Ringkang Haleuang Barudak Subang dan Tiga Permainan Tradisional Ciptakan Rekor RHR

Seni & Budaya

Senin, 7 Oktober 2019 | 17:08 WIB

191007170842-ringk.jpeg

Kiki Kurnia

TARIAN Ringkang Haleuang Barudak Subang menutup rangkaian pemecahan rekor RHR pada empat permainan tradisionalp yang dimainkan 1000 siswa di Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjung Siang, Kabupaten Subang, Senin (7/10/2019). Rekor dunia RHR yang tercipta diantaranya, permainan kolecer tradisional, permainan sarung, salam sabrang serta tarian permainan anak tradisional (Ringkang Haleuang Barudak Subang) yang diciptakan  M Nanat Munajat.

Keempat rekor ini dimainkan dihadapkan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil beserta Isteri Atalia Ridwan Kam, Bupati Subang M Ruhimat, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar Andrea Wijanto serta Muspida Kabupaten Subang dan masyarakat Tanjungsiang Subang.

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil berkesempatan mengawali pemecahan rekor RHR itu dengan memainkan kolecer yang kemudian diikuti 1000 siswa dan masyarakat lainnya. Setelah itu, berturut - turut permainan lainnya, yakni permainan babalonan sarung dan salam sabrang. Untuk kedua permainan ini, Emil - - sapaan akrab Ridwan Kamil - -  bersama ibu Cinta (Atalia) berkesempatan bermain bersama. Dan pasangan orang nomor satu di Jabar ini mampu memainkan permainan itu dengan sempurna.

Sebagai penutup, 1000 siswa Menarikan Ringkang Haleuang Barudak Subang, yakni berupa aneka tarian permainan anak anak jaman baheula yang dimedley menjadi sebuah tarian yang unik. Perlu sekitar tiga minggu untuk melatih 1000 siswa sekolah dasar di Tanjungsiang agar bisa Menarikan tarian ini.

Dengan penuh keuletan dan kesabaran, dibantu para pembimbing, akhirnya Nanat Munajat mampu menuntaskan ambisinya. Tarian hasil karyanya menjadi penutup rangkaian penciptaan rekor dunia RHR. Jerih payahnya diganjar piagam penghargaan dan medali RHR yang diterima langsung Gubernur Jabar, RIdwan Kamil sebagai kreator dari perwakilan RHR Indonesia, Sri Utari.

Pada kesempatan itu, Gubernur menyebutkan, kegiatan ini bukan soal pemecahan rekornya, tapi bagaimana masyarakat terutama kalangan orang tua memperhatikan anak-anaknya dalam bermain. Saat ini, banyak anak-anak yang sudah mengemari dan mencintai permainan dalam gajet (game online), dan meninggalkan permainan tradisional.

"Hari ini ada beberapa permainan tradisional menciptakan rekor dunia. Ini harus menjadi perhatian kalangan orangtua, bahwa permainan tradisional memiliki nilai dan makna serta edukasi untuk anak-anak," ujarnya.

Dikatakan Emil, sudah menjadi komitmen pemerintah dan DPRD Jabar dalam pemajuan kebudayaan berbasis tradisional, seperti permainan tarian tradisional di Desa Cibuluh. "Permainan anak sekarang hanya bertumpu pada jempol belaka, berbeda dengan permainan tradisional yang membutuhkan kebersamaan, keberagaman, kerjasama dan kekompakkan sehingga memunculkan nilai nilai sosial di masyarakat," urainya.

Sementara itu, pencipta tarian Ringkang Haleuang Barudak Subang, Nana Munajat tarian ini menggambarkan kegembiraan anak-anak yang memainkan permainan tradisional dam bentuk lagu dan medley tarian. Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Namun dalam permainan tradisional termasuk dalam tarian tradisional mengandung nilai dan makna.

"Semua permainan tradisional dan tarian Ringkang Haleuang ini mengajarkan anak-anak menghargai orang lain, mau bekerjasama, bersabar, menghargai perbedaan, menghargai yang lebih atas maupun yang lebih rendah. Dalam permainan tradisional pun tidak ada upaya menumbuhkan untuk menang sendiri dan egois. Tapi semua ini perlu proses, tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan, " terangnya.

Nana pun mengajak semua lapisan masyarakat untuk menghargai proses berkebudayaan demi kemajuan Kebudayaan di Jawa Barat.

"Segala sesuatu harus melalui proses, tidak bisa ujuk-ujum jadi begitu aja," tambahnya.

Pada kesempatan itu, perwakilan RHR Lia Mutisari menyerahkan piagam dan meladi RHR langsung kepada gubernur Jabar, Ridwan Kamil. Riksa budaya tematik ini akan digelar kembali di Kabupaten Ciamis, Indramayu dan Sukabumi.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA