181109191407-buron.jpg

Ilustrasi.

Buronan Kasus Korupsi KUR di Bandung Dibekuk di Solo

TKP

Jumat, 9 November 2018 | 19:13 WIB

Wartawan: H. Dicky Aditya

KEJAKSAAN Negeri (Kejari) Solo berhasil menangkap buron KejaksaanTinggi (Kejati) Jawa Barat (Jabar), Didi Supriyadi, Kamis (8/11/2018) malam. Didin telah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak 2016 atau sekitar dua tahun lalu.

Didi Supriyadi adalah terpidana kasus korupsi Kredit Usaha Rakyat (KUR) PT BNI Cabang Bandung. Ia sudah divonis Pengadilan Tinggi Jabar delapan tahun penjara pada tahun 2016. Namun, saat menjalani persidangan banding, terpidana kabur. Barulah pada Kamis malam Kejari Solo menangkapnya di Solo.

Kejari Solo kemudian menyerahkan Didin kepada Kejati Jabar, Jumat (9/11/2018) siang. Didin segera dibawa ke Jawa Barat untuk menjalani hukuman.

Kajari Solo Teguh Subroto mengatakan Didin Supriyadi yang merupakan DPO Kejati Jabar dicekal di sebuah indekos di Jl. Mundu I, Kerten, Laweyan, Solo, Kamis pukul 23.00 WIB. Personel Kejari Solo sebelumnya telah melakukan pengintaian.

"Dia berhasil kami tangkap lalu kami masukkan ke sel tahanan Kejari Solo," ujarnya saat diwawancarai wartawan, Jumat siang.

Penangkapan itu adalah hasil koordinasi Kejari Solo, Kejati Jabar, dan Unit Koordinasi Supervisi Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Koordinasi itu outputnya tadi malam kami sudah berhasil menangkap DPO ini," tutur dia.

Teguh mengatakan pihaknya juga menyita berbagai barang bukti seperti satu mobil Honda CRV, sepeda motor berserta STNK, ponsel, tas, uang Rp1.150.000 dan Rp45.000, cincin, buku tabungan, SIM, dan dompet.

Kasi Eksekusi Kejati Jabar, Bambang Saputra menjelaskan kasus korupsi yang melibatkan Didi sudah berlangsung pada 2010. Ia yang kala itu menjadi ketua koperasi mengorupsi anggaran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp1,95 miliar.

Ia menerangkan korupsi yang dilakukan Didi berkedok koperasi untuk ternak sapi. Namun, dana KUR senilai Rp25 miliar yang turun tak semuanya dibelikan sapi.

"Memang dalam perkara ini diputuskan 2016. Setelah diputus, dia justru kabur. Kami 2016 sudah cari terpidana tapi baru bisa ditangkap," paparnya.

Selain sudah divonis pidana penjara delapan tahun, Didi juga mendapat hukuman pidana denda Rp200 juta. Apabila denda tidak dibayar, maka terpidana dipenjara tiga bulan dan uang pengganti Rp12.305.510.630.

"Ketentuan jika terpidana tidak membayar uang pengganti tersebut dalam jangka waktu satu bulan sesudah keputusan sidang yang telah berkekuatan hukum tetap, maka harta benda dapat disita oleh kejaksaan," kata dia.

Editor: H. Dicky Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR