Pemikiran Kebudayaan Baru Sebatas Kegiatan Berkesenian dan Hiburan

Seni & Budaya

Minggu, 8 September 2019 | 14:24 WIB

190908141152-pemik.jpg

Kiki Kurnia

JAWA Barat memiliki kekayaan karya budaya, tapi baru sedikit yang diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional. Pemikiran kebudayaan baru diartikan secara sempit sebagai kegiatan berkesenian yang bertujuan menghibur.

Demikian dikatakan Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Jawa Barat, Iendra Sofyan, pada Dialog Pemajuan Kebudayaan Jawa Barat yang dilaksanakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, di Aster Room Hotel Grand Tjokro, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Akhir pekan lalu.

Dikatakannya, kekayaan karya budaya Jawa Barat belum tergarap secara optimal. “Hingga saat ini, belum data yang jelas tentang jumlah budaya di Jawa Barat, karenanya sangatlah wajar bila target pencapaian hanya 40 persen, padahal yang diharapkan minimal 60 persen,” ujar Iendra.

Ia mencontohkan, pengakuan nasional terhadap Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat masih sangat minim dibandingkan daerah lainnya. Demikian pula halnya dengan pengajuan yang dilakukan akibat belum banyak karya budaya yang terdokumentasi.

Terhadap kondisi kebudayaan saat ini, menurut Iendra, pemerintah terus memacu apresiasi pemerintah dan masyarakat daerah untuk melakukan berbagai hal.

“Semisal pembangunan pusat kebudayaan yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat yang mengharapkan ada pusat kebudayaan ditiap kabupaten dan kota, seperti Taman Mininya Jawa Barat yang menjadi ruang publik bagi keberadaan budaya,” ujarnya.

Sementara Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Febiyani menyebutkan, ada banyak kendala terkait pengembangan budaya di Jawa Barat, baik dalam hal sistem pemerintahan maupun pendanaan. 

Sangat wajar bila kendala-kendala ini kata Febiyani diangkat dan dijadikan bahan  dialog yang diikuti 65 orang peserta dari kalangan pemerintah, akademisi, dan pelaku seni budaya perwakilan kabupaten dan kota di Jabar, dalam rangka upaya akselerasi upaya pemajuan kebudayaan di Jabar.

“Melalui dialog ini, diharapkan dapat teridentifikasi sejunlah permasalahan kebudayaan dan peserta yang mewakili setiap unsur,” ujar Febiyani.

Dalam dialog, setiap peserta dapat menyampaikan usulan alternatif solusi pemecahan masalah yang diharapkan dapat dilakukan secara bersama pula.

“Ke depan, diharapkan komunikasi yang telah terjalin selama ini antara pusat dan daerah serta para akademiki dan pelaku seni budaya lebih intens dilakukan,” ujar Febiyani.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat pada tahun anggaran 2020 berencana menyusun pendataan sejumlah warisan budaya yang akan diusulkan sebagai WBTB Indonesia 2020. Karena, minimnya pengakuan terhadap karya budaya Jabar akibat lemahnya sistem dokumentasi dan pendataan.

Hingga tahun 2019, karya budaya Jawa Barat berupa seni pertunjukan, lisan dan tradisi yang diakui sebagai Karya Budaya Tak Benda Indonesia sudah 53 Karya Budaya. Terakhir, pada Sidang Penetapan 15 Agustus baru lalu, sebanyak 13 karya budaya Jabar dinyatakan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA