Misteri Bandara Hingga Sengketa Politik, Jelang Final Liga Europa Gooners dan Chelsea Dibuat Tegang

Soccer

Selasa, 21 Mei 2019 | 11:15 WIB

190521111447-miste.jpg

dailymail

Jelang laga puncak Piala Europa yang bakal digelar di Olympic Stadium, Baku, Azerbaijan pada 29 Mei mendatang, sejumlah persoalan mengemuka. Di antaranya Direktur Pelaksana Arsenal, Vinai Venkatesham yang mengungkapkan kekecewaan para Gooners. Banyak dari mereka  yang dipastikan tak bisa menyaksikan tim kebanggaannya berhadapan dengan Chelsea akibat terbatasnya tiket dan kendala visa.

Dikutip dari DailyMail, Selasa (21/5/2019) terungkap jika pemegang tiket terusan  dengan kewarganegaraan ganda Inggris dan Armenia ditolak untuk mengunjungi Baku, menyusul ketegangan politik antara Azerbaijan dengan negara tetangga tersebut. Ada juga silang pendapat soal kapasitas bandara Baku yang tak sesuai klaim hingga suporter bisa ketinggalan laga. Ini tentu saja membuat suporter finalis tegang.

Henrikh Mkhitaryan.

Sebelumnya di fase grup, karena alasan politis pemain tengah The Gunners yang juga kapten Armenia, Henrikh Mkhitaryan memilih mengundurkan diri dari pertandingan kala skuad asuhan Unai Emery menghadapi Qarabag di Baku awal musim ini. Sementara Vinai menyebut kekecewaan juga dirasakan suporter The Blues yang hanya mendapat alokasi 6.000 seat. Ini artinya dengan kapasitas Olympic Stadium yang mencapai 69.870 seat maka setidaknya ada 57.870 kursi yang melompong.

Tak hanya itu dari segi logistik perjalanan ke Baku pun terbilang “menantang” dengan jarak tak kurang dari 5.000 mil atau 8.046 km. Menanggapi ini Direktur Kompetisi UEFA Giorgio Marchetti sudah memberikan tanggapan tertulis. Meski demikian Vinai tak menafikan rasa frustrasi Gooners. Selain itu beberapa waktu lalu FA Azerbaijan menampik kekhawatiran akan  kapasitas bandara dengan menyebut fasilitas di sana dapat menangani 10.000 pengunjung per jam.

Ini berbeda dengan klaim sebelumnya bahwa bandara Baku memiliki kapasitas maksimum 15.000 orang per hari.  Hal ini pula yang menjadi alasan di balik alokasi tiket yang hanya 6.000. Persoalannya jika benar demikian maka  ribuan penggemar berisiko ketinggalan laga karena terkendala teknis bandara.

Kepada The Telegraph, Sekretaris Jenderal FA Azerbaijan Elkhan Mammadov mengatakan, "Saya tekankan tidak ada masalah dengan kapasitas bandara kami yang dibangun untuk menangani 10.000 pengunjung per jam." Sebelumnya bos Liverpool Jurgen Klopp ikut mengkritik keputusan menggelar final di tempat yang jauh dari kedua klub finalis.

Namun pihak FA Azerbaijan menyebut masih ada penerbangan tidak langsung ke Baku dari Inggris yang bisa didapat. "Penerbangan ke Baku dari Inggris masih tersedia melalui Istanbul, Frankfurt, Tbilisi, dan Moskow dengan harga ekonomi rata-rata £ 394 (Rp 7,2 juta)."

Chelsea pun kecewa.

Sedangkan kepada Arsenal Media Vinai mengayakan, “Dari sudut pandang klub, kami benar-benar kecewa dengan fakta di mana kami tampil di final Piala Europa tapi karena kendala teknis perjalanan jumlah tiket maksimum yang didapat suporter 6.000. Jadi kami bermain di stadion yang lebih besar dari Emirates tapi  kedua klub hanya mendapat 6.000 tiket. Ini sangat mengecewakan.”

Pihak Arsenal juga bekerja sama dengan kantor luar negeri setelah muncul keluhan pemegang tiket terusan dengan dua kewarganegaraan Inggris dan Armenia. Kedatangan mereka ditolak karena ketegangan Azerbaijan dengan negara tetangganya.

Olympic Stadion Baku.

Seserius apa ketegangan dimaksud mungkin bisa dilihat dari keputusan Mkhitaryan, kapten tim nasional Armenia yang memutuskan mundur dari pertandingan grup Liga Europa melawan Qarabag di Baku awal musim lalu. Namun Duta Besar Azerbaijan untuk Inggris, Tahir Taghizadeh menyatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan menjelang final.

Kepada Sky Sports ia menyebut, “Saya akan mengatakan (kepada Mkhitaryan) Anda atlet profesional, pemain bola, dan pemain sepak bola kelas A. Jadi mari kita pastikan ini even kelas A.” Tahir menambahkan, ”Jika tujuan kita  permainan politik maka itu sesuatu yang berbeda. Tapi saya harap tidak, karena Anda (Mkhitaryan) digaji sebagai pemain sepak bola, bukan sebagai politisi. Jadi mari kita kesampingkan masalah lain."

Agree.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR