Konflik PB Djarum-KPAI, Ini Kekhawatiran Ketua KONI Kota Bandung

Sport

Rabu, 11 September 2019 | 17:42 WIB

190911174609-konfl.jpg

Ferdy Soegito Putra

KETUA KONI Kota Bandung, Nuryadi mengaku khawatir polemik antara Djarum Foundation bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesi (KPAI) akan memberikan dampak terhadap perusahaan yang ingin memberikan bantuan (sponsor) bagi pembinaan olahraga prestasi.

Nuryadi menilai, peran sponsor terhadap pembinaan olahraga 'prestasi' sangat tinggi. Terlebih beberapa cabang olahraga (cabor) masih belum bisa berdiri secara mandiri dan masih membutuhkan bantuan (anggaran) baik dari pemerintah maupun sponsor.

"Sebagai praktisi, akademisi dan orang yang punya pengalaman di bidang pembinaan saya menyayangkan betul dari sudut yang sangat sempit KPAI menilai yang dilakukan PB Djarum itu adalah exploitasi, dari satu aspek saja saya tidak tahu apa yang dimaksud exploitasi disini, apakah curahan waktu sang anak atau yang lainnya" kata Nuryadi saat dijumpai di GOR Bandung, Jalan Jakarta, Kota Bandung, Rabu (11/9/2019)

Maka tidak menutup kemumgkinan, kepercayaan sponsor terhadap cabang olahraga yang sedang dibangun akan turun karena takut dengan kasus yang sedang banyak dibicarakan ini. Dan ia menegaskan jika polemik tersebut akan memberikan dampak yang tidak sedikit bagi pembinaan.

"Saya kira ini dampaknya akan panjang, karena kepercayaan sponsor terhadap olahraga yang sedang dibangun akan turun, karena takut, jadi dampaknya tidak sedikit. Dan kita tahu banyak PB-PB seperti PB Djarum di bulu tangkis, padahal banyak aspek-aspek yang menguntungkan bagi pembinaan, "tegasnya.

Lanjut dia, dengan kehadiran PB Djarum banyak atlet berprestasi yang lahir bahkan bisa membawa nama negara di kancah internasional. Salah satunya seperti Kevin Sanjaya.

Membahas bahwa PB Djarum memanfaatkan para peserta audisi untuk mempromosikan merek Djarum yang identik dengan produk rokok, ia pun menilai bahwa hal tersebut merupakan hal lain. Menurutnya banyak diluar negri merek produk yang bertolak belakang dengan olahraga terpampang di kaos tim, misalnya di sepak bola.

"Terpampangnya nama produk di kaos pada yang bersangkutan bukan berarti yang bersangkutan harus memakai produk itu, misalnya di luar negri, mohon maaf, ada sponsor 'beer' di kaos tim, apakah yang bersangkutan harus meminum 'beer'? kan tidak. Bagaimana jika yang terpampang adalah makanan yang tidak ada hubungannya dengan olahraga? Apakah akan dipersoalkan juga?, jadi lakukan terlebih dahulu kajian yang tepat karena yang terpenting disini adalah pembinaannya," tegasnya.

Sejauh ini, KONI Kota Bandung melalui bidang Mobilisasi Sumber Daya (MSD) dikatakan telah sedikit mengendurkan rencana untuk menghire perusahaan yang diharapkan bisa membantu program pembinaan olahraga.

"Kita punya bidang MSD, karena kasus ini kita jadi ada sedikit kekhawatiran untuk menghire perusahaan. Karena barangkali tadi merek makanan atau minuman mereka tidak cocok di olahraga atau nama brand mereka akan mengalami peristiwa yang sama seperti kasus sekarang," katanya.

Sejauh ini, ia menilai pemerintah baru bisa memenuhi kebutuhan para atlet level nasional. Sedangkan untuk level luar negri diperlukan biaya yang tidak sedikit. "Untuk level nasional saya yakin pemerintah lebih dominan, tapi untuk atlet profesional perlu bantuan sponsor karena biaya untuk mengikuti ajang internasional itu sangat tinggi, boleh ditanya kepada atletnya berapa besar peran sponsor, itu sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri untuk mendongkrak prestasi atlet ke level dunia," pungkasnya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA