Seniman & Pelajar: Kita Satu dari Lembang Untuk Papua

Seni & Budaya

Jumat, 13 September 2019 | 10:46 WIB

190913104753-senim.jpg

Dicky Mawardi

"KITA Satu dari Lembang untuk Papua". Begitu tema kegiatan kesenian yang melibatkan ratusan seniman dan pelajar asal Lembang dalam sebuah pagelaran seni teater yang  mengambil tempat di Pasar Panorama Lembang, Kamis (13/9) dari sore sampai malam. Kegiatan ini diselenggarakan seniman yang tergabung dalam Komunitas LINGKAR Utara.

"Kegiatan seni  ini sebagai  wujud solidaritas bagi saudara kita di Papua, terkait dengan isu rasisme dan potensi terpecahnya Bhineka Tunggal Ika,"  kata Pembina Komunitas LINGKAR Utara  Rian Firmansyah saat ditemui di acara Haornas tingkat Kabupaten Bandung Barat di Plasa Mekarsari,  Ngamprah. Jumat (13/9).

Rian mengatakan, melalui kegiatan seni seperti ini bisa menumbuhkan semangat nasionalisme dan kebangsaan.

"Apa yang tengah terjadi di Papua membuat prihatin kita semua.  Hal seperti ini tidak boleh terulang lagi, jangan  pernah bangsa Indonesia terpecah belah hanya karena isu rasisme yang digulirkan segelintir orang," kata Rian.

Anggota DPR RI terpilih asal Lembang,  Kabupaten Bandung Barat ini berharap, melalui kegiatan kebudayaan dan kesenian itu, pesan persatuan, dan nasionalisme kebangsaan dapat tersampaikan.

"Sebab budaya bersifat universal tanpa mengenal batas, suku, agama, dan tempat sehingga dapat diterima oleh siapa saja. Dari Lembang kita sampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia,  mari kita terus pupuk persatuan dan kesatuan.  Jadikan Indonesia bangsa yang besar dengan masyarakatnya yang sejahtera,"  tutur Ketua KONI Kabupaten Bandung Barat ini.

Dalam kegiatan pentas seni teater ini menampilkan pementasan monolog yang dimainkan satu orang dengan memerankan berbagai karakter.

Teater monolog ini bercerita tentang  Dokter Jawa yang  ditulis oleh Putu Fajar Arcana, seorang jurnalis sekaligus sastrawan Indonesia.  Bercerita tentang seorang dokter yang bertugas di pedalaman Papua untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan di sana. Namun yang ia hadapi jauh lebih rumit dari itu, yaitu persoalan sulitnya infrastruktur, minimnya kesejahteraan danekonomi, ketidaksepahaman dalam rumah tangga, kematian yang datang bertubi-tubi.

Perbedaan kultur diakibatkan oleh kebijakan sentralistik dari pemerintah, yang notabene didominasi oleh orang Jawa. Naskah in menyuguhkan sebuah solusi, bahwa semua masalah akan bisa dihadapi jika bersama-sama, seperti yang dikatakan tokoh Rahayu dalam monolog ini.

Selain itu juga ditampilkan cerita rakyat yang sudah sangat terkenal, di Tatar Sunda, yakni Ciung Wanara. Cerita rakyat ini berasal dari Kabupaten Ciamis.
"Walau pun bukan berasal dari tanah Lembang, cerita ini mempunyai nilai moral yang sangat tinggi dan universal, artinya bisa diterima oleh khalayak luas," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Bina Seni pada  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bandung Barat , Usup Suherman mengapresiasi  pentas  teater dengan mengusung tema "Kita Satu, Dari Lembang untuk Papua".  Wujud  bentuk dari kepedulian seniman atas apa yang terjadi di tanah Papua.

"Sekaligus pula perwujudan dari visi AKUR Kabupaten Bandung Barat,  yang  membentuk manusia yang kreatif dan unggul," tuturnya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA