180712181258-tahun.jpg

net

Ilustrasi.

Tahun Ini, 70 Kecelakaan Lalulintas Terjadi di Wilayah Polres Cimahi

TKP

Kamis, 12 Juli 2018 | 18:12 WIB

Wartawan: Whisnu Pradana

SIKAP tidak disiplin pengendara motor rentang usia 15 tahun sampai 20 tahun menjadi penyumbang angka kecelakaan yang cukup tinggi di wilayah hukum Polres Cimahi.

Hingga triwulan kedua tahun 2018 berjalan, Satlantas Polres Cimahi mencatat telah terjadi sekitar 70 kecelakaan lalu lintas di wilayah Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB), kategori ringan dan berat.

"Hingga triwulan kedua ini, di wilayah hukum Polres Cimahi, ada sekitar 70 kejadian kecelakaan lalulintas, baik yang menyebabkan korban meninggal dunia maupun luka ringan," ungkap Kasatlantas Polres Cimahi, AKP Suharto, saat ditemui di Mapolres Cimahi, Jalan Amir Machmud, Kamis (12/7/2018).

Suharto menjelaskan, dari 70 kasus laka lantas yang terjadi periode Januari hingga awal Juli 2018, didominasi oleh kecelakaan yang menyebablan korban luka ringan.  Sedangkan kecelakaan kategori berat yang terjadi, menyebabkan empat orang meninggal dunia.

Kecelakaan kategori berat yang terbaru, terjadi pada Rabu (11/7/2018) sekitar pukul 13.40 WIB di Jalan Raya Purwakarta, Cikalong Wetan, KBB. Kecelakaan melibatkan kendaraan roda dua yang ditunggangi dua pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) bernama Dicki Chandra (16) dan Ridho (16) dengan kendaraan roda empat jenis box yang dikendarai Ruswana.

Dua pelajar yang berboncengan itu meninggal dunia di Tempat Kejadian Perkara (TKP) dengan luka parah. Keduanya masih mengenakan seragam sekolah. Kecelakaan diduga akibat kelalaian dari pengendara motor.

Buntut dari kecelakaan mengenaskan yang menimpa dua anak sekolah itu, Satlantas Polres Cimahi akan terus memberikan pemahaman kepada masyarakat, terutama anak usia sekolah mengenai kedisiplinan dalam berkendara.

Dengan banyaknya kasus kecelakaan lalulintas yang didominasi oleh kaum muda terutama anak sekolah ini, Suharto meminta kepada masyarakat terutama pengendara harus lebih meningkatkan kedisplinan dalam berkendara.

"Anak sekolah yang tidak memiliki SIM itu secara kontinu akan kita lakukan penindakan, karena memang mereka melanggar peraturan," terangnya.

Pihaknya juga meminta kepada para orangtua agar tidak menuruti keinginan anaknya yang masih di bawah umur untuk memiliki kendaraan. Sebab, ketika orangtua memberikan kendaraan pada anaknya yang belum cukup umur justru menjadi penyebab kecelakaan di jalan raya.

"Bukan masalah efektifitas atau memberikan kemudahan. Tapi dipikirkan dulu apakah anak itu sudah matang secara mental, jangan malah orangtua justru mencelakakan anak secara tidak langsung karena memberikan kendaraan," tambahnya.

Ia juga mengatakan, akan menindak tegas dan tanpa pandang bulu, ketika menertibkan anak sekolah yang melanggar aturan berlalulintas.

"Banyak yang tidak terima anaknya kita tilabg atau kendaraan anaknya kita tahan, kalau tidak terima ya ikuti aturan kepolisian," tegasnya.



Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR