Damas Puser Kembali Gelar Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran

Seni & Budaya

Senin, 21 Oktober 2019 | 09:40 WIB

191021094206-damas.jpg

jayaraya

DAYA Mahasiswa Sunda (Damas) Puser kembali menggelar pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran tahun 2019 pada 14-17 November mendatang. Untuk tahun ini, Damas bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat dan bakal digelari di Hotel Cipanas, Kabupaten Cianjur.

Pemilihan Kabupaten Cianjur sebagai tempat penyelenggaraan menurut Ketua Panitia, Yudi Irawan, karena tembang Sunda Cianjur lahir di Kabupaten Cianjur era tahun 1830-an, namun hidup dan berkembang di Kabupaten Bandung dan sekitarnya hingga sekarang.

"Kita ingin membangkitkan kembali tembang Sunda Cianjuran di tempat kelahirannya," ujar Yudi pada galamedianews.com, Senin (21/10/2019).

Hingga saat ini, kata Resa sudah ada 35 peserta dari 28 Kabupaten kota di Jawa Barat. Sedangkan targetnya lebih dari 50 peserta dengan memperebutkan piala Gubernur Jabar.

"Pendaftaran masih dibuka bisa langsung ke sekretaria panitia atau sekretariat Damas di Jln Lengkong Besar no.67 Bandung atau bisa menghubungi Yudi di 0813-1317-1567. Kami mengundang para peserta agar bisa mengikuti technical metting di Gedung PPK atau YPK Jln. Naripan No 9 Bandung, pada 7 November mendatang," ujarnya.

Sementara Ketua Damas Puser, Gani Resa berharap masyarakat Jawa Barat kembali mencintai pasanggiri tembang Sunda Cianjuran seperti dulu. Gani pun berharap Tembang Sunda Cianjura ini bisa diakui sebagai Warisan Budaya ta Benda oleh UNESCO.

"Kami terus berusaha agar tembang SUnda Cianjura ini menjadi warisan budaya tak benda (WBTB) milik Indonesia dari Jawa Barat. Secara regional Jabr dan nasional sudah diakui, tinggal internasionalnya yang belum," katanya.

Gani menyebutkan, jika tembang Sunda Cianjura ini merupakan puncaknya dari sleuruh seni tradisi di tatar Sunda. Ini dibuktikan dengan adiluhungnya baik karya-karya, teknik suara, teknik kecapi dan suling.

"Namun sayang masyarakat Sunda (Jabar) masih belum menyadarinya. Oleh karena itu, kami berharap pemerintah bisa memasukan tembang Sunda Cianjuran ini ke kurikulum sekolah," ujarnya.

Sementara salah seorang seniman tembang Sunda, YUs Wiradiredja menyebutkan, banyak kendala pada perkembangan seni tembang Sunda Cianjura sejak kelahirnanya pada awal abad 19 atau (1830) di Kabupaten Cianjur. Walaupum demikian, Yus menyebutnya seni tembang Sunda Cianjuran adalah mamaos Cianjuran sebagai musik klasik yang dinamin.

"Sejak kelahirannya, tidak ada tulisan atau literatur yang menuliskan soal tembang Sunda Cianjuran. Tapi dengan kecerdasan masyarakat Jabar (seniman Cianjuran), kesenian ini bisa berkembang dari tahun 1830 hinga era tahun 1980-an. Ini menandakan seniman kita sangat cerdas dengan memorinya yang kuat," ujar Yus.

Hal itu dikatakan Yus berdasarkan hasil penelitiannya hasil rekaman tembang Sunda tahun 1920-an dengan rekaman tahun 1990-an, isinya tetap sama (baik teknik, suara dan sebagainya). Walaupun kata dia, dari sisi penciptaan lagu jelas ada perubahan karena mengikuti perkembangan jaman.

"Namun teknik suara, teknik meniup suling, dan kecapi serta isi lagu tidak ada perubahan sama sekali, Padahal para seniman dahulu tidak menuliskannya dalam sebuah catatan atau partithur. Ini bagaimana budaya oral dan memori masyarakat Sunda sangat baik dan cerdas," jelasnya.

Yus pun berharap ada peran serta pemerinmtah dalam perkembangan seni Tembang Sunda Cianjuran di Jawa Barat ini. Bagaimana pun kata Yus, keterlibatan pemerintah dan semua pihak sangat dibutuhkan untuk perkembangan seni tambang Sunda Cianjur.

"Ini terbukti dengan jumlah peserta tembang Sunda yanmg diselenggarakan Damas dari tahun ke tahun jumlahnya terus menurun. Bagaimana treatmentnya agar animo masyarakat semakin tinggi. Ini juga anggap sebagai otokritik untuk Damas," katanya.

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA