Dari Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur

Reyog Simbol Jati Diri dan Karakter Masyarakat Ponorogo

Seni & Budaya

Senin, 21 Oktober 2019 | 11:21 WIB

191021112633-reyog.jpg

ist

Indonesia memiliki beragam seni dan budaya. Keragaman tersebut mengandung nilai-nilai dan menjadi karakter bangsa. Salah satunya adalah kesenian Reyog Ponorogo.

Reyog Ponorogo yang khas dengan corak kebersahajaan dan keindahannya – menggunakan simbol macan (harimau) dan burung merak -- telah menjadi inspirasi seniman atau budayawan pada zamannya.  

“Kesenian ini hingga kini terus menguatkan eksistensinya dan dikenal dunia,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo, Dr. Drs. Agus Sugiarto, M.Si dalam sambutannya di acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (21/10/2019).

Dalam rangka mempromosikan potensi seni dan budayanya inilah, Pemerintah Kabupaten Ponorogo menampilkan kesenian Reyog di Anjungan Jawa Timur. Kesenian ini tidak hanya ditampilkan secara utuh sebagaimana layaknya pertunjukan reyog. Melainkan dikemas secara menarik dalam berbagai inovasi tarian, diantaranya tari ’Ombyak Suran,’ dan tari ’Kidung Memanik.’ Ditampilkan juga lagu-lagu campursari, serta fragmen ’Ampak-Ampak Gadingrejo,’ yang masih merepresentasikan kearifan lokal kesenian asal Ponorogo.

Sebagai upaya menanamkan kecintaan masyarakat terhadap budayanya, lanjut Sugiarto, pemerintah Kabupaten Ponorogo mewajibkan setiap desa menggelar tari reyog pada tanggal 11 setiap bulannya. Pemerintah juga menggelar Festival Nasional Reog Ponorogo setiap tahun, serta menggelar tradisi ’Grebeg Suro’ yang menampilkan tari reyog.

“Berbagai kebijakan menggelar tari reyog ini untuk meningkatkan gairah pelestarian seni reyog di Ponorogo yang menjadi tempat kelahiran seni tradisional ini. Alhamdulillah kesenian ini makin disukai anak-anak millenial. Gebyar reyog berlangsung sepanjang waktu,” ujar Sugiarto.

Kesenian dengan perangkat utama kepala harimau dan bulu burung merak ini, terang Sugiarto, perpaduan dua karakter berlainan. Harimau yang buas dan ganas, serta burung merak yang cantik dan mempesona. Dua karakter ini menjadi simbol jatidiri dan karakter masyarakat Ponorogo.

“Kesenian reyog mengkonfirmasi tentang keberanian dan kebersahajaan masyarakat Ponorogo dengan sikap hidup serba menarik; indah dan mempesona. Keunikan seni Reyog Ponorogo, bukan saja terletak pada tampilan instrumen beserta simbol-simbol budaya yang dimilikinya, melainkan juga pada nilai-nilai luhur yang dikandungnya,” ungkap Sugiarto.  

Hadir menyaksikan pergelaran ini, Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo, SS, MM, serta beberapa pejabat daerah terkait, dan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kabupaten Ponorogo.

Selain menggelar berbagai potensi kesenian daerah, Pemerintah Kabupaten Ponorogo juga menggelar bazar yang menjual sejumlah produk unggulan kerajinan dan kuliner. Melibatkan para pengusaha yang tergabung di UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) Kabupaten Ponorogo.

Para seniman yang terlibat di pergelaran ini, Sugeng Prayitno, S.Sn. (Ide Cerita), Marji, S.Pd (Penulis Cerita), Marji, S.Pd (Sutradara), Danar Hendratmoko (Asisten Sutradara), Galih Wisnu Kesuwo (Penata Musik), Danar Hendratmoko (Penata Tari), Probo Widiono (Penata Kostum dan Penata Rias), serta puluhan pengrawit, penyanyi dan penari.

Duta seni daerah dari Kabupaten Ponorogo ini, dibawah pembinaan langsung Bupati Ponorogo Drs. H. Ipong Muchlissoni, selaku Pelindung. Bertindak sebagai Penasehat, Dr. Drs. Agus Pramono, MM (Sekretaris Daerah Kabupaten Ponorogo), Penanggung Jawab, Dr. Drs. Agus Sugiarto, M.Si (Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo), dan sebagai Pimpinan Produksi, Judha S. SE, M.Si (Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo).

Para Juri Pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur adalah, Suryandoro, S.Sn (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Dra. Nursilah, M. Si. (Dosen Seni Tari Universitas Negeri Jakarta), dan Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII).

Menutup agenda acara bulan Oktober 2019, Anjungan Jawa Timur selanjutnya akan menggelar pergelaran Lurdruk Maimura Surabaya, Sabtu malam (26/10/2019), dan acara peringatan Hari Ulang Tahun Ke-74 Provinsi Jawa Timur, Minggu (27/10/2019). Acara ini akan diisi dengan berbagai penampilan kesenian, dan hiburan, dan berbasis kearifan lokal Jawa Timur.

Di bulan November 2019, paket kesenian daerah selanjutnya akan diisi pergelaran duta seni dari Kabupaten Mojokerto (03/11/2019), Kota Blitar (10/11/2019), Parade Reyog Ponorogo Dewasa (17/11/2019), serta ‘Gelar Bersama Tari Jawa Timuran’, bersama duta seni daerah dari Kabupaten Pasuruan (24/11/2019)

Editor: boedi azwar



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA