Tak Ada yang Merasa Aman dari Makar Allah, Kecuali Orang-orang Merugi

Ragam

Jumat, 19 Juli 2019 | 00:11 WIB

190718215807-tak-a.jpg

www.tebyan.net


PARA Sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah orang-orang yang bersemangat melakukan amal soleh yang terbaik dan sempurna diiringi dengan perasaan takut. Mereka takut jangan-jangan amalnya tidak diterima. Diiringi perasaan khawatir jangan-jangan mereka termasuk orang munafik.

Ibnu Abi Mulaikah berkata, "Saya menjumpai 30 orang Sahabat Nabi seluruhnya mengkhawatirkan kemunafikan dalam dirinya". (Shahih Bukhari).

Umar bin al-Khottob pernah menanyakan kepada Hudzaifah bin al-Yaman apakah nama beliau masuk dalam daftar orang-orang munafik yang disebut Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Para Sahabat Nabi adalah orang-orang dengan amal ibadah berkualitas tinggi, namun mereka tidak ujub (merasa bangga diri) terhadap amal yang telah dikerjakan. Mereka memadukan antara perasaan berharap terhadap rahmat dan ampunan Allah dengan perasaan takut terhadap adzab Allah pada porsi yang tepat dan sesuai.

Jika seseorang terlalu menggantungkan pada luasnya rahmat Allah SWT, ampunan Allah yang berlimpah, dan melupakan bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Maha pedih adzabNya, ia akan bermudah-mudahan. Ia akan merasa aman dari makar Allah.

“Apakah kalian merasa aman dari Makar (istidraj dan adzab) Allah? Tidak ada yang merasa aman dari Makar Allah kecuali orang–orang yang merugi” (Q.S al-A’raaf:99).

Sebaliknya, seorang yang dominan membaca dan merasakan ancaman-ancaman Allah, kerasnya siksaan, dan semisalnya, kemudian melupakan rahmat dan ampunanNya akan berputus asa dari rahmat Allah.

“Katakanlah : Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Pengampun lagi Penyayang” (Q.S Az-Zumar:53).

Perasaan berharap di satu sisi, takut di sisi lain. Dua hal ini harus berada pada porsi yang tepat dan sesuai, serta tidak berat sebelah. Dalam Alquran, Allah mengajarkan manusia untuk memiliki dua perasaan itu secara seimbang.

Perhatikan ayat-ayat berikut yang menyebutkan Sifat-Sifat Allah terkait dengan pembangkitan dua perasaan itu secara berimbang:

“Kabarkan kepada hamba-hambaKu bahwa Aku adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwasanya adzabKu sangat pedih “ (Q.S Al-Hijr 49-50)

“Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat adzabNya, dan sesungguhnya Ia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “(Q.S AlAn’aam : 165)

“Ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Keras Siksa-Nya dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S al-Maidah : 98)

"Allah adalah Pengampun dosa dan Penerima taubat, keras siksa-Nya…" (Q.S Ghofir/ al-Mu’min : 3).

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR