Kecanduan Judi Online, Tikam Mantan 196 Kali Hingga Tewas Seorang Perawat Dijatuhi Hukuman Mati

Crime Story

Rabu, 24 Juli 2019 | 16:00 WIB

190724155958-korba.jpg

dailymail

Seorang suster dari Negeri Tirai Bambu berusia 29 tahun  dijatuhi hukuman mati setelah membunuh mantan kekasihnya yang diduga menolak untuk terus meminjamkan uangnya gara-gara kecanduan judi. Korban Wang Lei (26) ditusuk 196 kali oleh Fang Yao ketika mereka bertemu di sebuah hotel untuk membahas  soal uang. Demikian diungkapkan seorang teman korban  kepada MailOnline.

Dikutip dari DailyMail, Rabu (24/7/2019) pelaku yang menggunakan pisau mengejar Wang dari lantai sembilan ke lantai satu usai bertengkar hebat. Diawali dengan menusuk leher dan tikaman di sekujur tubuhn. Pengadilan mengungkap Wang meninggal di tempat kejadian, sementara Fang langsung meninggalkan hotel.

Wang (kiri). Bersama Fang dan Tang (kanan).

Insiden terjadi sekitar pukul 05:30 pada 30 Januari 2018 di kota Yongzhou, Provinsi Hunan,  Cina. Fang ditahan  polisi pada hari yang sama. Dia dinyatakan bersalah atas pembunuhan yang disengaja dan dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan hukuman dua tahun oleh Pengadilan Rakyat Menengah Yongzhou pada pengadilan pertama per 20 Desember.

Hukuman mati dengan penangguhan hukuman adalah jenis hukuman mati berdasarkan Hukum Pidana Tiongkok. Terpidana diberi penangguhan hukuman dua tahun dari eksekusi. Pada akhir masa dua tahun ini, hukuman akan dikurangi menjadi penjara seumur hidup jika pelaku tidak melakukan kejahatan lebih lanjut dalam periode tersebut.

Orangtua korban menuntut pengadilan agar Fang segera dieksekusi. Dan pengadilan mengatakan Fang memenuhi syarat untuk hukuman yang lebih ringan karena  telah mengakui kejahatannya kepada polisi. Selain itu, Wang dan Fang berstatus pasangan kekasih  karena itu kasus ini sebagian disebabkan oleh perselisihan emosional. Demikian asumsi pengadilan.

Salah satu sudut kota Yongzhou.

Pengadilan juga memerintahkan keluarga Fang untuk membayar 32.997 yuan (Rp 67 juta) kepada keluarga korban sebagai kompensasi finansial. Menurut Tang Liping, teman Wang dan Fang, orangtua Wang tidak puas dengan keputusan pengadilan dan bersikeras agar Fang dijatuhi hukuman mati tanpa penangguhan hukuman. Mereka mengajukan banding dan kini menunggu tanggal  persidangan kedua.

“Putriku meninggal secara tragis dengan tikaman pisau Fang. Orangtua Fang bahkan belum meminta maaf sejak kejadian itu,” ujar ayah Wang awal pekan ini. "Aku harap pengadilan bisa menjatuhkan hukuman mati kepada Fang dan mengeksekusinya, nyawa dibayar nyawa," ujar petahni sederhana itu.

Tang kepada MailOnline mengatakan, "Kita tidak bisa membiarkan seorang pembunuh keluar dari penjara, misalnya, 15 tahun untuk melukai lebih banyak orang." Berteman baik dengan korban selama 15 tahun, Tang menambahkan   hingga kini jasad Wang masih tersimpan di kamar mayat. Keputusan diambil  orangtuanya yang mengaku masih menunggu putusan yang adil.

Gara-gara judi online.

Menurut Tang, Wang dan Fang bekerja sebagai perawat. Awalnya mereka  saling mencintai tetapi hubungan  memburuk pada awal 2017 ketika Fang kecanduan judi online. Fang dikatakan mulai meminjam uang dari Wang dan teman-temannya hingga berulang kali.

Fang telah meminjam setidaknya 720.000 yuan (Rp 1,4 miliar) dari berbagai sumber, termasuk setidaknya 280.000 yuan (Rp 556 miliar) dari Wang dan 200.000 yuan (Rp 339 juta) dari dirinya sendiri. Dikatakan Fang tidak pernah mengembalikan uang pinjaman tersebut.

Fang sebelumnya ditahan polisi pada tahun 2017 setelah mengancam Wang dengan pisau dan memaksanya  meminjamkan lebih banyak uang. Pasangan itu putus di tahun yang sama. Pembunuhan  terjadi ketika mantan kekasih tersebut bertemu di sebuah hotel sebulan kemudian.

Wang ditemukan dengan 196 luka tikam di sekujur tubuh. Berbicara atas nama orangtua korban yang berduka, Tang mengatakan pihak keluarga kini mencari bantuan hukum untuk persidangan kedua. "Kuharap ada pengacara yang baik yang menghubungi keluarga temanku ini dan membantu mereka mendapatkan  keadilan," tambahnya. Di luar itu tanggal persidangan ulang belum diumumkan oleh pengadilan.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR