Hadapi Industri 4.0, Puluhan Pelaku UMKM Kab. Bandung Diberikan Pelatihan

Bandung Raya

Senin, 22 Juli 2019 | 13:24 WIB

190722132556-hadap.jpg

net

Ilustrasi.


PARA pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) diberikan pelatihan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bandung bersama salah satu perusahaan ritel di Indonesia, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, yang digelar di Bale Sawala Gedung Setda Kabupaten Bandung, Soreang, Senin (22/7/2019).

Pelatihan manajemen ritel yang melibatkan puluhan pelaku UMKM di Kabupaten Bandung itu, digelar dalam rangka memberikan kesiapan menghadapi industri 4.0. Mereka dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi, guna meningkatkan penjualannya.

Kepala Disperindag Kabupaten Bandung, Popi Hopipah mengaku, pihaknya sangat mendorong pelatihan tersebut. Karena, para pelaku UMKM harus siap menghadapi industri 4.0 dan melek teknologi informasi atau kemampuan menggunakannya.

"Kami sangat mendorong, apalagi sekarang kebanyakan menggunakan aplikasi. Semoga, melalui pelatihan ini para pelaku UMKM di Kabupaten Bandung dapat merubah manajemen untuk mengaplikasikan industri 4.0," ujar Popi usai membuka kegiatan pelatihan.

Popi mengharapkan, yang paling utama dari pelatihan ini ada perubahan sikap mental dari para pelaku UMKM, terutama memanaj keuangan dan bisa mengaplikasikan program industri 4.0 ini, karena semua program memakai aplikasi.

Dirinya mengklaim, produk UMKM asal Kabupaten Bandung sudah berani tayang (memasarkan) di pusat-pusatperbelanjaan hampir di seluruh Indonesia. Melalui pelatihan tersebut, pihaknya berharap UMKM Kabupaten Bandung tetap eksis.

"Untuk menunjang hal tersebut, harus didorong dinas lainnya, tidak hanya Disperindag. Seperti Diskominfo harus ada pelatihan agar pelaku UMKM melek teknologi. Kami ingin mengangkat investor dan kami juga punya kewajiban untuk memajukan masyarakat Kabupaten Bandung," ungkapnya.

Sementara itu, General Manager Member Relations Alfamart, Dwi Aryo Damasto mengatakan, dalam pelatihan tersebut para peserta memperoleh materi terkait dengan manajemen penataan barang, pengaturan stok barang, manajemen keuangan (cash flow), tips mengamati tren pasar terkait produk yang sedang diminati, serta pelayanan.
 
"Mayoritas para pedagang telah menjalankan usahanya sesuai dengan prinsip manajemen ritel modern, namun tidak mengetahui mengapa hal tersebut harus dilakukan. Salah satunya mengenai pentingnya pembukuan. Mayoritas para peserta tidak membuat catatan pembukuan. Jadi, kalau ditanya berapa besar keuntungan harian yang diperoleh, pada umumnya peserta tidak tahu," terang Dwi Aryo.

Dwi menilai, tidak sedikit pelaku UMKM yang tidak berkembang, bahkan merugi karena pengelolaan yang tidak baik. Salah satu contoh penyebab kerugiannya, kata dia, karena tidak ada pencatatan dan pemisahan antara barang yang menjadi modal usaha dengan yang dikonsumsi sendiri.

"Ada puluhan ribu pelaku UMKM yang telah menggunakan aplikasi Alfamikro, untuk membeli berbagai produk dengan harga yang kompetitif dan pelayanan yang cepat. Sekarang total pengusaha yang menggunakan aplikasi Alfamikro di seluruh Indonesia mencapai 46 ribu. Hal itu mengalami peningkatan setiap tahunnya," ujarnya.

Menurutnya, perkembangan itu semakin pesat dengan hitungan 10 ritel di setiap daerah dapat bermitra dengan 50 UMKM atau warung binaan. "Keuntungannya, warung pesan kepada kita. Kita antar dan harga yang dijual dengan harga modal. Di Kabupaten Bandung sendiri ada sekitar 1.200 warung binaan," katanya.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR