Aktivis Lingkungan AS Sebut Penerapan Zero Waste di Kota Bandung Paling Baik

Bandung Raya

Jumat, 12 Juli 2019 | 18:15 WIB

190712175658-aktiv.jpg

Rio Ryzki Batee


AKTIVIS lingkungan asal Amerika Serikat, Prof Paul Connett menilai Kota Bandung paling baik dalam melakukan penerapan metode zero waste, dibanding kota lainnya di Indonesia. Pengelolaan sampah yang cukup berjalan baik ini, terlihat dari Kampung Kang Pisman yang berada di RT 01 dan RT 02, RW 07, Kelurahan Cihaurgeulis.

Saat ini, Ia sedang melakukan tour di lima negara yakni Libanon, Italia, China, Philipina, dan Indonesia dalam mengkampanyekan metode zero waste tersebut.

"Saya mengunjungi empat sampai lima kota di Indonesia untuk menerapkan metode zero waste, dan Kota Bandung merupakan yang paling berhasil," ungkapnya ketika mengunjungi Kampung Kang Pisman di RW 07, Kelurahan Cihaurgeulis, Jln. Katamso, Kota Bandung, Jumat (12/7/2019).

Pihaknya mengapresiasi dengan apa yang telah dilakukan oleh masyarakat dan Pemkot Bandung dalam upaya dukungan terhadap pengelolaan sampah, salah satunya dengan Gerakan Kang Pisman. Dimana gerakan ini, dianggap sejalan dengan konsep metode yang Ia kembangkan dan ingin diimplementasikan ke seluruh dunia.

"Saya meyakini bahwa zero waste dapat menjadi solusi global dan membawa perubahan panjang bagi peradaban umat manusia. Maka saya sangat bangga dan mengapresiasi apa yang telah dilakukan Kota Bandung, untuk dapat menjadi model perncotohan bagi wilayah lain di Indonesia dan berbagai negara di belahan dunia," tuturnya.

Menurutnya, pengembangan Kawasan Bebas Sampah (KBS) di Kota Bandung lebih maju ketimbang daerah asalnya di Amerika Serikat yang selalu mengutamakan teknologi, tapi tidak memperhatikan akar permasalahan yang ada. Tetapi di Indonesia, khususnya Kota Bandung, yang terjadi sebalikya dan terbukti berhasil.

"Di Amerika Serikat kita harus mengubah filosofi dalam mengonsumsi sesuatu, tapi kalian semua sudah memiliki tempat itu dan kalian semua sudah lebih maju dari Amerika Serikat. Kesalahan kami terlalu menekuni perkembangan teknologi, padahal yang diperlukan adalah perkembangan sosial," terangnya.

Connett menjelaskan, gerakan Kang Pisman bukan hanya menjadi seruan sesaat semata, tetap menjadi edukasi berkelanjutan bagi masyarakat dalam memperlakukan sampah.

"Ini sangat baik dengan partisipasi masyarakat yang sudah mulai memilah sampah dari rumah. Hal ini sangat membantu para aktivis lingkungan, termasuk pemerintah yang hadir memberikan dukungannya secara maksimal," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Walikota Bandung, Yana Mulyana yang berharap dengan kehadiran Prof Paul Connett sebagai salah satu penemu zero waste dapat menjadi penyemangat bagi masyarakat, untuk tetap konsisten meningkatkan gerakan Kang Pisman di wilayah tersebut.

"Sebetulnya Prof Paul Connett dulu pernah datang kesini sekitar tahun 2016 dan memberikan sebuah metode terkait zero waste, yaitu Reduce, Reuse, dan Recyle (3R) untuk komunitas disini, kemudian diadaptasi menjadi Kang Pisman. Setelah tiga tahun, beliau sangat terkejut melihat perkembangan dari perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat, dalam memperlakukan sampah sebagai sahabat dan memiliki nilai manfaat ekonomis bagi mereka," jelasnya.

Oleh karena itu, keberhasilan yang telah ditorehkan oleh masyarakat di RW 07 Kelurahan Cihaurgeulis, dapat menjadi model percontohan dan lokasi studi banding bagi wilayah-wilayah kelurahan yang ada di Kota Bandung. Terlebih pengelolaan sampah telah menjadi permasalahan bagi Kota Bandung, yang bukan lagi hanya di sektor kewilayahan.

"Yang beliau sampaikan dulu bukan metode pengolahan sampah, tapi lebih ke perubahan perilaku masyarakat terhadap sampah, karena kesadaran inilah hal yang paling sulit untuk dapat menciptakan nol sampah di masyarakat," ucapnya.

Pemdamping kawasan bebas sampah untuk wilayah Kelurahan Cibeunying Kaler  Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, Rianto menuturkan rata-rata produksi sampah sekitar 176 kilo perminggu dari 62 rumah di RT 01&02, RW 07, Kelurahan Cihaurgeulis.

Dikatakannya pola pemilahan sampah ini memberikan keuntungan lebih dalam hal peningkatan ekonomi, sehingga memberikan motivasi warga untuk semakin giat melakukan pemilahan terhadap sampah, khususnya jenis sampah anorganik.

"Contohnya botol kemasan air mineral, kalau di jual langsung ke pengepul harganya Rp. 1500 per kilogram, tapi kalau yang sudah polos atau dilepas label botolnya bisa sampai empat kali lipat kenaikan harganya atau sekitar Rp. 7000 per kilonya. Makanya anak-anak karang taruna yang mengelola bank sampahnya, jadi makin semangat untuk membersihkan sampah-sampah itu," paparnya.

Diakuinya seiring masifnya edukasi dan  penerapan program Kang Pisman di wilayahnya, dapat terjadinya peningkatan kesadaran dan konsistensi semangat bagi masyarakat.

Penerapan pola pemilahan sampah yang langsung dari sumbernya melalui program kegiatan kurangi, pisahkan, dan manfaatkan (Kang Pisman) terus digalakan oleh masyarakat di RT 01 dan RT 02, RW 07 Kelurahan Cihaurgeulis selama kurun waktu setahun ini. Hasilnya, 80 persen warga pun terlibat aktif, sehingga menobatkan wilayah tersebut sebagai kawasan bebas sampah dan menjadi percontohan bagi beberapa kelurahan lain di Kota Bandung.

"Mudah-mudahan kesadaran warga untuk memilah sampah langsung dari sumbernya, dapat jadi aktivitas keseharian di rumahnya masing-masing," tambahnya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR