Peringatan HUT Ke-44 SENA WANGI

Pentas Wayang Semalam Suntuk Ditonton Langsung Masyarakat Dunia di 26 Negara

Seni & Budaya

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 18:42 WIB

190817185137-penta.jpg

Eddie Karsito

DALANG Ki H. Manteb Soedarsono (mengenakan blangkon) didampingi Drs. Suparmin Sunjoyo, Ketua Umum Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI), Eny Sulistyowati SPd, SE, MM (Ketua Bidang Humas dan Kemitraan SENA WANGI), dan Ketua Pelaksana HUT Ke-44 SENA WANGI, Yatto HS, SH., MM, usai bincang santai dengan para wartawan sebelum pementasan wayang, yang berlangsung di Gedung Pewayangan Teater Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Jum’at malam (16/08/2019).

Menandai peringatan Hari Ulang Tahunnya yang ke-44 (12 Agustus 1975 – 2019), Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI) menggelar pertunjukan Wayang Kulit semalam suntuk. Pakeliran  wayang dengan lakon, ”Sri Sadana” tersebut berlangsung di Gedung Pewayangan Teater Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Jum’at malam (16/08/2019).

“Raden Sadana adalah simbol kehidupan, sosok yang memiliki watak murah hati, baik budi, sabar dan bijaksana. Bersama kakaknya, Dewi Sri, ia dikenal sebagai Dewa lambang kemakmuran hasil bumi” ujar Ki H. Manteb Soedarsono kepada wartawan sebelum tampil mendalang dalam pergelaran ini.

Didampingi Drs. Suparmin Sunjoyo, Ketua Umum Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI), Eny Sulistyowati SPd, SE, MM (Ketua Bidang Humas dan Kemitraan SENA WANGI), dan Ketua Pelaksana Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-44 SENA WANGI, Yatto HS, SH., MM, Ki Manteb menjelaskan,  tentang esensi makna yang tersirat dalam cerita ”Sri Sadana”

“Sadana sebagai Dewa hasil bumi diyakini mempunyai tugas memberi kemakmuran kepada masyarakat. Cerita ini sangat relevan dengan budidaya pangan dan kesuburan tanah Nusantara. Pentingnya perbaikan dan peningkatan perekonomian nasional melalui pangan,” lanjutnya.

Pergelaran wayang kali ini, sekaligus membuktikan bahwa kesenian Wayang tidak hanya digemari para orangtua, melainkan anak-anak muda. Bukti Wayang masih dicintai anak muda, malam itu ikut nonton para ’Penggemar Sejati Manteb Sudarsono (PSMS)’ yang berdatangan dari seluruh Indonesia.

Sejak belia mendalang, Ki manteb memang dekat dengan para kawula muda. Hobinya menonton film Kung Fu, terutama yang diperankan Bruce Lee dan Jackie Chan, Ki Manteb terapkan dalam keindahan sabet di setiap ia mendalang.  Ki Manteb pun membawa peralatan musik modern ke atas pentas, seperti Tambur, Biola, Terompet, ataupun Simbal, yang hingga kini menjadi tren musik (karawitan) pergelaran Wayang.

Hebatnya lagi pergelaran ini untuk pertama kalinya sebagai pertunjukan Wayang disiarkan secara life melalui video streaming yang ditonton langsung masyarakat dunia di 26 Negara. Kesenian wayang menjadi sebuah sajian lengkap bernilai mahal di balik keserhanaannya.

Layaknya pergeleran Wayang, di sela-sela berlangsungnya pertunjukan -- ’Limbukan’ dan ‘Goro’ -- selalu ada _ request langgam_ (tembang permintaan) dari penonton. Request langgam  pun tidak hanya menjadi sajian hiburan penuh warna, namun juga berperan membangun suasana. “Lumayan nanti kalau ada permintaan nanti ada honor tambahan dalam bentuk dollar,” ujar Ki Manteb berkelakar.

Wayang Menumbuhkan Kepekaan Nurani
Menurut Ketua Umum SENA WANGI, Drs. Suparmin Sunjoyo, momentum ulang tahun ini, dapat menjadi ingatan bagi para penggiat budaya untuk terus menampilkan entitasnya sebagai elemen humaniora yang mampu menumbuhkan kepekaan nurani.

Sebagai lembaga konservasi, preservasi, dan inovasi seni pewayangan, kata Suparmin, SENA WANGI telah melakukan berbagai langkah. “Karya kesenian setidaknya dapat menjadi mata rantai ikon peradaban bangsa yang santun, terhormat, dan bermartabat. Dalam skala mikro para pelaku seni dan budaya agaknya perlu sigap menangkap berbagai momen globalisasi,” katanya.

Kehadiran komunitas dan berbagai kantong budaya, ungkap Suparmin, menjadi penting dan urgen sebagai katalisator kebudayaan; penguat ketahanan dan identitas kebangsaan. “Sudah lama negeri kita dikenal sebagai bangsa yang kaya budaya. Keragaman budaya dengan corak multikultur-nya sudah menjadi brand mengagumkan. Pada titik inilah sebuah komunitas budaya yang sekaligus sebagai salah satu pemangku kebudayan bisa mengambil peran,” urainya.

Pada saat yang sama, Ketua Bidang Humas dan Kemitraan SENA WANGI, Eny Sulistyowati SPd, SE, MM menjelaskan, SENA WANGI telah berupaya mendekatkan seni Wayang kepada generasi muda dengan cara yang lebih progresif. Termasuk ikut mencegah korupsi dan menanggulangi korban narkoba melalui berbagai proses kreatif seni Wayang, yang melibatkan anak-anak muda.

Periode lima tahun berjalan, terang Eny, pengurus SENA WANGI telah melakukan berbagai kegiatan. Upaya tersebut diantaranya menjalin kerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), melakukan sosialisasi Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

“Sesuai tuntutan zaman, kesenian Wayang harus dikembangkan secara inklusif. Lebih terbuka terhadap nilai-nilai baru yang lebih mudah diterima masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai filosofis yang dibawanya. Masalah pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran narkoba misalnya, pesannya dapat disisipkan saat pertunjukan Wayang,” ujar Eny Sulistyowati.

Pengurus SENA WANGI, lanjut Eny, terus berupaya bagaimana mengenalkan kesenian Wayang di kalangan anak muda atau ’kids zaman now’, baik dari segi konten maupun konteksnya. “Budaya adiluhung ini dapat dikenal, diturunkan, dan diwariskan kepada masyarakat, terutama generasi muda,” ujarnya.

Pencapaian SENA WANGI lainnya, kata Eny, adalah pengakuan Negara dan penetapan tanggal 7 November sebagai ‘Hari Wayang Nasional’ yang telah ditanda tangani Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo.

“Pengakuan ini merupakan perjuangan panjang SENA WANGI. Dari mulai proses pengusulan (tahun 2001-2003), hingga penerimaan penghargaan UNESCO, Wayang Indonesia sebagai a asterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity di Paris tanggal 7 November 2013. Maka tanggal itulah yang kemudian kami usulkan sebagai Hari Wayang Nasional,” terang Eny.

Perayaan HUT Ke-44 SENA WANGI, lanjut Eny, menjadi momentum pihaknya untuk kembali meresume apa yang sudah dan belum dilakukan SENA WANGI. Antara lain, penetapan renstra (rencana strategis), jangka panjang pengembangan pewayangan Indonesia, tahun 2010 hingga tahun 2030.

SENA WANGI juga telah mendorong terbentuknya sejumlah organisasi pewayangan, antara lain; PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia), APA (ASEAN Puppetry Association) Indonesia, UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Indonesia, dan PEWANGI (Persatuan Wayang Orang Indonesia).

“SENA WANGI secara aktif mengikuti Festival Wayang Internasional, serta menerbitkan berbagai buku dan ensiklopedi Wayang Indonesia. Secara berkala SENAWANGI juga menyelenggarakan pergelaran; Teater Wayang Indonesia (TWI), dan Festival Wayang Indonesia (FWI) setiap tahun,” papar Eny.

Ikut menyaksikan pergelaran ini, seniman, budayawan, serta pejabat terkait, antara lain; Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Didik Suhardi, Ph.D, mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Turut hadir Dr. Ir. Pamuji Lestari, M.Sc (Asisten Deputi Warisan Budaya Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI), Komjen Pol. Drs. Heru Winarko, SH, (Kepala Badan Narkotika Nasional), Mayor Jenderal  TNI (Purn) Drs. Hendardji Sopeandji SH, (Ketua Umum Komite Seni Budaya Nusantara).

Hadir juga Drs. H. Solichin (Ketua Dewan Kebijakan SENA WANGI) dan Ketua Presidium APA (ASEAN Puppetry Association), H. Kondang Sutrisno, SE, (Ketua Umum PEPADI), Drs. TA. Dubes Samodra Sriwidjaja (Presiden UNIMA Indonesia), Ir. Luluk Sumiarso (Ketua Umum PEWANGI), Dr. Sri Teddy Rusdy, SH. M.Hum,  serta para tamu penting lainnya.

Pergelaran wayang kulit ini terselenggara atas kerjasama SENA WANGI, PEPADI, Gedung Pewayangan, dan Yayasan Putro Pendowo

Editor: boedi azwar

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA