Indonesia Ketinggalan Jauh Terapkan Intervensi Psikologi Terhadap Pelaku Olahraga

Sport

Sabtu, 2 November 2019 | 20:23 WIB

191102202425-indon.jpg

Tok Suwarto

INTERVENSI psikologi terhadap atlet olahraga untuk meningkatkan performanya, sudah diterapkan di Indonesia sejak tahun 2000-an. Namun, dibanding negara-negara lain yang menerapkan intervensi tersebut sejak 1920-an, intervensi psikologi olahraga di Indonesia masih ketinggalan jauh.

Ketua Asosiasi Pelatih Mental Olahraga Indonesia,  Dr. Miftakhul Jannah, mengungkapkan hal itu kepada wartawan, di sela seminar nasional "Intervensi Psikologis Terhadap Peningkatan Performa Pelaku Olahraga", yang digelar Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sabtu (2/11/2019).

"Di pemusatan latihan tingkat nasional (Pelatnas), psikologi olahraga sebenarnya juga sudah ada. Tetapi penerapannya kurang representatif, karena seorang psikolog harus menangani sejumlah atlet," katanya.

Berdasarkan pengamatan Ketua Asosiasi Pelatih Mental Olahraga Indonesia itu, secara struktural dan penerapan di tingkat bawah intervensi psikologi olahraga juga masih banyak masalah. Sehingga dia menyarankan, yang diperlukan adalah upaya mensinergikan psikologi olahraga agar menjadi bagian dari peningkatan performa pelaku olahraga.

Ketua panitia seminar, Febriani Fajar Ekawati, PhD, menjelaskan,  dalam seminar tersebut, selain Dr.  Miftakhul Jannah, narasumber antara lain adalah Dr. Sapta Kunta Purnama, Dekan FKOR UNS dengan materi "Pelatihan Mental untuk Atlet Disabilitas" dan Guntur Cahyo Utomo, pelatih mental Timnas Indonesia U-19 tahun 2013-2018, dengan topik materi "Persiapan Mental Atlet Secara Menyeluruh Dalam Menghadapi Kompetisi".  

"Dalam seminar ini, para narasumber memaparkan bukti intervensi psikologi yang telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan performa atlet. Managemen psikologi yang baik akan dapat membantu atlet dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru yang berujung pada performa terbaik," tutur Febriani Fajar Ekawati.

Wakil Rektor IV UNS, Prof. Sadjidan, ketika membuka seminar mengharapkan, hasil seminar dapat menjawab tuntutan revolusi industri 4.0 bidang olahraga. Menurut dia, proses pembelajaran tidak hanya bertumpu pada konektifvitas internet saja, namun juga dapat dilakukan melalui forum seminar atau diskusi.

"Di era revolusi industri 4.0 semua harus berubah. Sebab dengan adanya digitalitation advance, kita harus siap menghadapi segala perubahan.  Selain itu, pembelajaran revolusi industri 4.0 tidak hanya lewat kekuatan internet tapi bagaimana skill yang kita sampaikan kepada mahasiswa dapat memenuhi tuntutan abad 21," tuturnya.

Editor: Brilliant Awal



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA