Kemegahan Teater Lakon Tak Semegah Setting Panggung

Seni & Budaya

Selasa, 15 Oktober 2019 | 20:24 WIB

191015202757-kemeg.jpg

Kiki Kurnia

ADA yang unik saat menyaksikan pergelaran teater lakon "Riwayat Ratu Arisbaya Menyerahkan Tanah Sindang Kasih" di Gedung Kesenian Rumentangsiang, Jln. Baranangsiang Bandung, Selasa (15/10/201). Panggung pergelaran Gedung Kesenian Rumentangsiang disetting menjadi sebuah istana yang megah masa kerajaan.

Nuansa merah dengan penuuh ornamen warna orange bertabur emas begitu jelas. Ukiran-ukiran masa kerajaan pun begitu kental dengan gambar Singa Barongnya, menjadikan panggung pergelaran begitu megah. Kemegahan semakin terlihat dengan tata lampu yang proporsional, sehingga tidak terlalu terang atau tidak terlalu gelap.

Untuk menambah nuansa kerajaan masa lampau, sang sutradara pun menyelipkan tiga layar lebar yang telah diberi gambar pemandangan maupun gambar kerajaan. Layar ini akan diturunkan jika alur cerita tertentu, seperti percintaan, perperangan maupun pendidikan. Semuanya diatur dengan cara manual tidak menggunakan sistem mesin.

Adalah Sanggar Sandiwara Sang Putra (Eblek Group) pimpinan Bunda Eblek dari Kabupaten Indramayu yang mensetting panggung gedung kesenian Rumentangsiang menjadi sebuah kerajaan pada masa Kesultanan Cirebon. Pementasan ini sengaja digelar di Gedung kesenian Rumentangsiang atas undangan UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat.

Namun sayang kemegahan settingan panggung bernuansa kerajaan itu tidak diikuti dengan cerita yang disuguhkan. Walaupun pada siang itu, Eblek Group menampilkan cerita dari babad Cirebon dengan iringan musik live. Kondisi itu diperparah dengan soundsystem yang tidak keluar dengan jelas, yang terkadang terdengar cempreng.

Bahasa yang digunakan pun sebagian besar menggunakan bahasa dermayuan (Indramayu), yang membuat para penonton yang sebagian besar pelajar ini hanya bisa melongo, bahkan ada yang sampai tertidur. Begitu pun dengan alur cerita yang banyak dibumbui dengan lagu-laggu dangdut khas dermayuan.

Kondisi ini dikeluhkan oleh salah seorang kurator Taman Budaya Jabar, Toto Amsar. Ia menilai esensi cerita yang ingin disampaikan ke penonton banyak tersita dengan lagu dangdutan. "Sangat disayangkan, terlalu banyak bumbu sehingga esensi cerita kurang tersampaikan utuh pada penonton," katanya.

Teater lako atau sandiwara tradisional di Jawa Barat, terutama di Kota Bandung sudah sangat sulit berkembang. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya, seperti cerita yang tidak mengikuti perkembangan jaman, tidak adanya regenerasi serta tidak adanya penonton.

"Perkembangan sandiwara tradisional memang tidak sepesat seni lainnya di Jawa Barat. Apa yang disuguhkan teater lakon oleh Ebleg group sudah bagus dengan membuat setting panggung yang megah, namun tetap saja kurang mendapat apresiasi dan perhatian penonton," ungkap salah seorang pelaku sandiwara tradisional, Wa Kabul.

Wa Kabul mengaku, jika dirinya bersama grup Ringkang Gumiwang Kota Bandung terus mencoba mempertahankan eksistensi sandiwara tradisional. Salah satunya dengan cara memodernisasi cerita, kostum, setting panggung, serta penggunaan bahasa yang lebih gaul.

"Namun tetap saja sandiwara tradisional kurang mendapat tempat di masyarakat," kata Wa Kabul yang sudah berkecimpung di dunia sandiwara tradisional sejak usia 10 tahun bersama grup Sinar Muda, Tegallega Bandung.

Namun Wa Kabul sedikit menampik jika sandiwara tradisional tidak semuanya mengalami mati atau mati suri, salah satu contohnya grup Ringkang Gumiwang. Sedikit bangga Wa Kabul mengatakan, jika Ringkang Gumiwang tampil selalu mendapat apresiasi dari kalangan pelajar di Kota Bandung.

Berdasarkan data yang dimilikinya, ada 380 ribu penonton yang menyaksikan Ringkang Gumiwang manggung sejak 10 tahun lalu. "Data itu riil, bahkan pada tahun lalu saat kami mementaskan Palagan Bubat selama 26 hari, jumlah penonton mencapai 6000 orang. Ini merupakan rekor tersendiri bagi sandiwara tradisional," ujarnya.

Wa Kabul berharap ada campur tangan pemerintah agar sandiwara tradisional atau teater lakon (masres) bisa bertahan di tengah perkembangan jaman. "Tanpa campur tangan pemerintah sangat sulit sandiwara tradisional bisa berkembang," ujarnya.

***
Lakon "Riwayat Ratu Arisbaya Menyerahkan Tanah Sindang Kasih" mengisahkan Kerajaan Sumedang Larang menjadi bagian dari Keraton Pakung Wati Cirebon. Ini diakibatkan, Sang Ratu Arisbaya isteri dari Sultan Panembahan Ratu Pakung Wati yang jatuh cinta pada pangeran asal Sumedang Larang, Pangeran Geusan Ulun, saat Geusan Ulun belajar ilmu agama di Keraton Kasepuhan (Pakung Wati).

Oleh Raden Geusan Ulun, Ratu Arisbaya dibawa ke Sumedang. Agar tidak terjadi perang saudara, Prabu Kusma Dinata menukarkan Ratu Arisbaya dengan sebidang tanah Sindang Kasih. Dengan penyerahan sebidang tanah itu, secara otomatis Kerajaan Sumedang Larang berada di bawah kekuasaan Keraton Pakung Wati Cirebon.

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA