Sambil Meneteskan Air Mata, Bupati Bekasi Nonaktif Minta Dihukum Ringan

Meja Hijau

Rabu, 15 Mei 2019 | 13:08 WIB

190515131038-sambi.jpg

Darma Legi


BUPATI Bekasi nonaktif, Neneng Hasanah Yasin menyampaikan pledoi atau nota pembelaan dalam perkara suap perizinan proyek Meikarta. Sambil terbata-bata dan sesekali mengeluarkan air mata, Neneng meminta majelis menjatuhkan hukuman seringan-ringannya.

Persidangan agenda pembacaan pledoi digelar di Pengadilan Tipikor Bandung, Jln. L. L. R. E Martadinata, Kota Bandung, Rabu (15/5/2019). Sebelumnya, pada persidangan pekan lalu, Neneng dituntut hukuman 7,5 tahun penjara dengan denda Rp 250 juta subsidair 4 bulan kurungan.

Oleh Penuntut Umum KPK, Neneng dianggap terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi berupa menerima suap terkait pengurusan izin Meikarta sebesar Rp 10.830.000.000 dan 90 ribu dolar Singapura.

Ia juga dituntut hukuman tambahan berupa uang pengganti Rp 318 juta, yang jika tidak dibayar dalama waktu 1 bulan maka diganti pidana penjara 1 tahun. Selain itu, ia pun dituntut agar hak politiknya dicabut selama 5 tahun.

Dalam pleidoinya, Neneng mengakui apa yang dibacakannya bukanlah nota pembelaan. Itu karena posisi dirinya yang sudah tentu bersalah. Dengan penyampaian pleidoi, Neneng menilai tidak mungkin dirinya terbebas dari semua tuntutan Penuntut Umum KPK.

"Ini hanyalah permohonan bersalah, saya minta maaf kepada majelis, dan demi AllAh tidak ada sedikit pun saya untuk mengingkari dari awal proses pemeriksaan," tutur Neneng.

Neneng menegaskan, dari awal penyidikan di KPK dirinya sangat kooperatif hingga membuat perkara yang lebih besar terungkap. Di sisi lain Neneng juga mengakui jika perbuatannya tidak mencerminkan tugasnya sebagai kepala daerah.

"Makanya saya kembalikan seluruh kerugian negara. Saya akui perbuatan tersebut dan membuka perkara seluruhnya. Semua saya lakukan agar majelis memberikan putusan yang seringan-ringannya," tambah Neneng.

Sebagai bahan pertimbangan majelis hakim, Neneng menyebut dirinya masih memiliki anak-anak yang masih kecil. Tidak mudah baginya untuk berpisah dengan anak-anaknya, yang paling besar berumur 6,5 tahun dan yang paling kecil berumur 26 hari.

"Ini merupakan pukulan berat bagi saya dan keluarga, membuat efek jera bagi saya. Saya khilap tidak menyangka ini semua akan terjadi. Saya minta hukuman yang seringan-ringannya dan kepada penuntut saya mohon tidak memberikan tuntutan yang lebih tinggi. Mudah-mudahan majelis bisa mempertimbangkannya," harap Neneng.

Selain pleidoi pribadi, kuasa hukum Neneng pun akan mengajukan pleidoi. Hingga kini sidang masih berlanjut dengan pembacaan pledoi terdakwa lainnya, yakni Jamaludin (eks Kepala Dinas PUPR Pemkab Bekasi), Dewi Tisnawati (eks Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu/PMPTSP Pemkab Bekasi), Sahat Maju Banjarnahor (eks Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Pemkab Bekasi) dan Neneng Rahmi Nurlaili (eks Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas PUPR Pemkab Bekasi).

Sebelumnya terdakwa Jamaludin, Dewi, Sahat dan Neneng Rahmi dituntut hukuman selama 6 tahun penjara, denda Rp 200 juta, subsidair 3 bulan kurungan. Untuk Dewi dan Sahat diberi tambahan hukuman berupa uang pengganti Rp 80 juta subsidair 7 bulan dan Rp 50 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR