Teror Jelang Euro 2020, Lauta Army Suporter Ultra Radikal di Balik Laga Rusuh Inggris vs Bulgaria

Soccer

Rabu, 16 Oktober 2019 | 11:25 WIB

191016112442-teror.jpg

dailymail


Kasus rasisme yang dialami sejumlah pemain Inggris di laga kualifikasi Euro 2020 antara The Three Lions kontra Bulgaria di Sofia, Selasa  (15/10/2019) dini hari di berbuntut panjang. Selain kalah 0-6, ketua asosiasi sepak bola Bulgaria pun akhirnya mundur dan masih ada sanksi UEFA yang juga harus dihadapi.

Lalu siapa aktor di balik aksi rasisme yang membuat laga terpaksa dihentikan dua kali itu? Dikutip dari DailyMail, Rabu (16/10/2019) di antara pelanggaran serius yang menjadi sorotan yaitu gestur salut ala Nazi. Aksi dilakukan anggota Lauta Army (LA), kelompok suporter radikal yang dikenal rasis. Sejauh ini LA tercatat beberapa kali melakukan serangan terhadap pendukung lawan.

Dikenali dengan kostum hitam-hitamnya, mereka melontarkan seruan rasis pada penggawa Inggris berkulit hitam di laga terakhir timnas Bulgaria. Dokumentasi yang memperlihatkan aksi neo-Nazi mereka menodai kualifikasi Euro 2020 kali ini. Para pemain Inggris menjadi sasaran pelecehan sedemikian rupa hingga dua dari tiga protokol yang merupakan bagian dari pendekatan baru UEFA memerangi rasisme langsung diterapkan.

Didirikan mantan prajurit: Fight us!

Salah satu "pertarungan" kontra rival liga Bulgaria, Botev yang diposting via YouTube.

Menjadi pendukung utama tim papan atas Bulgaria Lokomotiv Plovdiv, Lauta Army  sudah dijatuhi sanksi oleh UEFA terkait  rasisme musim ini di level klub. Lokomotiv bahkan diperintahkan untuk menutup rapat-rapat stadion dari suporternya di laga  kandang Liga Eropa berikutnya. Ini menyusul perilaku rasis pendukungnya saat kalah 1-0 dari klub Prancis Strasbourg di kualifikasi Liga Eropa.

Namun hukuman UEFA tak membuat jera. Sebaliknya sanksi mendorong Lauta Army  menyatakan perlawanan terhadap lembaga sepak bola dunia tersebut. Salah satunya terlihat dari poster UEFA bertuliskan “No Respect”. Lauta Army yang sarat catatan kekerasan dan rasisme diperkirakan memiliki 500 anggota aktif yang didominasi laki-laki. Fakta lainnya tak sedikit dari mereka yang mantan tentara Bulgaria.

Nama Lauta sendiri terambil dari taman di sekitar stadion Plovdiv yang berkapasitas 13.000 tempat duduk. Venue yang kemudian tak jarang menjadi lokasi perkelahian terencana. Teror Lauta Army dimulai sejak didirikan 25 tahun lalu pada tahun 1992 oleh para mantan prajurit. Mereka juga  mengelola gimnasium di mana anggota mendapat pelatihan tinju dan seni bela diri. Ada juga “kelas khusus” berupa kamp pelatihan yang rutin digelar setiap tahun.

This is us.

Ada 500 anggota aktif.

Kehadiran mereka bisa diidentifikasi salah satunya dari pakaian serba hitam  seperti yang terlihat pada laga kontra Inggris awal pekan ini. Berbeda dari kelompokk supoter lain yang menghindari paparan media, tidak demikian dengan Lauta Army. Mereka  sering merekam aksi para dalam keributan dan memostingnya di akun media sosial mereka.

Kehadiran mereka saat mendukung timnas Bulgaria pun bukannya tak menjadi perhatian pengelola. Sesaat sebelum laga dihentikan, pengumumkan dilakukan melalui pengeras  suara yang memperingatkan perilaku mereka. Sejumlah anggota Lauta Army pun terlihat meninggalkan stadion.

Menanggapi rasisme yang dialami abak buahnya, pelatih Iggris Gareth Southgate membenarkan pihaknya mengancam walk-out jika insiden berlanjut. Namun hingga babak kedua usai laga dianggap berlangsung tanpa aksi diskriminatif terhadap skuad tamu. Sebelum laga, anggota Lauta Army berkumpul  di luar stasiun metro dan berbaris menuju stadion dalam formasi terorganisasi sambil menyanyikan yel-yel dan melakukan penghormatan Nazi.

Nazi-salute nodai laga Inggris vs Bulgaria.

Enter Lauta Army..

Dalam beberapa tahun terakhir Lauta Army yang diakui sebagai kelompok suporter ekstremis sayap kanan membangun reputasi sebagai salah satu organisasi sepak bola paling kejam di Eropa. Mereka juga diberitakan terlibat dalam “jasa perlindungan bayaran” dan pemerasan.

Beberapa klip di kanal YouTube memperlihatkan bentrokan Lauta Army dengan suporter musuh bebuyutan Lokomotiv Plovdiv, yaitu Botev. Mereka mengejar lawan yang menolak tantangan bertarung hingga ke jalan bebas hambatan. 

Kekerasan ekstrem juga menjadi santapan rutin laga derby Plovdiv. Tahun 2009 misalnya kala pemain dan pelatih kedua tim  berkelahi usai  peluit akhir, sementara para penggemar menyerbu lapangan, melemparkan botol dan bom asap. Berikutnya tahun 2014 laga derby harus dihentikan di babak pertama karena keributan suporter.

Kapten timnas I. Popov ikut mencoba meredakan ketegangan.

Dikenali dari outfit hitam-hitamnya.

Di tahun yang sama, Lauta Army juga menyerang penggemar Beroe berbekal tongkat  bisbol saat  berjalan menuju pintu masuk, dilanjutkan dengan  bentrokan kontra aparat. Dalam pertandingan melawan Marek beberapa tahun yang lalu Lauta Army juga terlibat keributan besar dengan polisi setelah mencoba menyerbu area suporter.

Seorang pemegang tiket musiman Lokomotiv Plovdiv yang tidak ingin disebutkan namanya kepada MailOnline mengatakan,.”Semua yang mendukung tim kami takut pada Lauta Army karena kami tahu apa yang sanggup mereka lakukan. Mereka lebih dari perusuh sepak bola. Mereka memiliki koneksi politik dan menggunakan kekuatan mereka untuk menghasilkan uang.”

Ia menambahkan tidak ada seorang pun di klub atau dalam persepakbolaan Bulgaria yang melakukan tindakan apa pun terhadap kelompok-kelompok seperti ini. “Dan inilah yang membunuh persepakbolaan Bulgaria,” katanya.

Opposing UEFA.

Bentrokan Lauta Army dengan aparat, beberapa waktu lalu.

Perilaku agresif dan rasis Lauta Army juga membuat para pendukung lainnya kehilangan kesempatan menyaksikan pertandingan. Ini karena selain sanksi berupa denda, Lokomotiv Plovdiv beberapa kali terpaksa bermain secara tertutup alias tanpa penonton.

Dan kini aksi terakhir mereka tidak hanya menyebabkan perselisihan antara pemerintah dan FA Bulgaria, tapi juga dinilai mempermalukan seluruh negeri di pentas internasional. Tapi tampaknya ini tidak lantas menghentikan Lauta Army. Setidaknya hingga kini tak ada pernyataan penyesalan ataupun permintaan maaf.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA