Sejumlah Komunitas Lestarikan Kaulinan Urang Sunda

Seni & Budaya

Senin, 2 September 2019 | 14:35 WIB

190902143645-sejum.jpg

SEJUMLAH pegiat kaulinan urang Sunda Kabupaten Bandung melaksanakan berbagai kegiatan sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Dalam kegiatan sosial itu melibatkan komunitas Laskar Sunda, Saampar Sauyunan, Pemuda Pamily, Rawis, Rampaker'r Majalaya, Mojang Rampaker's, Sidogan, Bobotoh Sauyunan, Maker dan Saung Kaul.

"Sejumlah komunitas itu sengaja dihadirkan dalam upaya melaksanakan berbagai kegiatan sosial. Disamping itu, mereka hadir bersamaan dengan pelestarian kaulinan urang Sunda sebagai bentuk pelestarian budaya Sunda yang selama ini terancam punah," kata Pegiat Kaulinan Urang Sunda Ega Lesmana didampingi Deden Yogi kepada galamedianews.com di Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung, Senin (2/9/2019).

Ega menyatakan, banyak kaulinan urang Sunda yang nyaris punah karena jarang dijadikan bagian dalam kehidupan. Bahkan, berbagai kaulinan Sunda itu nyaris banyak tak diketahui oleh generasi muda sekarang.

Ega menjelaskan, kaulinan urang Sunda yang sempat menjadi budaya masyarakat tempo dulu itu, mulai dari kaulinan enggrang, galah, gatrik, condah, panggal, gangsing, sasarungan, surser, sapintrong dan kaulinan urang Sunda lainnya.

"Banyak orang yang mengakui, kaulinan urang Sunda itu jarang kita tampilkan. Padahal, kaulinan urang Sunda itu pada zaman dulu menjadi fasilitas untuk mempersatukan warga dan menumbuhkan kerjasama di antara warga. Melalui kaulinan urang Sunda itupula, ada makna tersendiri mempererat silaturahmi di antara warga urang Sunda," jelasnya.

Untuk memberikan azas manfaat yang besar terhadap masyarakat, ditambahkan Deden Yogi, pihaknya sudah beberapa kali mengajak berbagai komunitas tadi untuk melestarikan kaulinan urang Sunda.

"Bersamaan dengan melestarikan kaulinan urang Sunda, dibubuhi dengan kegiatan sosial. Di antaranya berusaha untuk menggalang dana untuk membantu warga yang terkena musibah atau bencana alam, di antaranya membantu korban kebakaran," katanya.

Deden mengatakan, even sosial itu sempat digagas di kawasan Ciparay, Majalaya, Kertasari dan daerah lainnya. "Dalam setiap kegiatan, mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Banyak di antara anak-anak yang tak tahu kaulinan urang Sunda, sehingga pada kesempatan itu untuk mengenalkan langsung kaulinan urang Sunda. Berbeda dengan para orang tua, mereka sudah tahu persis kaulinan urang Sunda yang sempat lestari di masa-masa mereka masih anak-anak," urainya.

Deden berharap, para pemuda saat ini jangan sampai kehilangan sejarah dalam upaya pelestarian budaya urang Sunda. "Ini sangat penting. Kaulinan urang Sunda positif untuk tetap dilestarikan," ucapnya.

Ia mengaku bangga karena masih banyak orang yang peduli untuk melestarikan budaya Sunda, di antaranya kaulinan. "Ini sebagai bukti kecintaan kita terhadap warisan para leluhur. Pokoknya, kaulinan urang Sunda jangan sampai punah dan harus tetap lestari sepanjang zaman," katanya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA