Debit Air Sungai Surut, Atlet Arung Jeram Kabupaten Bandung Gagal Berlatih

Sport

Rabu, 9 Oktober 2019 | 18:39 WIB

191009183507-debit.jpg

ist

SURUTNYA debit air di beberapa anak sungai Citarum, sejumlah atlet arung jeram asal Kabupaten Bandung kesulitan melakukan latihan. Ketua Harian Pengcab Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Kabupaten Bandung, Boyke Maruli Simatupang menduga selain karena musim kemarau, kurangnya debit air disebabkan oleh kerusakan alam di pegunungan.

"Sekarang sungai gampang surut dan debit air sangat turun derastis, ini mungkin karena kerusakan alam yang sudah parah. Bahkan kita sampai bisa jalan di tengah sungai," ucap Boyke yang ditemui di gedung KONI Jabar, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Rabu (9/10/2019).

Menurut dia, akibat hal tersebut sudah dua bulan para atletnya tidak melakukan proses latihan di sungai. "Sudah dua bulan kita tidak berlatih di sungai, kalau kondisi sungainya seperti ini terus akan berdampak buruk juga terhadap pembinaan," katanya.

Boyke mencontohkan beberapa Sungai di Kabupaten Bandung yang terkena dampak musim kemarau misalnya Sungai Ciwidey, Sungai Cisangkuy dan Sungai Palayangan di Pangalengan. Bahkan, Sungai Cisangkuy yang memiliki arus jeram hingga grade 3 sudah tidak deras lagi.

"Grade 3 itu sudah bisa digunakan untuk kejuaraan tingkat Nasional seperti Kejurnas. Tapi sekarang yang nampak hanya bebatuan," tuturnya.

Mengenai program pelestarian alam, dia menilai, saat ini banyak program pemerintah yang tidak mengenai sasaran. Menurut dia, program Citarum Harum hanya memfokuskan pada hulu Sungai Citarum di Situ Cisanti. Namun, jika dilihat banyak titik anak sungai Citarum yang kondisinya juga mengalami kerusakan.

"Seperti misalnya Gunung Patuha dan Gunung Puntang yang kondisinya sudah rusak. Sungai dari dua gunung itu juga ada yang bermuara ke Sungai Citarum, tapi kurang mendapatkan perhatian," tuturnya.

Oleh karena itu, Boyke mengajak semua pihak untuk melakukan reboisasi ke dua gunung tersebut. Selain itu, diperlukan juga pembuatan bendungan atau dam."Dam atau bendungan tidak hanya di hilir Sungai Citarum atau di daerah Situ Cisanti saja, tapi bisa ke daerah Ciwidey juga karena air dari atas sudah mengalir deras," katanya.

Hal senada dikatakan Ketua Umum FAJI Jabar M Syaiful Bima. Menurut Bima, pihaknya sangat prihatin dengan kerusakan alam yang semakin berdampak kepada olahraga alam seperti arung jeram.

"Arung jeram ini sangat ditentukan oleh faktor alam. Jadi kita tentunya tak hanya berbicara soal olahraga saja tapi FAJI akan menyentuh soal konservasi alam serta dunia pariwisata," ujarnya.

Untuk meningkatkan kembali debit air, Bima sepakat pemerintah harus segera melakukan reboisasi di sekitar bantaran sungai. Bahkan, FAJI siap membantu dinas terkait seperti dinas kehutanan untuk menyukseskan program konservasi hutan.

"Kami siap membantu pemerintah dengan melakukan pendataan kerusakan di anak-anak sungai se-Jabar Barat. Selain itu kita juga akan bantu untuk memonitor nya, " tuturnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA