Heat stroke Mengancam, Para Calon Jamaah Haji Diminta Bawa Spray Air

Haji

Minggu, 14 Juli 2019 | 18:17 WIB

190714180002-heat-.jpg


PENYELENGGARAAN ibadah haji tahun ini bersamaan dengan musim panas yang melanda Arab Saudi. Suhu di Arab Saudi diperkirakan akan berada di atas 42 derajat celcius. Kondisi ini berpotensi menyebabkan heat stroke imbas paparan panas. 

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi, Chanifah Listyarini menjelaskan, heat stroke merupakan terjadinya kegagalan tubuh dalam mengadaptasi suhu panas. Heat stroke menyebabkan fungsi tubuh tak berjalan baik, bisa mengakibatkan syok, kerusakan otak, dan bahkan kematian.

"Heat stroke adalah kondisi suhu tubuh mencapai 40 derajat celcius yang disebabkan oleh kenaikan suhu lingkungan atau aktivitas yang dapat meningkatkan suhu tubuh. Pada lansia yang masuk resiko tinggi dapat menyebabkan kematian," ungkap Rini, sapaan Chanifah Listyarini saat dihubungi galamedianews.com, Minggu (14/7/2019).

Menurut Rini, orang yang  terkena heat stroke mengalami gejala seperti demam tinggi di atas 40 derajat, berkeringat deras sakit kepala, berkunang-kunang, kepala ringan tidak nyaman, kulit memerah dan kering, mual dan muntah-muntah.

"Selain itu, kesadaran atau respon melambat. Serta lonjakan denyut nadi mendadak, dan bisa terjadi pingsan," bebernya.

Selain heat stroke, hal lainnya yang harus diwaspadai, kata Rini, adalah  penyakit Mers - Cov (middle east respiratory syndrome corona virus), yakni virus  yang menyerang saluran pernafasan bagian bawah.

"Penyakit ini ditularkan melalui binatang, diantaranya unta. Penularannya bisa langsung maupun tidak langsung. Yang perlu diwaspadai lainnya adalah penyakit kholera, yang disebabkan kontaminasi makanan minuman oleh bakteri vibrio kolera," terangnya. 

"Serta gangguan saluran pernafasan seperti asma, bronchitis, dan pnemonia. Penyakit hiperpensi dan serangan jantung juga harus diwaspadai," sambung Rini.

Untuk itu, ia mengimbau calon jemaah haji mempersiapkan segala sesuatunya, membawa obat-obatan rutin yang biasa dikonsumsi dari tanah air, khususnya penderita penyakit hipertensi, jantung, asma, dan lain-lain.

"Jaga kebersihan diri, cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebelum makan, setelah BAB, dan menggunakan sanitasi umum. Lindungi diri dari sengatan matahari dengan menggunakan payung, kacamata, masker, topo, dan bawa spray air," terangnya.

Selain itu, lanjut Rini, jaga kebutuhan cairan tubuh dengan mengkonsumsi air putih yang cukup, minum 1,5 - 2 liter per hari, serta konsumsi buah dan sayur yang cukup. Kurangi minuman mengandung kafein dan soda. Serta kurangi aktifitas di udara terbuka terlalu lama.

"Hindari kontak dengan unta, dan jangan minum susu unta yang belum dipasteurisasi. Apabila badan merasa ada gangguan, segera hubungi petugas kesehatan yang ada di kloter," tuturnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR