Mengaku Orang Pintar, RGS Perdayai 20 Gadis Dibawah Umur

TKP

Rabu, 15 Mei 2019 | 20:29 WIB

190515204321-menga.jpg

RASA sesal kini menghinggapi RGS, warga Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Pemuda berusia 26 tahun tersebut terpaksa harus berurusan dengan pihak kepolisian karena diduga telah melakukan pencabulan kepada anak di bawah umur.

Tak tanggung-tanggung, korban akibat aksi tak terpujinya itu bahkan mencapai 20 orang. Akibat aksi bejadnya tersebut, RGS pun terpaksa harus mendekam dibalik dinginnya jerusji besi Mapolres Garut untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, kepada petugas pelaku (RGS) mengaku telah mencabuli 20 gadis. Namun dari jumlah tersebut hanya 8 orang yang benar-benar disetubuhinya, sedangkan yang lainnya hanya diraba-raba dan digesek-gesek," ujar Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna saat menggelar ekspos kasus pencabulan di Mapolres Garut, Jalan Sudirman, Kabupaten Garut, Rabu (15/5/2019).

Menurut Budi, awalnya pelaku mengenal para korban melalui media sosial facebook. Semua korban masih satu kecamatan dengan pelaku. Para korban pencabulan yang dilakukan RGS semuanya masih di bawah umur dengan rentang usia rata-rata antara 15-17 tahun.

Setelah saling berkomunikasi di akun facebook, terang Budi, pelaku yang mengaku sebagai orang pintar itu pun lalu meminta para korban untuk menceritakan keluh kesahnya. Setelah semakin dekat, pelaku lalu mengajak korban untuk bertemu. Saat bertemu, pelaku menyebut bisa memberi solusi atas masalah yang diderita para korban.

"Jadi korban ini semuanya masih di bawah umur. Masih berstatus pelajar. Rentangnya dari 15 sampai 17 tahun. Setelah mengenal korban, pelaku lalu mengajak bertemu. Pelaku membuat korban untuk curhat soal masalahnya. Lalu menawarkan solusi," ucapnya.

Budi menyebut, solusi yang ditawarkan pelaku yakni dengan menggelar ritual. Ada dua ritual yang bisa dipilih, yakni kias dan pangasal. Kias untuk menghilangkan kesialan dan pangasal agar kejiwaan korban seperti terlahir kembali. Namun ujung-ujungnya dua ritual itu malah menyetubuhi korban.

"Katanya ritual itu diberikan ke korban untuk buang sial dan buka lembaran baru," ucapnya.

Budi menuturkan, kasus pencabulan yang dilakukan pelaku sudah terjadi sejak 2018 lalu. Pencabulan dilakukan di beberapa tempat, salah satunya di rumah pelaku. Kasus ini terungkap setelah salah satu korban melapor ke Polsek Cisewu.

Atas pewrbuatannya, lanjut Budi, pelaku dijerat pasal 81 UU nomor 35 tahun 2014 tentang memaksa anak melakukan persetubuhan dan pasal 82 UU nomor 23 tahun 2014 tentang tipu muslihat atau membujuk anak melakukan perbuatan cabul.

"Ancaman hukumannya 5 sampai 15 tahun penjara. Akan kami beri yang paling maksimal," ujarnya.

Diungkapkan Budi, pihaknya terus melakukan pengembangan terkait kasus ini. Ia pun mengimbau, kepada para korban atau pihak keluarga korban kejahatan seksusal lainnya yang dilakukan tersangka RGS ini untuk melapor ke polisi agar kasusnya bisa segera ditangani dengan tuntas.

Sementara itu, RGS mengaku jika jumlah korban yang telah dicabulinya sudah mencapai sebanyak 20 orang. Ia menyebut, 8 orang korban sudah disetubuhi, sedangkan 12 orang lainnya hanya dilecehkan.

"Awalnya saya kenalan di facebook lalu ngajak ketemu. Diajak ngobrol dulu. Baru delapan yang disetubuhi," ujar RGS yang mengaku sangat menyesal atas segala yang telah dilakukannya.

Ketua P2TP2A Garut, Diah Kurniasari Gunawan, mengatakan pihaknya akan memberi pendampingan kepada para korban. Selainj itu, para korban juga akan diberi terapi untuk memulihkan traumanya.

"Nanti ada trauma healing untuk korban dan orang tuanya. Kami juga akan datang ke Cisewu untuk bertemu korbannya langsung," katanya. (Agus Somantri)

Keterangan photo:
-Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna, didampingi Ketua P2TP2A Garut, Diah Kurniasari, saat memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan di Mapolres Garut, Jalan Sudirman, Kabupaten Garut, Rabu (15/5/2019).

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR