Dilaksanakan Sukarelawan PMI dan Masyarakat

Program Surveilans Penyakit Berbasis Masyarakat Dibiayai IFRC

Bandung Raya

Kamis, 1 Agustus 2019 | 14:19 WIB

190801140824-progr.jpg

PELAKSANAAN  Program Surveilans Berbasis Masyarakat untuk mendeteksi kemungkinan adanya gejala penyakit  yang kemungkinan di satu wilayah tahap 1 sudah dilaksanakan di Kota Bogor periode th 2018 (Juni-Desember ). Sedangkan untuk tahap ke-2, sedang dipersiapkan untuk pelaksanaan di kota yang sama di pertengahan bulan Agustu 2019. Program untuk kemanusiaan yang dibiayai oleh Internaional Federasi Palang Merah tersebut, dan disalurkan melalui Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat.

Surveians bebasis masyarakat ini akan membantu pemerintan dalam bidang sosial kesehatan digolongkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Wilayah sasaran program di Jawa Barat adalah kota Bogor yaitu Kelurahan Katulampa Kec. Bogor Timur dan Kelurahan Tanah Sareal Kecamatan Tanah Sareal.

Erlan Suherlan,SH/Kepala Markas PMI Prov Jawa Barat sebagai kordinator program di Jabar mengatakan, proram tahap 1 di kota Bogor sangat posotif, karena para sukarelawan, tenaga sukarelawan dan pengurus PMI Bogor telah menemukan gejala gejala penyakit yang menimpa masyarakat di wilayahnya, kemudian dilaporkan kepada dinas terkait, seperti dinas kesehatan dan dinas pertanian. Kemudian bersama-sama melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah tidak meluasnya penyakit, apalagi menjurus pada KLB.

"Sebelum melakukan sosialisasi bersama, sejak bulan Juni 2018  program CP3 (Comunity Epidemic Pandemic Preparedness) ini melibatkan para sukarlawan PMR dan KSR dan TSR, melakukan pelatihan pelaporan secara  berjenjang samai kepada dinas terkait dan PMI setempat, dengan data yang valid untuk ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehataan (untuk jenis penyakit DBD, TBC, Difteri, Diare, ISPA), kemudian oleh Dinas Pertanian/peternakan meliputi  jenis penyakit Rabies, Fluburung, Antraks, Bruceelosis," terangnya dalam siaran persnya, Kamis (1/8/2019).

Menurut Erlan Suherlan SH, pada program CP3 tahap 1 telah dilaksanakan sosialisasi dan pencegahan penyakit seperti Keracunan keong/tutut, dan penyakit Rabies dan penyakit DBD (Demam Berdarah). Pada medio September-Oktober 2018, dilakukan pelatihan dan sosialiasai, bahkan praktek vaksinasi terhadap 300 orang pemilik hewan/anjing. Program tahap 2 kata Erlan, akan dimulai pertengahan bulan Agustus 2019 dan kembali sosialisasi bersama para sukarelawan, dinas terkait, camat, lurah dan  organsasi kemasyarakat yang peduli pada kesehatan masyarakat.

Erlan pun menyebutkan, pada hari Rabu (31/7/2019), di wisma PMI Jabar Dago Bandung, para stakholder dari Bogor mendapat masukan  dari Dr. Marion Siagian M.Epid , Kepala Bidang Yankes Dinas Kesehatan Prov. Jawa  Barat, tentang tatacara pelaporan adanya temuan penyakit di lingkungan masyrakat baik secara administratif maupun pelaporan kepada institusi terkait untuk ditindaklanjuti oleh dinas kesehatan atau dinas pertanian/peternakan.

Kegiatan ini positif untuk membantu pemerintah.Bahkan, kata Erlan mengutip harapan Dr.Marion Siagian,bahwa program  ini tidak harus mengandalkan biaya dari Federasi  Internional Palang Merah, pengurus PMI kota/Kabupaten di Jawa Barat bisa mengajukan biaya hibah kepada pemerintah daerah untuk melaksanakan program ini.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR