Menteri: Promosi Pariwisata ke Cina Harus Ditingkatkan

dok

Turis asing yang berkunjung ke Indoensia

Menteri: Promosi Pariwisata ke Cina Harus Ditingkatkan

Wonderful Indonesia

Jumat, 10 Februari 2017 | 07:54 WIB

Wartawan: Brilliant Awal

MENTERI Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan Indonesia masih harus meningkatkan promosi pariwisatanya ke Cina untuk mencapai target 20 juta wisman pada 2019.

"Setiap tahun jumlah turis Cina ke mancanegara rata-rata 100 juta orang. Namun, hanya sekitar 1 persen yang ke Indonesia. Padahal, promosi sudah kerap dilakukan," katanya dalam pengarahannya kepada seluruh kepala perwakilan RI di Cina di Beijing, Kamis (9/2/2017) malam.

Ia menuturkan, saat ini Cina tengah mengalami "over investment" di dalam negeri yang dapat dijadikan peluang oleh Indonesia.

"Indonesia harus dapat menarik banyak investasi dari Cina. Misalnya, untuk infrastruktur, pengembangan manufaktur, dan menarik turis dari Negeri Panda tersebut," tutur Bambang.

Ia mengemukakan, turis mancanegara terbesar ke Indonesia masih Malaysia dan Singapura, disusul Jepang dan Cina, Korea Selatan, India, Australia, dan negara lain.

"Jika kita petakan, untuk negara ASEAN seperti Malaysia dan Singapura, kita relatif tidak perlu lagi promosi karena mereka sudah lebih mengenal Indonesia, jarak pun dekat," katanya.

Dalam rapat terbatas mengenai "Branding Indonesia", khusus pariwisata, beberapa waktu lalu, kata Menteri, terungkap Cina termasuk ke dalam kategori jumlah turis dan minatnya ke Indonesia masih sangat sedikit.

"Pengertian sedikit di sini adalah jumlah kunjungan turis Cina ke Indonesia dibandingkan jumlah seluruh turis Cina yang melancong ke mancanegara. Potensinya sangat besar sekitar 100 juta turis Cina bepergian ke mancanegara setiap tahun, tetapi yang berlibur ke Indonesia masih sedikit, yakni hanya 1 persen," ujar Bambang.

Menurut dia, yang harus diwaspadai adalah minat turis Cina ke Indonesia juga masih sedikit. Hal ini banyak faktor, antara lain, kurangnya promosi.

Selain itu, kualitas turis Cina ke Indonesia juga masih rendah, dari sisi "spending". Padahal, orang Cina itu jika berbelanja tidak tanggung-tanggung, jika melancong ke Eropa, seperti Paris.

Bagaimanapun, lanjut Bambang, sektor pariwisata menjadi penting bukan karena jumlah turis yang banyak, melainkan jumlah pengeluaran yang dilakukan turis selama berlibur di suatu destinasi, dalam hal ini Indonesia.

"Turis Cina, kelas dan kualitasnya yang ke Indonesia juga masih rendah. Jadi, jumlahnya masih rendah, kualitas dan kelasnya rendahnya, minatnya ke Indonesia juga rendah. Ini tantangan bagi perwakilan RI di Cina untuk berupaya lebih meningkatkan turis Cina ke Indonesia," katanya.

Duta Besar RI untuk Cina dan Mongolia Soegeng Rajardjo mengatakan bahwa promosi Indonesia dapat secara simultan, yakni di dalam negeri dan luar negeri, antara lain, melalui perwakilan RI seperti Kedutaan Besar RI dan Konsulat Jenderal RI.

"Perilaku kita di dalam negeri, juga salah satu bentuk sederhana dari promosi kepada turis yang tengah berlibur di Indonesia. Buatlah Indonesia aman dan nyaman bagi turis yang datang," katanya dikutip Antara.

Dubes Soegeng menambahkan bahwa "branding nation" untuk pariwisata Indonesia, tidak perlu muluk-muluk, tetapi mudah diingat dan dipegang teguh oleh semua pemangku kepentingan di dalam negeri sehingga menarik minat investor dan turis datang ke Indonesia.

Rapat Koordinasi Perwakilan RI di Cina berlangsung 2 hari dihadiri Konsulat Jenderal RI di Shanghai, Guangzhou, Hong Kong, perwakilan Bank Indonesia di Tokyo, seluruh perwakilan bank BUMN dan maskapai Garuda Indonesia.


Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR