Berlaku di Ruang Publik, Selama Ramadan Pria Iran Dilarang Menatap Perempuan

Dunia

Selasa, 14 Mei 2019 | 11:45 WIB

190514114532-berla.jpg

dailymail


Kaum pria di Iran diperintahkan untuk tidak menatap perempuan selama bulan Ramadan, utamanya di jalanan. Ini diberlakukan sebagai bagian dari tindakan tegas rezim berkuasa di tengah sanksi AS dan sejumlah kerusuhan sipil. Pengadilan negara juga mengumumkan siapa pun yang makan di depan umum selama Bulan Puasa atau memainkan musik melalui radio mobil akan ditangkap.

"Saran pribadi saya kepada para wanita adalah hormati jilbab lebih dari sebelumnya dan kaum pria  harus menghindari menatap langsung  pejalan kaki wanita saat beraktivitas," ujar Gholam-Hossein Esmaili, juru bicara pengadilan. "Siapa pun yang mengabaikan instruksi ini selama bulan Ramadan  akan dijatuhi  hukuman dari unit penegak hukum."

Look out!

The viral clip.

Dikutip dari DailyMail, Selasa (14/5/2019) aturan baru diluncurkan saat aparat atau polisi moral melakukan penyelidikan atas video yang viral media sosial. Klip memperlihatkan siswa sekolah menari sambil mendengarkan lagu pop. Menteri Pendidikan Iran Mohammad Bathaei mengatakan tim khusus sedang memburu sumber video.

“Musuh  mencoba melakukan berbagai cara untuk menciptakan kecemasan  termasuk menyebarkan video-video yang mengganggu seperti ini," ujar  Bathaei. "Aku yakin ada  komplotan politik di balik beredarnya  klip-klip tak  pantas  ini di sekolah-sekolah." 

Video  memperlihatkan siswa dan sejumlah guru  menari diiringi lagu Gentleman milik rapper AS-Iran Sasy. Anggota parlemen konservatif garis keras  menyerukan agar kepala sekolah para siswa tersebut dipecat. 

Salah satu adegan dalam klip yang viral.

Ayatollah Abbas Ka'bi, anggota Dewan Wali Konstitusi Iran mengatakan video viral itu memicu perang budaya antara musuh dengan Iran. Pengetatan aturan berlangsung di tengah sanksi AS untuk ekspor minyak  dan sektor energi yang membawa Iran dalam krisis ekonomi. Mata uang real saat ini hampir kolaps, sementara inflasi diprediksi mencapai 40 persen.

Aksi mogok buruh dan pegawai negeri kini biasa terjadi dan pemerintah juga menghadapi peningkatan gerakan hak-hak perempuan. Peradilan dan pasukan keamanan Iran saat ini didominasi  garis keras yang meluncurkan pembatasan  perilaku yang dianggap tidak Islami. Pasukan keamanan di Irak  pun melarang jins robek-robek dan celana pendek.

Kepala sekolah dituntut mundur.

Polisi di Kirkuk menangkap siapa saja yang mengenakan celana jins yang memperlihatkan “terlalu banyak bagian kaki” atau jins modis bermodel robek.  Jaringan Kurdistan 24 melaporkan sudah 20 orang yang ditahan karena pelanggaran yang berlangsung sepanjang Ramadan ini. 

Sementara itu kalangan universitas menggelar protes di kampus terkait meningkatnya tekanan pihak berwenang terhadap perempuan untuk mengenakan jilbab  di depan umum. Laporan kantor berita Iran ISNA, bentrokan terjadi antara mereka yang mendukung kebebasan tidak berjilbab dengan mereka yang mendukung aturan konservatif di  Universitas Teheran.

Aturan diperketat selama Ramadan.

Jilbab diwajibkan untuk semua wanita di Iran. Mereka yang melanggar dihukum dua bulan penjara atau kurang dan didenda sekitar £ 20. ISNA melaporkan bulan Mei lalu pengacara HAM Nasrin Sotoudeh dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara setelah membela demonstran anti-jilbab. Otoritas Iran mengadopsi pendekatan lebih keras terhadap protes semacam itu sejak 2017 setelah puluhan wanita secara terbuka melepas jilbab mereka.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR