Kota Bandung Paparkan Barata di Lokakarya Peningkatan Peran Pelaku Seni dalam Pemajuan Kebudayaan

Seni & Budaya

Selasa, 22 Oktober 2019 | 08:47 WIB

191022085030-kota-.jpg

ist

Sigit Iskandar

PEMERINTAH Kota Bandung yang diwakili oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kota Bandung mendapat kehormatan menjadi salah satu nara sumber pada Lokakarya Peningkatan Peran Pelaku Seni dalam Pemajuan Kebudayaan di Jakarta, Senin (14/10/2019).

Loka karya ini dibuka oleh Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinator Bidang Kebudayaan  Kemenko PMK, I Nyoman Shuida. Hadir dalam lokarya tersebut antara lain Kementerian/Lembaga terkait, Perguruan Tinggi, Komunitas Pelaku Seni, dan Pemerintah Daerah.

Disbudpar Kota Bandung yang diwakili oleh Kabid Produk Seni dan Budaya, Sigit Iskandar memberikan pemaparan dengan tema “Kebijakan Pemerintah Kota Bandung dalam meningkatkan Kapasitas dan Peran Para Pelaku Seni”. Dalam kesempatan tersebut ia memaparkan mengenai Kebijakan Pemkot Bandung dalam Meningkatkan Kapasitas dan Peran Pelaku Seni.

Sebagai kota di Indonesia yang memiliki berbagai kebijakan serta program untuk memaksimalkan berkembangnya seni. Dalam hal mendukung pelaku seni, Pemkot Bandung banyak melakukan promosi-promosi salah satunya program Barata (Bandung Rasana Nyata). Barata memberikan panggung yang luas untuk seniman sebagai bentuk pelestarian dan peningkatan kunjungan wisatawan.

“Kota Bandung memiliki program Barata ( Bandung Rasana Nyata) sebagai upaya mengembangkan, mendukung, serta memberdayakan para pelaku seni dengan tujuan untuk pelestarian seni budaya dan peningkatan kunjungan waisatawan ,” ujar Sigit dalam rilis yang diterima galamedianews, Selasa (22/10/2019).
Menurut Sigit, Untuk melestarikan seni dan budaya serta menarik wisatawan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung meluncurkan program Barata (Bandung Rasana Nyata). Dengan diluncurkannya program ini, diharapkan seni dan budaya yang dimiliki Kota Bandung bisa dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Barata merupakan program andalan tahun 2018 dan 2019 dalam produk seni dan budaya. Ada beberapa masalah yang melatarbelakangi hadirnya Barata yang digagas April 2018 ini.

Pertama, seniman kurang berdaya. Dari 650 lingkung seni yang ada di Kota Bandung, hanya 20 persen yang diperdayakan. Diakuinya, banyak keluhan yang datang sehingga Disbudpar merasa terpanggil untuk menghidupkan kembalu seni dan budaya agar terasa oleh semua lapisan masyarakat.

"Kedua, seni dan budaya Bandung kurang terasa oleh orang Bandung apalagi luar Kota Bndung. Yang ketiga, seni budaya tidak berdampak pada dunia usaha," ujar Sigit.

Masalah lainnya, kata Sigit, Perda No. 5 Tahun 2012 tentang seni budaya tradisional dan kesenian kurang berjalan sehingga seni dan budaya terus terdegradasi. Bahkan, anak-anak kurang mengenal seni dan budaya Kota Bandung.

Setelah permasalahan tersebut dipetakan, katanya, pihaknya berdiskusi dan berkomunikasi dengan seniman, pemuda, akademisi dan stakeholder lainnya. Mereka pun sepakat terkait permasalahan tersebut dan mencari solusinya. "Akhirnya kita luncurkan Barata," kata Sigit.

Tak sekedar program diatas kertas, Barata harus diimplementasikan dalan kegiatan yang terstruktur, konsisten dan masif. "Tidak harus besar, tapi terasa," ungkapnya.

Dalam perjalanannya, Disbudpar melakukan dua hal untuk mewujudkan Barata ini, yakni edukasi dan berupa tampilan. Sigit mengatakan, pihaknya berkeliling ke sekokah-sekolah dan menyosialisasikan soal program tersebut di ruang publik melalui penampilan tari.

"Tampilan-tampilan seni dan budaya kini sudah ada di bandara, hotel, dan mal-mal. Saya sangat berterima kasih karena telah memberikan kesempatan tampil di hotel-hotel sehingga dikenal wisatawan," ungkapnya.

Kegiatan masif pun dilakukan dan bahkan tercatat dalam rekor muri. Yakni penampilan 7000 orang menari jaipongan dan di Car Free dat Dago dan 1500 lengser ambu. "Saat ini seni dan budaya pun terus ditampilkan di car free day Dago dan Buah Batu," ungkapnya.

Ia mengakui, target dari program Barata adalah melestatikan seni dan budaya serta menjadikan daya tarik sehingga berimbas pada peningkatkan kunjungan wisatawan. Sejak diluncurkan, program Barata sudah berhasik memberdayakan 80 peraeb lingkung seni yang ada di Kota Bandung dari awalnya hanya 20 persen. Diharapkan, seniman dan lingkung seni di Kota Bandung terus mempromosikan diri dan tampil menarik sehingga bisa menaruk wisatawan untuk datang ke Kota Bandung.

Untuk mewujudkan program Barata, harus ada kegiatan terstruktur, masif, dan konsisten.

"Tidak harus besar tapi terasa, cukup tampil di hotel, restoran, mall, taman, bandara, dan car free day," ujarnya.

Selain itu, untuk membangkitkan, seni budaya, Sigit pun sempat berkeliling ke sekolah-sekolah memberikan edukasi, sosialisasi di ruang publik dengan menampilkan tarian.

Program Barata ini mendapat apresiasi dari Kemenko PMK dan diharapkan menjadi role model dan bisa diterapkan di kota-kota lain di Indonesia.


Editor: Brilliant Awal



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA