180912164139-oknum.jpg

Ziyan

Kasubag Humas Polres Bandung, AKP Eti Mulyati menunjukkan korek api gas berbentuk pistol yang digunakan untuk menakut-nakuti korban oleh para pelaku bengal.

Oknum PNS Jadi Pelaku Begal di Ibun

TKP

Rabu, 12 September 2018 | 16:41 WIB

Wartawan: Ziyan

SEORANG oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) berinisial WD (31) diamankan oleh jajaran Polres Bandung, usai melakukan aksi pembegalan di Jln. Kamojang, Desa Laksana, Kec. Ibun, Kab. Bandung, tepatnya di area Sumur Kawa Kamojang, Sabtu (8/9/2018) lalu.

Kapolres Bandung, AKBP Indra Hermawan didampingi Kapolsek Ibun, Iptu Asep Dedi mengatakan, tersangka WD melakukan pembegalan terhadap dua orang remaja yang sedang berpacaran. Dalam menjalankan aksinya, WD dibantu oleh tiga orang rekannya, yakni ANH (19), AI (19) dan RH (20).

"Modus para tersangka ini, dengan berpura-pura menanyakan jalan kepada korbannya. Para tersangka melakukan aksinya menggunakan mobil," ujar Indra saat gelar perkara di Mapolres Bandung, Jln. Bhayangkara, Soreang, Kab. Bandung, Rabu (12/9/2018).

Pada saat bersamaan, WD turun dari mobil dan langsung mengambil kunci sepeda motor korban. Tersangka lainnya kemudian menodongkan korek api berbentuk pistol dan meminta barang-barang korban.

"Korban ditodong dengan senjata mainan, para korban berlari dan berteriak meminta pertolongan. Saat itu pula, warga yang mendengar teriakan korban langsung mendatangi lokasi kejadian. Kemudian para tersangka melarikan diri ke arah Samarang, Garut," katanya.

Polsek Ibun yang menerima laporan warga, langsung berkoordinasi dengan Polsek di wilayah Garut untuk melakukan pengadangan. "Keempat tersangka berhasil kami amankan bekerja sama dengan Polres Garut dan dibantu oleh warga," ujarnya.

Indra melanjutkan, WD merupakan seorang PNS yang bekerja di Kantor Wilayah Jawa Barat Kementerian Agraria dan Tata Ruang. "Dia (WD) merupakan istri salah satu tersangka yakni AI, yang merupakan residivis pencurian dengan kekerasan," katanya.

Atas perbuatannya, keempat tersangka dikenakan pasal 365 KUHPidana dengan ancaman hukuman penjara paling lama tujuh.

Editor: H. Dicky Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR