Pengobatan dengan Sesuatu yang Haram

Citizen Journalism

Kamis, 8 Agustus 2019 | 16:03 WIB

190808161153-pengo.png

Suaramuhammadiyah.com

Ilustrasi.


SAKIT merupakan tabiat raga manusia yang diciptakan dalam keadaan lemah. Besi yang keras saja dapat termakan karat jika tak terawat. Oleh karena itu, bukanlah satu hal yang luar biasa sebenarnya apabila ada di antara kita terkena cobaan sakit, baik sakit ringan ataupun berat.

Rasulullah menganjurkan umatnya untuk berobat yang tentunya dengan cara yang halal. Rasulullah bersabda “Allah telah menurunkan penyakit beserta obatnya, dan Ia telah menciptakan obat bagi semua penyakit, jadi berobatlah tapi jangan berobat dengan sesuai yang haram” (HR. Abu Dawud dan Thabrani).

Ibnu Mas’ud berkata mengenai Alkohol, “sesungguhnya Allah tidak menggantungkan kesembuhanmu pada sesuatu yang diharamkan kepadamu” (HR.Bukhari).

Lantas bagaimana jika pengobatan itu dengan sesuatu yang haram? Diriwayatkan dari wa’il Al-Hadrani bahwa Tariq bin Suwaid Al-Ju’fi bertanya kepada Rasulullah tentang alkohol. Beliau melarang membuatnya dan membencinya.

 Ia berkata , “kami hanya menggunakannya sebagai obat, Rasulullah bersabda “ia bukanlah obat, melainkan penyakit” (HR. Muslim).

Ibnu Atsir berkata, “minuman keras disebut penyakit karena meminumnya terhitung sebagai dosa”

Ibnu Katsir berkata bahwa pengobatan yang buruk bisa jadi karena dua hal yaitu, pertama karena ketidak sucian(najasah)yang jelas haram(seperti arak, daging bangkai, kotoran, air kencing binatang dan manusia, dll). Semua benda ini najis dan mengkonsumsinya haram, kecuali yang disebutkan oleh hadis yaitu  air kencing unta, kedua karena rasanya. Hal tersebut dianggap buruk karena semua orang umumnya tidak menyukainya.

Ibnu Qayyim berkata bahwa hal yang diharamkan pada umat ini dikarenakan sifat buruk benda haram, sehingga tidak tepat menjadikannya sebagai sebab kesembuhan menghilangkan sakit, tapi benda tersebut bisa saja menyebabkan masalah pada akidah yang efeknya jauh lebih buruk dan mengakar.

Faktanya, semua orang berakal meyakini bahwa ketika Allah melarang sesuatu pada umat-Nya, ilmu kedokteran membuktikan bahayanya dan menyebabkan tubuh jauh dari manfaat. Obat yang baik adalah yang mengobati penyakit dan hanya memiliki sedikit atau tidak sama sekali efek samping.

Allah berfirman dalam QS.Al-Baqarah ayat 173

 

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah ayar 173)

Ayat tersebut menunjukan bahwa Allah mengecualikan keadaan darurat dari pengharaman ini, keadaan darurat ini tanpa batas, syarat atau sifat. Pengecualian ini berlaku ketika ada sesuatu kebutuhanbaik dalam keadaan lapas yang sangat atau pengobatan medis ketika seseorang menderita penyakit tertentu

Para ulama mendefinisikan “darurat” sebagai situasi mendesak ketika seseorang dala, kondisi yang tidak menguntukan sehingga memaksanya melakukan perbuatan haram demi menyelamatkan dirinya dari kematian atau kerusakan anggota badan. Namun sebelumnyaaa sudah diperhitungkan manfaat yang diterima leih besar dari dampak buruk yang diterimanya. Imam Hanafi dan syafii setuju dibolehkannyha menggunakan pengobatan haram dalam kasus darurat, kecuali miras.

Berdasarkan firman Allah QS. Al-Baqarah ayat 196.

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.(QS.Al-Baqarah ayat 196)

Namun mazhab maliki dan hambali berpendapat bahwa tidak diperbolehkan menggunakan benda haram untuk pengobatan. Berdasarkan hadis Rasulullah yang artinya “Allah telah menurunkan penyakit beserta obatnya, dan Ia telah menciptakan obat bagi setiap penyakit. Jadi carilah pengobatan tapi jangan obati penyakit dengan barang haram” (HR. Abu Baud dan Ath-Thabrani). Mereka tidak menghiraukan konteks khusus dari riwayat diatas karena riwayat diatas merespon dari sebuah pertanyaan spesifik tentang penggunaan alcohol untuk medis, sebagaimana yang dipahami mazhab Hambali dan maliki.

Ada tiga syarat diperbolehkannya obat yang mengandung alkohol untuk dikonsumsi yaitu, pasien sudah benar-benar membutuhkan obat ini karena tidak ada lagi obat halal yang mempunyai manfaat serupa dengan alkohol, dosis obat tidak boleh menyebabkan gejala memabukkan sedikitpun, obat tersebut dalam dosis tinggi juga tidak boleh menyebabkan mabuk karena menambah dosis akan menimbulkan kerusakan zat lain yang kemudian menimbulkan efek mabuk. Berdasarkan hadis diatas kita mengacu kepada pendapat mazhab syafii bahwa tidak boleh menggunakan alcohol murni untuk pengobatan.

Yusuf Al-Hajj Ahmad.2016.Panduan Pengobatan Islami.Solo:Aqwam


Pengirim:
Wafa Raihany Salam
Mahasiswa semester 3 STEI SEBI
[email protected]

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.



Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR