Perang Tomat Warga Cikareumbi Simbol Membuang Hal-Hal Jelek

Seni & Budaya

Minggu, 13 Oktober 2019 | 13:16 WIB

191013131618-peran.jpg


BENTROKAN antar dua kubu tak terelakan lagi, ketika sekelompok pemuda mengompori kelompok pemuda lainnya. Saling lempar dan saling ejek menambah suasana semakin panas. Belum lagi kelompok lainnya terus berteriak mendukung salah satu kelompok lainnya.

Tepat pukul 10.30 Wib perang pun pencah. Sementara masyarakat dan aparat desa serta pemerintahan lainnya hanya bisa menyaksikan dari jauh. Sesekali mereka bersembunyi takut terkena lemparan. Lemparan tomat busuk dan tomat mengkrl datang dari segala penjuru. Lemparannya tak tentu arah. Siapapun yang terdekat pasti terkena lemparan.

Dua kelompok pemuda (para gladiataor, mereka menyebut) dengan tameng dan baju perang dan helm terbuat dari anyaman bambu menjadi baju perang. Mereka terus menyerang dan merangsek mengobarkan semangat seluruh warga Kampung Cikareumbi RW 03 Desa Cikidang Kec. Lembang. Kab. Bandung Barat untuk saling menyerang dan melemparkan tomat, Minggu (13/10/2019).

Sementara di bagian utara, tetabuhan gamelan di atas dengan nada bersemangat dan lagu lagu ketuktiluan dan jaipong terus menyemangati warga yang tengah perang di "Tegal Kurusetra". Tak hanya warga yang berperang, para penonton dipinggir jalan dan arena perang pun terkena lemparan tomat busuk.

Suasana gaduh campur riuh terus membahana. Ribuan kilogram tomat yang tersedia dalam puluhan keranjang dalam sekejap habis dilemparkan warga dan para gladiator. Hampir satu jam perang tomat berlangsung, dan suasana semakin kacau.

Jalanan tempat perang pun memerah akibat tomat yang pecah bercampur tanah, kotor dan berlendir. Perang pun usai, warga yang terkena lemparan tomat wajahnya penuh dengan biji tomat bercampur tanah dan pasir.

Namun dalam sekejap pula, jalanan dan lapangan yang awalnya penuh dengan tomat busuk yang pecah langsung bersih. Warga pun dengan bergotongroyong, sukaria dan sukarela membersihkan arena peperangan tersebut. Sisa sisa pasca perang tomat tersebut kemudian dikumpulkan untuk seterusnya dijadikan pupuk kompos.

Menurut inspirator ritual perang tomat, Mas Nanu Muda, awalnya ide untuk membuat Perang Tomat ini, adalah suatu kebetulan ketika para pelaku kesenian Sisingaan Mekar Budaya (MB) dilibatkan gabung dalam kegiatan Padepokan Kalang Kamuning pada event Cihideung Festival (CIFES ) yang diselenggarakan setiap tahun sekali, tepatnya MD mulai bergabung tahun 2010an.

Pada event CIFES itulah, para pelaku seni MB tertarik meminta saya untuk membuat event serupa seperti di Cihideung tersebut, dengan tujuan menggali sumber daya Budaya melalui Kesenian Sasapian dan potensi alam dengan agro wisata tanaman hiasnya. Maka di daerahnya yakni kampung Cikareumbi Desa Cikidang mereka ingin menggelar seperti halnya yang dilakukan Padepokan Kalang Kamuning di Cihideung.

Untuk mewujudkan keinginan pelaku seni MB perlu waktu untuk menelisik segala potensinya yang menjadi full faktor atau daya tariknya yang akan dijadikan sebagai sumber ilham / inspirasi kegiatan yang akan dilakukan disetiap tahunnya. Dari tahun 2010 hingga 2011 mencari apa yang mesti dijadikan media ungkap untuk kegiatan di Kampung Cikareumbi, secara tidak disengaja pada waktu panen Tomat di salah satu kebun petani dan sekaligus mereka adalah pelaku seni Sisingaan, ada hal yang aneh tidak seperti biasanya.

"Ketika panen tomat seharusnya para petani itu merasa bangga, gembira dan bersyukur bahwa hasil panen tomat yang melimpah ruah itu akan menghasilkan keuntungan materi (uang) yang tidak sedikit. Namun ternyata hasil panen tersebut tidak dapat dinikmati hasilnya bahkan cenderung dibiarkan hingga membusuk dan berserakan jatuh begitu saja di hamparan tanah," ujarnya.

Tampaknya mereka kecewa dengan harga tomat yang jatuh dibawah standar harga biasa dan secara materi tidak menghasilkan keuntungan yang layak untuk dijadikan sumber penghasilan selebihnya kembali modalpun tidak.

Selain harga yang jatuh, juga ongkos angkut tomat dari kebun sampai ke agen penyalur atau bandar begitu mahal dan tidak sesuai dengan modal bibit yang ditanam berikut pupuknya ( proses ). Melihat pembiaran hasil panen yang seharusnya menjadi keuntungan dan sumber penghasilan bagi petani, malah sebaliknya jauh dari apa yang diharapkan.

"Dari kondisi petani yang menderita akibat panen tomat dengan harga yang jatuh serta dibiarkan berserakan di kebun itulah muncul ide untuk membuat kagiatan "Rempug Tarung Adu Tomat atau Perang", " ujar Bah Nanu.

Tomat yang dipakai menjadi media pada saat perang bukanlah tomat yang baik/bagus layak di makan, akan tetapi tomat yang buruk atau busuk. Mengapa harus memakai tomat yang busuk untuk dijadikan peluru pada waktu Perang Tomat, hal ini berkaitan dengan makna ngaruat, yaitu membersihkan diri dari hal yang buruk, atau membuang sifat-sifat busuk yang ada dalam diri kita, atau dengan kata lain "miceun rereged, geugeuleuh Keukeumeuh ".

Sedangkan filosofis mereka membuang/melemparkan (saling melemparkan tomat ) ke kepala yang di tutupi topeng (ke pelaku lain ), sesungguhnya berarti bahwa menyimbolkan Melempar atau membuang sifat-sifat buruk. Setelah perang selesai, seluruh peluru tomat yang dilemparkan berserakan itu, kemudian dikumpulkan kembali untuk dijadikan bahan kompos pupuk tanaman tomat dan sayuran lainnya. Dengan demikian, tomat yang busuk tersebut bukan sekadar untuk amunisi perang sebagai media utama gelar Perang Tomat, namun multi fungsi.

Di satu sisi untuk media ungkapan pertunjukan wisata budaya kreatif, dan di sisi lain tomat sisa perang tersebut dijadikan kompos.

Maksud dan tujuan Rempug Tarung Adu Tomat atau Perang Tomat, kata Bah Nanu, sebagai ungkapan membuang sial segala macam hal-hal buruk atau sifat yang tidak baik dalam diri masyarakat maupun hal buruk dengan penyakit tanaman, yang digunakan lewat saling melempar atau membuang tomat yang sudah buruk (matang sekali), dalam artian Rempug Tarung Adu Tomat tersebut adalah "miceun rereged, geugeuleuh Keukeumeuh" menyucikan diri.

"Perang Tomat pada awalnya adalah wujud ungkapan paduan ungkapan kreasi seni dibalik penderitaan masyarakat petani tanaman tomat dari ketidak berdayaan situasi rendahnya penghargaan terhadap hasil panen dan kemudian menjadi ekspresi semangat, kegembiraaan dan wujud syukur telah diberikan air yang melimpah warga RW 03 Kampung Cikareumbi Desa Cikidang yang diwujudjan dalam bentuk kesen-ian sekaligus mengenalkan potensi seni-budaya, alam dan hasil pertaniannya lewat wisata budaya kreatif, yang oleh penari dan atraksinya melibatkan penonton menjadi bagian integral dari sajian Perang Tomat," terang Bah Nanu mengakhiri obrolannya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA