Generasi Muda Tionghoa Tak Banyak Lagi yang Memeluk Agama Khonghucu

Seni & Budaya

Senin, 26 Agustus 2019 | 13:37 WIB

190826133825-gener.jpg

Tok Suwarto

Pembakaran kapal kertas pada puncak upacara sembahyangan Khing Hoo Ping di Lithang Khonghucu Purwodiningratan Solo

REGENERASI penganut agama Khonghucu sejak masa Orde Baru sampai diakuinya agama tersebut sebagai agama resmi sekarang ini, tidak menunjukkan kenaikan secara signifikan. Para penganut agama Khonghucu terutama kalangan generasi muda yang selama pemerintahan Orde Baru mencantumkan agama tertentu di kartu tanda penduduk (KTP), memilih tidak kembali ke agama Khonghucu.

Rohaniwan Khonghucu Surakarta, Adjie Chandra, mengungkapkan hal itu kepada wartawan di Lithang Agama Khonghucu Purwodiningratan Solo, Senin (26/8/2019). Dia menanggapi perkembangan agama yang penganutnya kalangan etnis Tionghoa, khususnya di Kota Solo.

"Generasi muda Tionghoa saat ini tidak banyak yang masih beragama Khonghucu. Akibat kebijakan pemerintah Orde Baru yang melarang agama Khonghucu, mereka memilih pindah agama kebanyakan agama Budha," katanya.

Meskipun generasi muda Tionghoa memeluk agama lain, menurut Adjie Chandra, banyak di antara mereka yang masih tetap mengikuti tradisi agama Khonghucu. Dia menyebut contoh, ketika Majelis   Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Solo menggelar upacara suci sembahyangan "King Hoo Ping" bagi arwah leluhur, pada Minggu (25/8/2019) siang, banyak generasi muda Tionghoa menitipkan doa dengan menempelkan nama di altar sembahyangan.

Menyinggung sekolah dari jenjang SD sampai SMA yang diselenggarakan Makin Solo, rohaniwan agama Khonghucu itu menyatakan, siswa sekolah-sekolah tersebut tidak ada yang beragama Khonghucu. Bahkan para siswa yang seluruhnya anak-anak etnis Jawa tidak ada yang beragama Khonghucu.

Sementara itu, upacara suci sembahyangan "King Hoo Ping", menurut  Adjie Chandra, merupakan salah satu dari tiga ritual sembahyangan arwah. Sedangkan dua sembahyangan lain yang dilaksanakan setiap tahun, yaitu sembahyangan menjelang malam tahun baru Imlek dan sembahyangan Ching Bing  atau Sadranan.  

Rangkaian prosesi ritual sembahyangan King Hoo Ping, diawali dengan ibadah doa di altar yang ditempatkan di serambi depan lithang. Pelaksanaan upacara King Hoo Ping di Makin Surakarta, sambung Adjie Chandra, berbeda dengan di tempat lain, yaitu dengan menempatkan dua altar di halaman lithang yang di atasnya disajikan berbagai macam makanan dan buah-buahan.

"Makanan di kedua altar tersebut kita usahakan yang merupakan kegemaran para leluhur. Namun antara satu altar dengan lainnya disajikan makanan berbeda, yaitu satu altar khusus berupa makanan vegetarian karena ada leluhur yang semasa hidupnya tidak makan daging," jelasnya.

Upacara suci sembahyangan Khing Hoo Ping yang berlangsung khusyuk, di akhiri dengan pembakaran replika kapal kertas sebagai simbol kendaraan yang mengantarkan doa kepada Thie Kong atau Tuhan yang Maha Esa.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA