Bersedekah Karena Ingin Kaya Raya

Ragam

Sabtu, 20 Juli 2019 | 04:52 WIB

190719225927-berse.jpg

Net


ALLAH ‘Azza wa Jalla Maha Pemurah, sehingga nikmat dan karunia-Nya senantiasa menyertai hidup umat manusia. Begitu pemurahnya Allah ‘Azza wa Jalla sampai-sampai nikmat-Nya dapat dirasakan sampaipun oleh orang-orang kafir dan yang banyak bergelimang dalam dosa. Yang demikian itu karena nikmat dunia tiada artinya di sisi Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

“Andai kehidupan dunia di sisi Allah senilai sayap nyamuk niscaya Allah tidak mungkin membiarkan orang kafir menikmati walau hanya seteguk air.”  (HR. At-Tirmizy).

Demikianlah kedudukan harta kekayaan dunia di sisi Allah, sehingga wajar bila orang kafir dapat saja menjadi kaya bahkan mungkin juga orang terkaya di dunia ini. Namun beda halnya dengan iman kelapangan dada dengan cahaya takwa. Iman dan takwa begitu bernilai disisi Allah sehingga hanya diberikan kepada hamba yang Allah cintai.

Sebagaimana yang dituturkan oleh junjungan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sejatinya Allah telah membagi akhlaq kalian sebagaimana Allah juga telah membagi rezeki kalian. Dan sejatinya Allah ‘Azza wa Jalla dapat saja memberi kakayaan dunia kepada orang  yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun untuk urusan agama, maka Allah tidak mungkin memberikannya kecuali kepada orang yang Allah cintai. Barangsiapa yang telah Allah berikan bagian dalam urusan agama, maka itu bukti bahwa Allah mencintainya.” (HR. Ahmad dan lainnya).

Berangkat dari hal ini, Islam mendorong umatnya untuk mengorbankan dunianya demi membangun imannya. Dan sebaliknya, Islam juga mengharamkan atas mereka perbuatan mengorbankan urusan agama demi mendapatkan kepentingan dunia.

Sedekah Agar Kaya

Hidup berkecukupan dan bahkan harta melimpah ruah adalah impian setiap manusia. Bahkan impian ini tidak akan pernah putus sampaipun setelah kita mencapai umur lanjut.

“Anak keturunan Adam tumbuh kembang dan ada dua hal yang turut tumbuh dan berkembang bersamaan dengan usianya: cinta terhadap harta kekayaan dan angan-angan panjang umur.” (HR. Bukhari).

Impian menjadi seorang yang kaya raya secara tinjauan hukum syariat adalah sah-sah saja, asalkan tidak menjadikan Anda lupa daratan sehingga menghalalkan segala macam cara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan:

“Jangan pernah engkau merasa rezekimu telat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya.  Karena itu, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki: yaitu dengan menempuh jalan yang halal dan meninggalkan jalan yang haram.” (HR. Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim).

Diantara sikap proporsional dalam mencari kekayaan dunia ialah dengan tidak menjadikan amalan akhirat sebagai sarana mencari kekayaan sesaat di dunia fana ini. Demikianlah dahulu pesan Allah ‘Azza wa Jalla yang disampaikan melalui lisan orang-orang shaleh dari para pengikut Nabi Musa ‘alaihissalam kepada Qarun, yang artinya:

“Dan carilah (kebahagiaan) negeri akhirat dengan kekayaan yang telah Allah anugerahkan kepadamu, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”  (QS. Al-Qashash: 77)

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan berkata:

Mereka menganjurkan kepada Qarun agar menggunakan karunia Allah berupa harta kekayaan yang melimpah ruah dalam ketaatan kepada Allah. Hendaknya kekayaan yang ia miliki digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan segala bentuk amal kebajikan. Dengannya ia mendapatkan pahala besar baik di dunia maupun di akhirat.

Walau demikian bukan berati ia harus melalaikan kehidupan dunianya dengan tidak makan, minum, pakaian, rumah, dan istri. Yang demikian itu karena Allah memiliki hak, sebagaimana dirinya juga memiliki hak yang harus ia tunaikan. Dan istrinya pun memiliki hak yang harus ia tunaikan demikian pula tamunya juga memiliki hak yang harus ia tunaikan. Karena itu tunaikanlah masing-masing hak kepada pemiliknya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3:484)

Upaya membangun sukses kehidupan dunia bukan berarti harus mengorbankan segala hal termasuk kehidupan kita kelak di akhirat. Dan percayalah bahwa bila kita memenuhi hak-hak Allah, niscaya Allah memudahkan urusan Anda dalam melapangkan rezeki Anda.

Renungkanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

“Barangsiapa yang orientasinya adalah urusan akhirat, niscaya Allah meletakkan kekayaannya di dalam jiwanya. Sebagaimana Allah juga akan menyatukan urusannya dan kekayaan dunia akan menghampirinya dengan mudah. Namun sebalikya, orang yang orientasinya adalah urusan dunia, niscaya Allah jadikan kemiskinannya ada di depan matanya. Sebagaimana Allah juga mencerai-beraikan  urusannya dan tiada kekayaan dunia yang menghampirinya selain yang telah Allah tentukan untuknya.” (HR. At Tirmidzi dan lainnya).

Allah SWT berfirman, “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (QS. An-Nahl: 107).

Dengan demikian keutamaan akhirat senantiasa menjadi tujuan utama dan motovasi terbesar bagi Anda untuk mengerjakan berbagai amal kebajikan dan amal saleh.

Sebagai contohnya adalah sedekah. Dalam berbagai dalil ditegaskan bahwa Allah menjanjikan kepada orang yang bersedekah balasan di dunia, berupa digantikan dengan harta yang lebih banyak dan baik, disembuhkan dari penyakit dan lain sebagainya. Walau demikian, bukan berarti kita dibenarkan untuk menjadikan balasan di dunia sebagai obsesi atau tujuan utama ketika beramal. keutamaan sedekah di dunia berfungsi sebagai motivasi tambahan agar kita semakin bersemangat dalam beramal.


Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR