Rita Tila Menjadi Pembeda pada Pementasan Seni Degung di Taman Budaya

Seni & Budaya

Selasa, 13 Agustus 2019 | 19:50 WIB

190813200501-rita-.jpg

Kiki Kurnia

PENAMPILAN Rita Tila menjadi klimaks pergelaran "Degung Lawas Gumalindeng Mapakan Zaman Bihari Ka Kiwari" di Teater Tertutup Taman Budaya, UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Selasa (13/8/2019).

Penyanyi muda yang memiliki suara dan gaya yang khas ini mampu memberikan hiburan tersendiri pada para penonton yang sebagian besar anak-anak pelajar SMP dan SMA yang sudah terlihat bosan disuguhi musik degung.

Diiringi degung modern, Rita Tila membawakan dua lagu, yakni Hariring Bandung dan Goyang Karawang menghadirkan pementasan "Degung Lawas Gumalindeng Mapakan Zaman Bihari Ka Kiwari" yang berbeda yang diringi para nayaga degung dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Dengan gaya menyanyi mirip seorang diva ternama, Rita Tila pun mampu mengajak para penonton untuk larut dan ikut menyanyi Hariring Bandung.

Apalagi saat menyanyikan Goyang Karawang, Rita pun bergoyang dengan enaknya diikuti para penari latar dari Cantika Studio Bandung, sehingga pementasan seni degung pun menjadi hidup. 

Namun sayang, penampilan Rita Tila tersebut disimpan dipenghujung pergelaran sehingga suasana hidup pergelaran seni degung hanya sejenak. Dan penonton pun bubar sesaat Rita Tila mengakhiri pementasannya.

Sebelumnya tampil salah satu juru tembang kenamaan Kota Bandung yang bisa disebut maestro juru kawih degung setelah masa Euis Komariah, Ida Widyawati dan seorang penembang muda Rosyanti ikut ambil bagian melantunkan tembang pilihan.

Upaya menghidupkan pergelaran "Degung Lawas Gumalindeng Mapakan Zaman Bihari Ka Kiwari" pun dilakukan dengan menampilkan tari Tayub yang dibawakan Yadi Yacobs. Tayub sebuah tarian khas gegeden dari Kabupaten Sumedang dan Cirebon. Ini yang membedakan pergelaran seni degung yang disuguhkan LS Ganitri bekerjasama dengan UPTD Pengelolaan Kebudayaan Jawa Barat.

Ada yang menarik dari pementasan "Degung Lawas Gumalindeng Mapakan Zaman Bihari Ka Kiwari" dengan hadirnya sejumlah seniman Amerika. Dibawah asuhan Kang Burhan, para seniman dari Amerika Serikat ini mampu membawakan sejumlah lagu degung klasik tanpa cela sedikit pun. Tentunya kehadiran seniman dari Amerika ini sedikit memberi tamparan bagi kalangan generasi muda di Jawa Barat.

Beruntung pada pementasan "Degung Lawas Gumalindeng Mapakan Zaman Bihari Ka Kiwari" dihadirkan pula para seniman muda Kota Bandung yang berasal dari SMA dan SMK. Mereka telah berlatih degung berbulan-bulan di gedung PPK (dulu YPK) dalam program pewarisan hasil kerjasama UPTD Pengelolaan Kebudayaan Jawa Barat dengan LS Ganitri Bandung. 

Pergelaran "Degung Lawas Gumalindeng Mapakan Zaman Bihari Ka Kiwari" diawali dengan lagu Cacandran, sebuah lagu wajib dalam pementasan seni degung. Lagu tersebut dibawakan secara apik oleh tiga generasi yang tampil bareng di atas panggung dengan juru kawih, Rosyanti. Setelah itu, setiap grup tampil secara bergiliran membawakan sejumlah lagu degung klasik seperti Mangari, Pajajaran Catrik, Kulawu, Degung Panggung dan sebagainya.

Anggota Komisi X DPR RI, Popong Otje Djundjunan mengapresiasi pementasan "Degung Lawas Gumalindeng Mapakan Zaman Bihari Ka Kiwari" tersebut. Perempuan yang akrab disapa Ceu Popong ini menyebutkan, pementasan seni degung ini sangat penting, apalagi untuk kalangan generasi muda (pelajar) agar lebih mengenal seni budaya Jabar.

"Ini (pergelaran seni degung) sangat penting. Seperti diketahui mereka sangat jarang, bahkan belum pernah melihat dan mendengar seni degung secara langsung," katanya.

Ceu Popong pun tidak mempermasalahkan pada saat pementasan hampir sebagian besar kalangan pelajar keluar gedung pertunjukan walau baru dua lagi. "Ini dikarenakan orangtua atau para guru kurang mengenalkan seni degung pada mereka (para pelajar), sehingga mereka merasa bosan," katanya.

Sementara Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Jawa Barat, Erick Henriana mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Dedi Taufik menyebutkan, pementasan seni degung bertajuk "Degung Lawas Gumalindeng Mapakan Zaman Bihari Ka Kiwari" ini sengaja sebagai implementasi hasil pewarisan yang dilakukan UPTD Pengelolaan Kebudayaan Jawa Barat bekerjasama dengan LS Ganitri pimpinan Heri Wijaya.

"Para pelajar dan mahasiswa yang ikut program pewarisan seni degung ini perlu pementasan sebagai salah satu bahan evaluasi hasil latihan selama ini," tandasnya.

Erick pun mengajak para pelajar dan generasi muda lainnya untuk ikut belajar seni tradisional Jawa Barat, khususnya seni degung di Gedung PPK.

Hadir pada kesempatan itu sejumlah seniman dan budayawan Jabar, seperi Uu Rukmana, Eka Gandara, Ki Daus, Abah Awan, dan sebagainya. Semua penonton yang hadir mengapresiasi pementasan seni degung klasik sudah hampir kurang dilirik oleh masyarakat, terutama kalangan generasi muda sekarang ini.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA