Drama Tari Ode Anak Ciganitri, Kegelisahan Warga Kampungnya yang Hilang

Seni & Budaya

Senin, 14 Oktober 2019 | 20:08 WIB

191014201052-drama.jpg

Kiki Kurnia

KECERIAN begitu jelas tergambar pada wajah anak-anak. Ada sekitar 100 anak-anak bermain dengan gembira mengelilingi auditorium teater tertutup Taman Budaya Jawa Barat, UPT Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Senin (14/10/2019).

Suasana gelap gulita di dalam auditorium bukan menjadi masalah bagi mereka. Berbekal beberapa obor dan cempor, anak-anak itu terus berkeliling dan berakhir di atas panggung. Berbagai permainan dan tarian anak-anak dimainkan oleh anak-anak dari sanggar Wajiwa, Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Iringan musik tradisional yang dipadu dengan musik modern terus mengalun mengiri anak-anak dari Ciganitri, menari dengan riang. Hingga pada satu titik, kecerian anak-anak ini mendadak hilang. Berbagai tarian tradisional satu persatu mulai hilang dan tidak ditarikan lagi, apalagi dipelajari. Begitu pun dengan permainan tradisional yang akrab dan sering dimainkan anak-anak Ciganitri menjelang sore, ikut hilang berganti dengan permainan gajet.

Suasana yang biasa hening dan tenang di kawasan Ciganitri berubah menjadi panas dan riuh dengan pembangunan. Area pesawahan yang biasa menghijau berubah menjadi tanaman beton dan perumahan. Begitu pun gemercik air di kolam ikan, kini berubah menjadi bangunan toko maupun mal serta sentra perdagangan modern. Hampir tidak ada jengkal tanah di kawasan Ciganitri yang tersisa.

Suasana pedesaan di Ciganitri kini berubah menjadi suasana kota yang angkuh. Perubahan itu begitu cepat terjadi sejak sejumlah pengembang perumahan masuk ke kawasan Ciganitri. Puluhan perumahan telah merubah kawasan Ciganitri yang tenang dan damai menjadi sebuah kawasan yang sibuk dan egois.

Hampir tidak terlihat lagi hamparan sawah yang menghijau maupun kesibukan para petani pembibitan ikan mas. Kini mereka hanya menjadi kuli bangunan yang penghasilannya sangat ditentukan oleh si pemilik proyek.

Masyarakat Ciganitri yang nota bene sebagai pribumi (asli orang yang lahir dan tinggal di sana), kini menjadi tamu di tanahnya sendiri. Mereka terpaksa tinggal dipinggir-pinggir perumahan, bahkan pinggir kali.

Perubahan yang begitu cepat ini berdampak pula pada seni-seni tradisional yang sudah lama hidup dan berkembang di Ciganitri, Kabupaten Bandung. Lambat namun pasti, kesenian tradisional yang ada disana mulai mati suri dan bahkan mati sama sekali.

Kegelisahan masyarakat Ciganitri ini ditangkap Oleh Alfiyanto Wajiwa, seorang senima tari jebolan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (ISBI sekarang) Bandung. Sekali pun orang sebrang (Padang), Alfityanto memiliki jiwa seni Sunda yang kuat, dia menghadirkan idiom-idiom kesundaan dalam setiap karyanya. Kali ini, Alfiyanto menyuguhkan "Ode Anak Ciganitri" sebuah Kampung yang Hilang.

Sebagai simbol seni budaya, Wajiwa (Alfiyanto) menempatkan penari topeng Panji di tengah-tengah panggung. Sementara sebagai latar di bagian belakang, ditempatkan sejumlah ibu-ibu yang asyik ngagondang (bermain gondang dengan lisung dan alu) sambil menumbuk padi untuk dijadikan beras.

Lambat laun simbol kebudayaan itu kemudian hilang tergusur derunya pembangunan perumahan (perkotaan) dibalik asap pekat. Begitu pun dengan permainan tradisional yang kerap dimainkan anak-anak hilang ditelan jaman. Sebagai gantinya muncul permainan modern (games online) yang terus merajalela dan menghasut anak-anak agar melupakan segenap yang berbau tradisional.

Tanpa kontrol pemerintah setempat, pembangunan di kawasan Ciganitri ini berlangsung masif menghacurkan nilai-nilai tradisi yang sudah lama berkembang. Pembangunan ini pun menumbuhkan sekat-sekat ekonomi, sosial dan pergaulan di kalangan masyarakat.

Desa Ciganitri yang dulunya terkenal warganya dan pandai bergaul ramah, kini berubah menjadi infivualis. Inilah risiko yang terjadi dari berubahnya sebuah perkampungan menjadi perkotaan. Desa Ciganitri kini banyak diisi warga pendatang yang membawa budaya masing-masing.

Alfiyanto bersama Sanggar Wajiwa-nya pun tak mampu menahan arus urbanisasi yang merubah Ciganitri menjadi sebuah perkotaan modern di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kota Bandung.

Editor: Kiki Kurnia



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA