Dogmatisme Psikologis "Rektor Impor" di Indonesia

Citizen Journalism

Kamis, 8 Agustus 2019 | 09:59 WIB

190808095950-dogma.jpg

Gedung Isola Universitas Pendidikan Indonesia Bandung


WACANA penggunaan jasa rektor asing di Indonesia kembali menjadi bahan perbincangan masyarakat di berbagai kalangan. Sejak tahun 2016 wacana ini muncul dan mendapat kritikan dari para akademisi, pemerhati dan praktisi pendidikan. hingga akhirnya menteri nasir menunda rencana ini, dan kini isu ini ramai kembali diperbincangkan.

Sebagai salah satu bagian dari sdm pendidikan, hingga kini saya tergelitik untuk mencari tahu apa yang menyebabkan isu ini menjadi pro kontra di kalangan masyarakat Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bahwa dasar pertimbangan menteri nasir mendatangkan rektor asing di beberapa perguruan tinggi di Indonesia adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi dan daya saing perguruan tinggi Indonesia di dunia internasional. Hal ini dipandang efektif di beberapa universitas ternama dunia, bahkan di Negara lain rektor dan dosen asing menjadi hal biasa. Menteri nasir menyarankan public untuk tidak melihat hal ini dari sisi harga diri, karena bagaimanapun nasionalisme akan tetap dijaga.

Ketika mendengar wacana ini kembali dipertimbangkan para pimpinan negeri, sebagian besar orang berfikir, apakah sumber daya di Indonesia tidak mumpuni menjadi rektor? Menanggapi wacana ini beberapa pemerhati pendidikan membangun persepsi ini dari sudut pandang yang berbeda, beberapa menjadi pro dan sebagian lain menjadi kontra.

Dalam tulisan kali ini, kita tidak akan berbicara tentang pro dan kontra tersebut, melainkan melihat dinamika dogmatisme psikologis dari sudut pandang psikologi lintas kultural. Kira-kira apa yang menyebabkan beberapa orang diantara kita menjadi sangat selektif dan tidak fleksibel pada isu ini?

Dalam perspektif psikologi, cara kita memandang sesuatu atau disebut dengan persepsi akan berubah sesuai dengan pengalaman kita. Dan pengalaman individu tidak lah sama. Pengalaman itu tentu kita banyak dapatkan dari lingkungan atau budaya tempat kita bertumbuh dan berkembang, sehingga hal ini menjadi bersifat kontekstual.

Sesuatu menjadi efektif diluar sana, dan belum tentu menjadi efektif didalam sini, hanya karena perbedaan cara pandang yang dipengaruhi besar oleh pengalaman belajar. Tentu dari pernyataan ini saja kita dapat simpulkan bagaimana persepsi masyarakat yang dogmatis pada isu rektor impor muncul karena pengalaman belajar kita dengan rektor asing pun tidak pernah ada.

Hal ini menjadi alasan Menteri Nasir dalam mengambil kebijakan, namun demikian alih-alih untuk membuka peluang jaringan internasional, hal ini justru malah kembali merangsang sikap-sikap kultural yang dominan berkembang terutama kaitannya dengan nilai-nilai kehormatan?

Lalu, apakah perlu terbuka untuk pengalaman baru ini, untuk membuktikan kebenaran strategi impor rektor sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi sebagaimana telah terbukti di Negara-negara lainnya.

Bagaimana pun mewujudkannya bukan hal mudah, konsep psikologi budaya besar mempengaruhi persepsi manusia, pada umumnya pengalaman dengan lingkungan membentuk dan mempengaruhi sikap kita. Sebagaimana kita lihat saat ini, persepsi masyarakat pada kemampuan orang asing berbeda dengan kemampuan orang lokal. Padahal tidak sedikit warga Indonesia yang juga menjadi dosen asing di Negara lain.

Isu ini sepintas menjadi rangsangan bagi kita untuk memikirkan solusi yang berorientasi pada akar permasalahan budaya. Sebagai contoh, karena salah satu tujuan impor rektor adalah untuk meningkatkan daya saing sdm perguruan tinggi di dalam negeri, maka apakah budaya pendidikan dan pelatihan dasar sdm nya telah melahirkan sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi? Apa perbedaan nya dengan budaya penyiapan sdm perguruan tinggi di luar negeri?

Jika dari system diklat saja ditemukan beragam perbedaan yang esensial, dengan demikian, penerapan kebijakan ini tidak hanya mempertimbangkan kualitas, reputasi calon rektor serta perbaikan atau regulasi aturan soal pendanaan saja. Melainkan juga mempertimbangkan aspek psikologis individual, seperti sikap-sikap  kultural predominan masyarakat Indonesia terutama kesiapan mental belajar individu berkenaan dengan kebutuhan apa saja yang perlu dipelajari individu di perguruan tinggi dari system pendidikan tinggi di dunia internasional dengan senantiasa menganut nilai-nilai pancasila.


Pengirim
Triana Lestari, S.Psi., M.Pd.
Dosen program studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia
[email protected]




Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR