 1980-an sampai pertengahan tahun 1990-an. Generasi yang tumbuh besar saat era digital mulai berkembang.

Pada era ini komputer baru mulai booming, seiring dengan naik daunnya video games, gadget, smartphones, dan internet, namun belum secanggih saat ini. Berbeda dengan generasi Z yang sudah melek teknologi sejak lahir.

Pengalaman yang sama semasa hidup mereka dari kecil hingga dewasa akan membentuk karakter dan nilai-nilai yang sama pula. Sayangnya, generasi milenial lebih dikenal dari sisi negatifnya, karena mereka dipengaruhi oleh digitalisasi dan kemajuan teknologi yang membuat perubahan cara hidup secara mencolok, mereka dikenal sebagai generasi yang malas, generasi narsis, generasi yang liberal dimana pribadi-pribadi yang memiliki pemikiran terbuka, dan pendukung kesetaraan hak (misalnya tentang LGBT atau kaum minoritas). Sehingga ter-maindset mereka merupakan tantangan besar dakwah saat ini.

Sejatinya benar bahwa generasi milenial menjadi tantangan tersendiri dalam dakwah. Sebab adanya kemajuan teknologi, pada era ini mengakses internet menjadi hal yang paling rutin dilakukan. Berdasarkan hasil studi Polling Indonesia yang bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia tumbuh 10,12 persen.

Survei ini melibatkan 5.900 sampel dengan margin of error 1,28 persen. Data lapangan ini diambil selama periode Maret hingga 14 April 2019, dari total populasi sebanyak 264 juta jiwa penduduk Indonesia, ada sebanyak 171,17 juta jiwa atau sekitar 64,8 persen yang sudah terhubung ke internet.

Angka ini meningkat dari tahun 2017 saat angka penetrasi internet di Indonesia tercatat sebanyak 54,86 persen. Dan dari seluruh pengguna internet di Indonesia, diketahui mayoritas yang mengakses dunia maya adalah masyarakat dengan rentang usia 15 hingga 19 tahun. Atau bisa dibilang mayoritas sebagian yang mengakses internet adalah anak muda milenial.

Dari internet itulah pintu kemaksiatan seakan akan terbuka lebar, internet dengan segala kemudahannya menjadikan kita dapat mengakses informasi apapun. Tidak terkecuali konten konten negative seperti pornografi, perjudian online, bahkan jasa prostitusi online. Ketika dulu tantangan dakwahnya adalah bagaimana menangani prostitusi prostitusi pada tempat tertentu yang mana tidak banyak orang yang tahu, sekarang siapapun dapat mengaksesnya dengan mudah. Atau contoh lain yang dapat kita lihat maraknya kredit online yang tentu saja jika kita tidak teliti dengan benar hal tersebut dekat sekali dengan riba.

Belum lagi dengan kecanggihan internet sebagai sarana untuk kemudahan berbagi informasi dengan siapapun, membuat kita dapat bertukar cerita, pengalaman, atau bertukar pemikiran  dengan siapa saja di media social misalnya, yang mana jika kita tidak memiliki kekuatan iman sebagai pondasi maka akan mudah menerima pemahaman pemahaman yang menyimpang dari ajaran islam seperti adanya sekularisasi (pemisahan antara agama dan kehidupan) atau liberalisasi (kebebasan).

Pemahaman-pemahaman itulah yang akhirnya mempengaruhi pola pikir kebanyakan anak muda milenial saat ini. Dengan dalih hidup pada era ini harus memiliki pemikiran yang terbuka, harus bertoleransi, harus menghormati kebebasan karena merupakan hak manusia, tapi justru malah dirinya sendiri yang terbawa arus.
 
Masih disebabkan oleh internet, dalam rangka menuntut ilmu internet membuat kita dapat mencari tahu apapun dalam satu genggaman, tidak perlu lagi mencari buku buku referensi yang sulit ditemukan atau tidak perlu lagi jalan ke Perpustakaan untuk mencari referensi yang lebih banyak, tinggal ketik pertanyaanpun terjawab. Bahayanya adalah saat anak muda sekarang terlena dengan kemudahan yang diberikan internet, maka yang terjadi anak muda saat ini malas untuk mempelajari langsung dari kitabnya, malas mempelajari secara keseluruhan, atau malas datang ke majlis majlis ilmu untuk mendengarkan ustad, yang mungkin baru semangat jika kajian dengan tema jodoh.

Hal ini menyebabkan pemahaman pemahaman yang didapat hanya separuh, sehingga menimbulkan presepsi yang salah terhadap islam. Yang berujung mudah mengkafirkan sesama muslim atau malah disibukan dengan berdebat tentang ‘ini bidah’ ‘itu bidah’ antar sesama.

Lalu bagaimana dalam lingkup dakwah ekonomi Syariah ditengah anak muda milenial?  Ekonomi syariah merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang membantu manusia dalam mewujudkan kesejahteraannya sesuai dengan tujuan yang ditetapkan berdasarkan Syariah. Esensi sistem ekonomi ini berdasarkan pada ketuhanan, bertitik tolak dari Allah, tujuan akhirnya kepada Allah, dan memanfaatkan sarana yang tidak lepas dari syari’at Allah.  Atau dengan kata lain merupakan praktik kegiatan ekonomi berdasarkan pada ajaran Islam.

Ekonomi Syariah sendiri memiliki peluang besar di Indonesia. Pertumbuhannya yang cukup pesat dibuktikan oleh Islamic Finance Development Report 2018 dari Thomson Reuters menunjukkan Indonesia masuk dalam daftar sepuluh negara dengan pasar keuangan syariah yang tumbuh pesat di dunia. Indonesia berada di peringkat ke-10 dari 131 negara dalam Islamic Finance Development Index 2018 dengan skor 50. Selain itu Indonesia yang merupakan sebagian besar penduduknya penganut ajaran islam menjadikan jumlah konsumen muslim mencapai 87 persen dari seluruh penduduk Indonesia, belum lagi selama 5 tahun terakhir pasar muslim di Indonesia telah mengalami revolusi karena adanya pergeseran perilaku yang sangat mendasar.

Generasi Millennialpun menentukan wajah Indonesia kedepannya. Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) ada 63 juta millennial, atau penduduk usia 20-35 tahun. Mereka ada di usia produktif. Maka besarnya jumlah penduduk millennial saat ini dapat menjadi tantangan dan peluang, terutama dalam target meningkatkan pasar ekonomi Syariah.

Akan sayang sekali jika peluang yang ada didepan mata tidak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, maka solusinya untuk dapat menghadapi kaum milenial saat ini kuncinya adalah memahami perilaku millennial dan mendorong mereka agar menjadi roda penggerak ekonomi Indonesia. Ibarat kalimat, berinovasi atau mati. Menyesuaikan diri, atau dilindas mesin perubahan zaman.

70,4 persen millennial mengakses media digital untuk mengetahui berita terkini. Kemudahan akses, multi-tasking, dan kecepatan menjadi alasan utama memilih media digital. Dan hampir seluruh aspek dalam keseharian menggunakan digital mulai dari berbelanja hingga travelling. Maka kita dapat gunakan hal tersebut (media digital) sebagai sarana dakwah kita.

Misalnya perbanyak tulisan tulisan baik berita ataupun artikel tentang pengenalan ekonomi syariah, informasikan bagaimana manfaatnya, atau ajakan untuk kaum milenial, lalu bisa dikemas dengan bahasa yang ringan dan menarik agar tulisan kita tidak kalah dengan budaya malas baca pada anak muda milenial saat ini, hal tersebut juga supaya lebih mudah untuk difahami.

Selain melalui tulisan kita bisa melalui gambar, atau yang dikenal sebagai poster digital. Kita dapat mebuat poster dimana isinya tentang info grafis-info grafis yang berkaitan. Tinggal bagaimana kita membuatnya semenarik mungkin namun tidak melewatkan informasi yang ingin disampaikan. Melalui gambar, apa yang kita ingin anak muda milenial tahu dapat tersampaikan secara keseluruhan dengan singkat padat dan jelas. Juga dapat menjangkau lebih banyak target, sebab penggunaan fitur social media seperti whatsapp status, Instagram stories, facebook stories membuat berbagi informasi khususnya gambar lebih mudah di-share.
 
Peluang yang kita punya tidak berhenti disitu, Hasil riset menunjukkan bahwa 94.4 persen millennial Indonesia telah terkoneksi dengan internet. Internet menjadi kebutuhan utama bagi millennial. Hal tersebut juga berarti milenial tidak hanya menggunakan internet untuk media social dan hiburan saja, contoh lain sperti e-banking, berbelanja, entah itu pakaian, barang elektronik, kebutuhan sehari hari, obat dan konsultasi penyakit, juga jasa pelayanan public lain seperti pembayaran, transportasi, booking tiket, atau booking hotel menjadi hal yang paling banyak diminati kaum milenial saat ini.

Maka, jadikan juga hal hal tersebut sebagai peluang untuk kita mengajak mereka. Bisa dengan meluncurkan produk tandingan dari produk produk diatas yang berdasarkan prinsip syariah, dimana semakin banyak orang yang menggunakan produk tandingan tersebut sama saja kita juga telah berhasil mengajak mereka perlahan meninggalkan system konvensional. Selanjutnya, Youtube menjadi peringkat ke empat sebagai tujuan sesorang mengakses internet setelah chatting, bwowsing, dan jejaring social.

Karenanya kita juga bisa memanfaatkan youtube sebagai sebuah sarana. Anak muda milenial sedikit sekali yang tertarik mendengarkan ceramah yang lama, mereka lebih tertarik membuka social media lalu melihat video ceramah pendek. Maka dari itu, ada baiknya kita mencoba mulai membuat video-vidio kreatif mengenai apa yang ingin kita sampaikan dengan durasi yang tidak terlalu panjang.

Tetap menjadi yang terpenting setelah kita mengetahui prilaku milenial adalah edukasi. Pendekatan pendidikan dan pengajaran agama memiliki peran untuk memberikan pondasi kuat generasi milenial ini mengenai nilai dan ajaran agama. Ibarat sebuah rumah maka pondasi menjadi hal yang sangat penting dan harus diperhatikan dengan baik, karena jadinya rumah tersebut kedepannya bergantung pada pondasi tersebut, apakah rumah tersebut akan kuat walaupun diterjang badai sekalipun atau mudah hancur karena sudah lapuk karena terik panas dan hujan.

Sama juga seperti manusia, bagaimana dia kedepannya nanti apakah dia akan tetap teguh pada prinsip agamanya (syariat) walaupun diterjang badai kehidupan atau sudah oleng padahal baru tertiup arus modernisasi. Sebab ketika seseorang sudah punya ilmunya, sudah mengetahui dan kuat dasarnya, insyaallah sudah bisa mengetahui yang mana dibolehkan oleh syariat mana yang tidak. Mereka juga akan menjadi pribadi pribadi yang berkarakter yang sesuai dengan ajaran islam.

Kesimpulannya, rubah tantangan yang ada sebagai peluang. Sangat penting juga untuk memahami perilaku objek dakwah kita, sehingga kita nanti dapat mengambil hatinya dan mudah dalam mengajak. Abbas As-Siisiy mengatakan dalam bukunya ‘Bagaimana Menyentuh Hati’ banyak cara untuk mengambil hati objek dakwah seperti mengenal si objek dengan cara yang unik, memahami sifat dan karakteristik mad’u (objek dakwah) kita agar kita tidak salah dalam mengajaknya, barulah kita mengajaknya untuk sekedar mengobrol seputar islam lalu mengajaknya kearah kebenaran.

Kita juga harus memiliki dua sifat yaitu cerdas dan bersih jika ingin dakwah kita berhasil. Cerdas disini maksudnya adalah cerdas dalam berfikir, dimana ia dapat memandang segala sesuatu dengan proporsional, dan yang dimaksud bersih adalah bersih hatinya. Tidak hanya itu, penampilan da’i pun berpengaruh pada dakwahnya.


Bagaimana cara bertuturkatanya seorang da’i akan mempengaruhi orang yang mendengarnya lalu penampilan serta akhlak yang baik akan membuat yang melihatnya menjadi tertarik dan simpati. Dan jangan sampai orang orang soleh meninggal internet atau social media, karena jika orang orang saleh meninggalkan hal tersebut, maka internet dan social media hanya digunakan untuk kemaksiatan. Maka jangan ditinggalkan tapi sama sama digunakan untuk kebermanfaatan.


Penulis: Adilia Rahayu
Mahasiswa STEI SEBI, Program Studi Akuntansi Syariah
[email protected]

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR