Blasius Subono: Gamelan Kini Tidak Lagi Kuna dan Monoton

Seni & Budaya

Rabu, 21 Agustus 2019 | 13:51 WIB

190821135526-blasi.jpg

Tok Suwarto

Komposer seni karawitan Jawa, Blasius Subono bersama tim kreatif Solo Gamelan Festival 2019, menjelaskan perkembangan dunia seni karawitan yang tidak lagi kuna karena bisa berirama rock

PARA seniman karawitan Jawa, termasuk para komposer gending-gending Jawa papan atas, akan berunjuk karya dengan berbagai karakter garapan di ajang Solo Gamelan Festival (SGF) 2019. Pagelaran festival selama dua hari, Jumat dan Sabtu (23-24/8/2019) tersebut, sebagai jawaban atas pandangan miring masyarakat yang menyebut seni karawitan Jawa hanya sebagai klangenan karena sudah kuna. 
"Masyarakat selama ini memang memandang gamelan terkesan kuna. Bahkan, banyak orang beranggapan seni karawitan monoton yang hanya untuk klangenan dan hiburan. Padahal, sejatinya gamelan bisa digarap secara kreatif untuk menghasilkan  karya seni karawitan yang dinamis dengan beragam karakter," ujar seniman tradisional Jawa dan komposer karawitan, Blasius Subono, kepada wartawan, Rabu (21/8/2019).
Dia menjelaskan  pagelaran SGF 2019 yang selain diikuti grup-grup seni karawitan dari lima wilayah kecamatan Kota Solo, juga menampilkan grup para komposer dengan karya-karya barunya. 
Blasius Subono yang mantan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menyatakan, seni karawitan yang terus berkembang sejak Pemkot Solo melengkapi setiap kantor kelurahan dengan gamelan, semakin mengukuhkan Kota Solo sebagai rumah gamelan dan menjadi kiblat seni karawitan Jawa. Di pagelaran SFG, masyarakat akan bisa menyaksikan berbagai karakter gending dengan membandingkan gamelan di tangan para pengrawit dengan gamelan di tangan komposer maupun yang dimainkan masyarakat. 
"Melakui festival gamelan ini, kita ingin mengubah pandangan oeang tentang gamelan. Karena, gamelan  bisa digunakan untuk mengiringi gending-gending syahdu yang mendayu-dayu, sampai yang berirama keras dalam musik rock," jelasnya. 
Dia menambahkan, gamelan merupakan ajang kreativitas bagi pengrawit untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan. Hal itu dia sebut sebagai tantangan berat bagi para seniman pengrawit maupun komposer. Tetapi diingatkannya, berbeda dengan di masa lampau saat gamelan dibatasi dengan pakem dan patet, sekarang gamelan bisa digunakan untuk apapun yang dikehendaki pengrawit. 
Dalam SGF 2019, para komposer dengan kekhasan masing-masing, semisal Dedek Wahyudi, Gunarto Gondrong, Darno Kartawi dan lain-lain akan menampilkan karya masing-masing maupun secara beraama-sama berkolaborsi. Penampilan mereka akan sangat istimewa, karena komposer Gunarto Gondrong, misalnya, yang  biasa menciptakan karya dengan instrumen elektrik dihadapkan dengan gamelan non-elektrik. 
Agung Kusumo Widakdo sebagai tim kreatif, menambahkan, keistimewaan SGF 2019 karena menampilkan penyaji-penyaji yang terdiri dari para pengrawit asli, pengrawit dari kalangan pejabat di lingkungan Pemkot Solo dan pengrawit yang sekaligus komposer karawitan. Penampilan yang beragam itu merupakan tantangan bagaimana masyarakat gamelan termasuk komposer bukan hanya menonton tapi juga sekaligus ikut main sebagai pengrawit. 

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA